Worshop Penguatan Ekosistem Gerakan Sekolah Menyenangkan SMK Pusat Keunggulan

POSTKOTAPONTIANAK.COM

( Peserta kegiatan/ postkotapontianak.com/ usmadi ).

MEMPAWAH : SMKN1Mempawah Timur Tandang ke SMKN1 MEMPAWAH Hilir Worshop Penguatan Ekosistem Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) SMK Pusat Keunggulan Jumat, 26/112021.

Meyakini transformasi pendidikan datang dari gerakan akar rumput dalam penguatan ekosistem yang menumbuhkan semangat gotong royong dan saling berbagi.

Inilah yang mendorong GSM menggelar workshop SMKN1 mempawah Timur dan Hilir dalam rangka akselerasi transformasi pendidikan.

Workshop ini digelar di Aula SMKN 1 Mempawah hilir secara bersama sama dimana sama sama ditunjuk sebagai sekolah pusat keunggulan dilaksanakan dari pukul 08.00 Pagi hingga sore hari

Pemateri didatangkan langsung dari SMKN6 Semarang bapak Diyanto,S.Pd, M.Pd dalam peyajiannya beliau meyampaikan materi dan bimbingan sekolah menyenangkan.

Orangtua akan menyekolahkan anaknya melihat pada wajah sekolah, wajah sekolah dapat dilihat dari penampilan, pelayanan, pretasi ( 3 P ). Salah satu mewujudkan 3 P dengan adanya Gerakaan Sekolah Menyenangkan (GSM). GSM dicanangkan oleh Muhammad Nur Rizal, Ph.d dan Novi Poespita Candra.

Gerakan Sekolah Menyenangkan merupakan gerakan akar rumput yang mempromosikan dan membangun kesadaran guru, kepala sekolah, orang tua, dan pemangku kebijakan pendidikan untuk membangun ekosistem sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar ilmu pengetahuan dan keterampilan hidup agar anak-anak menjadi pembelajar yang adaptif, mandiri, tangkas, dan cepat menghadapi perubahan dunia yang sangat cepat dan tak menentu.

( postkotapontianak.com/usmadi ).

Dalam mendorong transformasi dunia pendidikan Indonesia, GSM berangkat dari Perubahan pola pikir pendidikan menuju paradigma Revolusi Industri 4.0. Titik awal ini meliputi perubahan pola pikir guru, kepala sekolah, orang tua, dan pemangku kebijakan untuk membangun ekosistem pendidikan yang positif dan berfokus pada pengembangan karakter siswa.

Dengan demikian, siswa akan menginternalisasi nilai-nilai kemanusiaan sebagai bekal menghadapi masa depan di era Revolusi Industri 4.0.

Perubahan ekosistem sekolah, baik lingkungan fisik maupun sosial, merupakan aspek fundamental yang akan berdampak pada motivasi belajar dan perilaku siswa. Keterlibatan siswa, guru, orang tua, dan seluruh warga sekolah menjadi awal kolaborasi yang harmonis untuk memulai perubahan. Nilai karater gotong royong perlu diterapkan untk menumbuhkan ekosistim perubahan Lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah identic dengan penampilan sekolah, mulai dari Gerbang masuk, Gedung sekolah, dan sarana prasarana lainnya, termasuk kebersihan, keamanan, keasrian, penataan sekolah.

Penampilan sekolah mencerminkan wajah sekolah. Lingkungan belajar merupakan salah satu satu indicator dalam survey Lingkungan belajar yang terkait dengan Asesmen Nasional (AN) yang akan dijawab oleh siswa saat ujian Asesmen Nasional
Pembelajaran abad 21 yang selalu bermula dari masalah konkret, lalu dicari solusinya melalui projek, asesmen formatif dan tentunya berpusat pada siswa.

Skema ini bertujuan memberikan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masa depan. Kemerdekaan dalam kegiatan belajar-mengajar harus diberikan pada siswa, Karena tidak lagi terpaku untuk menuntaskan segala tuntutan materi dari kurikulum, tetapi lebih mengedepankan dampak langsung bagi peserta didik. Lebih mengedepankan bagaimana agar apa yang saya berikan benar-benar berguna bagi mereka. Pada awal pembelajaran dimulai tahun pelajaran baru para guru melaksanakan asesmen diagnostik, sehingga dapat mengetahui Kemampuan siswa yang berbeda dan pembelajaran diberikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.

Situasi masa pandemi covid 19 ini. Guru menciptakan pembelajaran menyenangkan selama siswa belajar jarak jauh. Salah satu upaya saya adalah mencoba membuat konten video kreatif sebagai bahan pengajaran melalui kanal youtube. Dalam hal ini, guru berusaha menjadi lebih persuasif demi menarik minat siswa, juga demi memfasilitasi siswa agar lebih mudah memahami materi yang dibahas, bukan tentang membuat konten pembelajaran, namun terkait bagaimana membuat aktivitas belajar yang menyenangkan, relevan dengan kehidupan nyata, dan bermakna, belajar yang menarik, tidak membosankan, dan tidak menakutkan mendorong saya menjadi lebih berani untuk berpikir kreatif. Termasuk untuk tidak lagi terpaku pada pemenuhan administrasi pembelajaran. Tetapi lebih fokus pada dampak positif yang harus diberikan kepada peserta didik.

 

Keterlibatan antara sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk pendekatan pendidikan yang lebih menyeluruh. Pendekatan ini menciptakan sistem pendidikan secara berkelanjutan yang akan memfasilitasi potensi siswa untuk terus berkembang di era disrupsi.

Pendidikan karakter merupakan salah satu hal yang sangat diperhatikan oleh GSM melalui pembelajaran keterampilan sosial-emosional. Paradigma pendidikan ini mengembalikan ruh pendidikan Indonesia agar tidak hanya berfokus pada nilai, tetapi juga pada pengembangan karakter baik dan budi luhur siswa. Pembelajaran tidak hanya tentang menyampaikan materi saja, tetapi kita juga perlu menjadikan mata pelajaran sebagai sarana menumbuhkan karakter-karakter siswa untuk masa depan yang lebih baik.

Sekolah menyenangkan sangat erat kaitannya dengan Asesmen Nasional (AN), komponen asesmen Nasional terdiri dari Asesmen Kopetensi Minimum (AKM), Survey karakter, dan survey Lingkungan belajar.

Lingkungan belajar terdiri dari 2 kata yaitu lingkungan dan belajar. Lingkungan adalah daerah/Kawasan, Kawasan identik dengan tempat, sedangkan belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.

Jadi Lingkungan belajar adalah suatu tempat perubahan perilaku melalui Pendidikan formal dan non formal.
Ada lima aspek yang diukur dalam survei lingkungan belajar ini. Lima komponen tersebut adalah :
· Iklim keamanan sekolah (keamanan dan kesejahteraan siswa, sikap dan keyakinan guru, kebijakan dan program sekolah)
· Iklim kebhinekaan sekolah (praktik multikultural di kelas, sikap dan keyakinan guru / kepala sekolah (kepsek), kebijakan dan program sekolah)
· Indeks sosial ekonomi (pendidikan orang tua, profesi orang tua, fasilitas belajar di rumah)
· Kualitas pembelajaran (manajemen kelas, dukungan afektif, aktifasi kognitif)
· Pengembangan guru (refleksi dan perbaikan pembelajaran, dukungan untuk refleksi guru)

Berbeda dari program pelatihan lainnya, GSM ditangkap oleh peserta sebagai gerakan yang dapat memantik dorongan internal dalam melakukan perubahan.

Menurut pengakuan M.Zamroni, S.Pd, salah satu peserta dari SMKN 1 Mempawah Timur, menyebutkan materi GSM adalah the way of thinking yang harus merubah para pengajar, dan menjadi panduan melaksanakan kegiatan di sekolah.
“Saya baru paham bahwa GSM itu tidak hanya untuk anak-anak dan proses pembelajaran, tetapi untuk seluruh proses penyelenggaraan di sekolah” ujarnya.

Peserta lain, Irma Triani, SP menyatakan pelatihan ini menyadarkannya tentang arti guru yang sebenarnya.
Setelah bertahun tahun berkecimpung menjadi guru di SMK, ia tersadar bahwa hukuman yang menggunakan kekerasan justru meninggalkan kesan jelek dari anak terhadap pendidikan dan sekolah.

“Mestinya kita memanusiakan manusia dan menganggap anak itu manusia, sekolah itu taman, kita harus tau bagaimana cara memanusiakan manusia, dan sekolah tempat yang meyenangkan, sehingga anak anak betah di sekolah,”./*

USMADI


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.