Rupiah Melemah  Akibat Pandemic Corona Yang Tak Kunjung Usai

( Oleh : Merry, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Jurusan Akutansi )

( Merry, Mahasiswa Semester IV Jurusan Akutansi Universitas Muhammadiyah Malang.

SAAT ini Indonesia tengah dihadapkan dengan wabah yang dijuluki dengan sebutan covid-19 atau yang lebih marak disebut virus corona. wabah virus ini telah menyebar diberbagai Negara. Virus ini berkembang sejak akhir Desember 2019, virus ini telah menyebarkan penyakit yang begitu mematikan virus ini juga diyakini berasal dari Pasar Seafood Huanan di Wuhan, China yang telah menelan kurang lebih 2.300 korban jiwa. Virus ini bisa menginfeksi sistem pernapasan sehingga mampu  menyerang siapa saja baik balita, anak-anak, bahkan juga orang dewasa karena virus ini tidak pandang bulu.

Virus ini sangat cepat dalam penularanya dan hingga saat ini belum ada vaksin yang mampu menghentikan penyebarannya, sehingga berdampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi seluruh dunia khususnya di Indonesia. hingga saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan awal pekan ini. Pelemahan masih terkait dengan dampak ekonomi dari wabah virus corona.

Mayoritas mata uang Asia pada perdagangan sore ini juga melemah terhadap dolar AS. Mengutip Bloomberg, yen Jepang turun 0,32%, dolar Singapura 0,29%, dolar Taiwan 0,14%, won Korea Selatan 0,93%, peso Filipina 0,3%, rupee India 0,56%, yuan Tiongkok 0,12%, dan ringgit Malaysia 0,84%. Hanya Baht Thailand yang melemah 0,11%. Sementara dolar Hong Kong tak mengalami perubahan signifikan sore ini. Berdasarkan Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, rupiah berada di posisi Rp 15.787 per dolar AS, turun 80 poin.

Kekhawatiran pasar muncul dari anjloknya data penjualan ritel di AS yang mencapai minus 8,7 persen pada Maret 2020.  “Berbagai lembaga Internasional, seperti IMF, Bank Dunia, maupun OECD sudah memproyeksikan ekonomi global tumbuh negatif,” kata Ibrahim, Selain faktor eksternal,  menurut dia, pasar juga masih khawatir dengan proyeksi ekonomi domestik yang diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Sri Mulyani kemarin lusa menyebut ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh negatif akibat wabah corona.  Meski demikian, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak menguat tipis pada perdagangan besok dengan rentang Rp 15.550 hingga Rp 15.750 per dolar AS.

“Untuk skenario terberat kurs Rp 17.500 per dollar AS atau yang sangat berat Rp 20.000 per dollar AS itu adalah akan kita antisipasi supaya tidak terjadi. Dalam hal ini Gubernur BI menyatakan, tingkat rupiah saat ini sudah memadai. Oleh karena itu, BI terus berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Perry mengatakan, langkah-langkah antisipasi yang dilakukan BI selama ini sudah mampu menekan skenario terburuk nilai tukar rupiah agar tak menyentuh angka Rp 17.000 per dollar AS. Tindakan tersebut juga dilakukan oleh bank sentral di seluruh dunia akibat tekanan pandemik virus corona. Salah satunya, BI telah menurunkan suku bunga sebanyak dua kali di tahun ini. “Seluruh bank sentral di dunia melakukan penurunan suku bunga, melakukan injeksitas, dan tentu saja mengurangi beban terhadap sektor ekonomi”.

Di karenakan peran BI sangatlah penting agar tidak terjadinya kelemahan dalam rupiah karena akan berpengarus dalam perekonomian indonesia apalagi saat ini perekonomian sedang tidak baik-baik saja dikarenakan wabah virus corona,  Kebijakan fiskal dan realisasi anggaran harus berfokus pada penanganan wabah Covid-19 karena kondisi ini yang berdampak pada ekonomi. Selain itu perlu ada stimulus fiskal untuk menekan dampak ekonomi./* Demikian relis yang dikirim ke redaksi “PostKotaPontianak.com”


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *