SIDANG PERDANA KASUS 39 POHON GANJA

“Keluarga Berharap Fidelis Bebas”

POSTKOTAPONTIANAK.COM

( Suasana sidang./ firmus )

( SANGGAU ) – Sidang perdana kasus kepemilikan 39 batang ganja, Fidelis Ari Sudewarto digelar di Pengadilan Negeri Sanggau, Selasa (2/05/17) sekitar pukul 11.00 Wib.

Sidang dipimpin langsung Ketua Pengadilan Negeri Sanggau, Ahmad Irfir Rochman, SH.MH, didampingi dua hakim masing-masing John Malvino Seda, SH dan Maulana Abdillah, SH.

Ruang sidang penuh sesak pengunjung yang ingin menyaksikan proses persidangan perdana Fidelis Ari, dan berharap para penegak hukum adil dan bijaksana.

Jaksa penuntut umum dipimpin langsung Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Sanggau Erhan Lidiansyah di dampingi Shanty Elda Mayasari.

Sementara Penasehat Hukum Ari Fidelis, adalah Marcelina Lin.

Fidelis Ari datang sekitar pukul 10.45 Wib dengan pengawalan ketat petugas menggunakan kendaraan roda empat milik Kejaksaan Negeri Sanggau.

Dakwaannya, Jaksa menuntut Fidelis dengan tiga pasal alternatif, pertama, pasal 113 ayat 2, dakwaan kedua yaitu pasal 111 ayat 2 dan dakwaan alternatif ketiga pasal 116 ayat 1 dengan ancaman 5 tahun hingga 20 tahun penjara.

“Dakwaan berdasarkan fakta, dimana ganja tersebut digunakan terdakwa untuk mengobati istrinya, kemudian dari cara dia mengolahnya yang kita kategorikan terdakwa memproduksi menjadi ekstrak yang sebelumnya dia dapatkan dari membeli kepada orang lain,” kata Erhan, Jaksa Penuntut Umum kepada media, usai sidang.

Menanggapi dakwaan Jaksa Penuntut Umum, Penasehat Hukum terdakwa, Marcelinaa Lin mengaku terkejut. Pasalnya, ia mengaku tidak mengetahui ada perubahan dakwaan, termasuk dengan tiga dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut.

Pada dakwaan pertama, kliennya, lanjut Marcelina didakwa memproduksi, mengekspor dan mengimport. Padahal, kliennya tidak pernah melakukan hal itu, Ia hanya menggunakan ganja untuk pengobatan istrinya. Untuk itu, akan berusaha semaksimal mungkin memperjuangkan kliennya dari tuntutan Jaksa karena Ia yakin kliennya terpaksa melakukan pelanggaran hukum karena terpaksa karena ingin menyembuhkan istrinya yang sakit.

“Dakwaannya klien kami ini melakukan tindak pidana yang berat, padahal tidak seperti itu. Kalau dikatakan eksport import kan pastilah perdagangan antar negara,” katanya.

Penasehat Hukum terdakwa merasa keberatan atas dakwaan jaksa, oleh sebab itu, keberatan dakwaan (esepsi) akan disampaikan dalam persidangan minggu depan, Selasa tanggal 9 Mei 2017.

Sementara itu, Yohana, kakak terdakwa yang menyaksikan langsung persidangan, ditemui wartawan berharap agar hakim bisa memberikan kebebasan untuk adiknya. Ia menyampaikan saat ini anaknya sangat merindukan kehadiran Fidelis. Apalagi saat ini anak tertuanya sedang menghadapai Ujian Nasional di sekolah.

“Harapan kami Fidelis bisa segera bebas,” harap Yohana. (Firmus)


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *