Ratusan Mahasiswa Padati Halaman Kantor DPRD Ketapang

KETAPANG – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Ketapang (AMK) menggelar aksi unjuk rasa ke gedung DPRD Ketapang, Kamis (26/9). Dalam aksi tersebut sedikitnya lima poin tuntutan yang disampaikan mahasiswa ke DPRD Ketapang.

Dari pantauan, sedikitnya 500 an mahasiswa melakukan long march dari dari Halaman Masjid Agung Al-Ikhlas menuju Gedung DPRD Ketapang. Sekitar pukul 09.50 WIB ratusan mahasiswa tiba dengan membawa spanduk dengan berbagai tulisan dan kritikan.

Suasana sempat menegang ketika ratusan mahasiswa mengetahui tidak ada satupun anggota DPRD yang berada di gedung DPRD. Bahkan diakui oleh Sekwan DPRD Ketapang kalau seluruh anggota DPRD sedang melakukan kunjungan kerja di beberapa daerah di Indonesia.

“Janji manis di awal namun pahit diakhir, dewan banyak merampot,” teriak mahasiswa yang kesal.

Sekwan DPRD Ketapang, Maryadi Asmu’ie mengatakan kalau untuk melakukan audiensi harusnya mahasiswa menyampaikan surat pemberitahuan beberapa hari sebelumnya sesuai dengan prorap yang ada di DPRD.

“Saya tidak dalam kontek menjawab tuntutan yang disampaikan, saya hanya menyampaikan anggota DPRD Ketapang sedang tidak ada ditempat mereka sedang melaksanakan rapat kerja dibeberapa tempat termasuk tata tertib dan kode etik yang dinilai penting dalam pelaksanaan tugas mereka,” ungkapnya dihadapan ratusan mahasiswa.

Ia mengaku kalau sejak 25 September seluruh anggota DPRD keluar daerah untuk melakukan raker, namun sebagian mahasiswa menegaskan kalau mereka tahu ada beberapa anggota DPRD yang tidak pergi dan ada di Ketapang.

Selang beberapa lama, Anggota DPRD Ketapang, Jamhuri Amir yang mengetahui adanya aksi damai langsung datang ke DPRD Ketapang untuk mendengarkan langsung tuntutan ratusan mahasiswa.

“Memang benar ada raker tapi saya tidak pergi karena sebelumnya berada di tumbang titi, namun saya dengar ada aksi mahasiswa makanya saya langsung datang untuk mendengar tuntutan para mahasiswa,” katanya.

Ia mengaku, setuju dengan poin-poin tuntutan yang dituntut oleh ratusan mahasiswa termasuk persoalan beberapa pasal yang dinilai kontroversial di RUU KUHP dan beberapa tuntutan lainnya.

“Aspirasi yang disampaikan mahasiswa saya sangat setuju, aspirasi akan kami bawa dan coba kami teruskan, masalah nanti dikabulkan atau tidak kita akan upayakan dan ikhtiarkan dahulu,” tegasnya.

Sementara itu, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Hengki Setiawan mengatakan kalau pihaknya kecewa dengan Anggota DPRD Ketapang yang hampir semuanya meninggal Ketapang lantaran melakukan rapat kerja mengenai urusan tatib dan kode etik. Padahal saat ini masyarakat Ketapang sedang butuh suara-suara mereka untuk mengatasi dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang ada di Ketapang.

“Kita sudah tahu anggota DPRD tidak ada ditempat, tapi tetap lakukan aksi untuk menyadarkan mereka berpikir hal prioritas, makanya aksi salat jenazah sebagai bentuk kekecewaan kita selaku mahasiswa,” tegasnya.

Ia berharap, anggota DPRD supaya bisa mendengarkan keluhan masyarakat, yang jelas mereka dipilih untuk menyampaikan aspirasi masyarakat, untuk itu jika ada DPRD tidak berkomitmen menjalankan tugas-tugasnya untuk mundur.

“Silahkan mundur dari jabatannya kalau tidak berani komitmen menjalankan tugas untuk kepentingan masyarakat,” mintanya.

Hengki menyebutkan, ada lima point tuntutan yang disampaikan mahasiswa. Diantaranya
meminta DPRD Ketapang untuk mendesak DPR RI agar mengkaji ulang UU KPK melalui Mahkamah Konstitusi.

Kemudian, mendesak DPR RI agar melakukan peninjauan kembali terhadap pasal-pasal RKUHP yang dianggap tidak berpihak pada rakyat.

Sementara terhadap persoalan daerah, Pemerintah Ketapang diminta memberikan sanksi dan mencabut izin perusahaan yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.

“Kita mendesak pemerintah bersikap tegas kepada perusahaan yang lahannya terbakar untuk tidak melakukan aktivitas apapun dilahan itu,” tegasnya.

“Terakhir, kami minta pemda menyediakan pelayanan kesehatan secara gratis, khususnya kepada penderita ISPA akibat asap karhutla,” tuntasnya.

Selanjutnya, kelima point tuntutan yang tertulis diselembar kertas diserahkan kepada satu-satunya Anggota DPRD Ketapang yang menemui mahasiswa, Jamhuri Amir SH untuk ditandatangani sebagai bentuk peryataan mengakomodir tuntutan mahasiswa dan turut ditandatangani Asisten III Pemda Ketapang, Heronimus Tanam yang hadir mendengarkan aspirasi mahasiswa.

Usai pelaksanaan, aksi ratusan mahasiswa kemudian melakukan pemungutan sampah bekas minuman mereka sebagai bentuk ketertiban dan kebersihan selama aksi dilakukan. (oes)


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *