Robo-Robo Untuk menyatukan Persatuan Tanpa Memandang Latar Belakang

MEMPAWAH – Pangeran Ratu Dr Mardhan Adijaya Kesuma Ibrahim mengatakan kegiatan robo-robo tahun ini dijadikan ajang untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa awal mula nama Mempawah itu ditandai dengan datangnya Opu Daeng Manambon ke Kuala Mempawah.

“Kita tidak boleh melupakan bahwa awal jadinya mempawah, bukan hanya pada pergantian nama dari kabupaten Pontianak menjadi Kabupaten mempawah yang berkaitan dengan robo robo,” ujarnya

Ia mengatakan robo-robo merupakan di mempawah dan sekitarnya diperingati pada hari rabu terakhir di bulan syaffar, dengan memperingati kedatangan Opu Daeng Manambon dari kerajaan Matan, Ketapang ke Kerajaan Mempawah. Sesampai di Muara sungai Kuala Mempawah rombonhan disambut sukacita masyarakat mempawah dan dari rombongan raja melemparkan ketupat yang sebagai bekal diperjalanan kepada masyarakat yang berada ditepian sungai yang banyak ditumbuhi dengan pohon “Mempelam Pauh”‘ sejenis pohon asam dan sampai sekaran dijadikan nama kota MEMPAWAH. Dengah hal tersebut adalah tanda dari tentang merayakan kebersamaan.

Banyak makna terkandung untuk menyatukan persatuan dengan di rangkulnya seluruh tokoh masyarakat tanpa memandang latar belakang suku dan agama.

“Selain itu merupakan sebagai refleksi diri untuk berkepribadian lebih baik. Seperti tradisi buang-buang terdapat makna untuk membuang sifat jelek, prasangka buruk, dan menjauhkan kita dari marabahaya yang sebelumnya kita sadari” ujarnya

Pada Selasa malam (14/11/2017) digelar acara TOANA yang berarti untuk mengumpulkan semua etnis masyarakat baik dari hulu dan pesisir, duduk dalam satu kesatuan, saling bertukar pikiran untuk membangun kekeluargaan agar tetap kokoh terjaga dari hambatan dan gangguan yang datang baik dari dalam maupun luar.

Puncak Kegiatan robo-robo dilaksanakan pada hari rabu (15/12/17), adalah pelaksanaan acara ritual buang-buang yang dilakukan langsung oleh Penembahan İstana Keraton Amantubillah, Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kusuma İbrahim bersama Permaisuri adalah bentuk kecintaan kepada pejuang yang merupakan cikal bakal berdirinya kota mempawah. Kegiatan ini nuansa kebudayaan yang dari tahun dinilai istimewa oleh Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma İbrahim.(ar1 LN/rsl)  // Foto : ist //.


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *