Protes Sarang Walet Nyaris Ricuh

Warga RT 03 dan 04 Desa Rawak Hulu sempat emosional menyusul komplain mereka soal keberadaan penangkaran walet di tengah-tengah pemukiman yang dinilai mengganggu kenyamanan aktivitas sehari-hari. Beruntung aksi tak berujung anarkis berkat kesigapan petugas keamanan.

Warga protes keberadaan penangkaran walet di tengag pemukiman./mus
Warga protes keberadaan penangkaran walet di tengag pemukiman./mus

POSTKOTAPONTIANAK.COM ! SEKADAU-Suasana Pasar Rawak mendadak gaduh. Puluhan orang memadati jalanan, diantara mereka ada yang mencak-mencak dan berbicara dengan nada tinggi,Jum’at ( 5/6/2015).

Kejadian sekitar pukul 10.00 WIB itu menyusul aksi protes warga RT 03 dan RT 04 Desa Rawak Hulu Sekadau, atas beroperasinya penangkaran burung walet di tengah-tengah pemukiman mereka.

Penangkaran walet tersebut dianggap warga mengganggu kenyamanan lingkungan. Sebabnya, warga setempat menuding kotoran walet dan suara musik membuat bising sehingga aktivitas istirahat warga jadi terganggu. Disisi lain, pihak pengelola sarang walet meyakini usaha mereka tidak mengganggu kenyamanan lingkungan warga.

Penangkaran walet milik Aleng, warga RT 02 Rawak Hulu itu dibangun di lantai III bangunan ruko miliknya yang berada di lingkungan RT 03. Bangunan berukuran lebih kurang 3 x 3 meter itu baru didirikan lebih kurang 3 pekan terakhir.

Sebelum ribut, awalnya aksi protes warga dimediasi oleh pemerintah Desa Rawak Hulu bersama Polsek Sekadau Hulu dan Koramil. Perwakilan warga dan pemilik usaha sarang walet dipertemukan di aula pertemuan kantor Desa Rawak Hulu, sekitar pukul 09.00 WIB.

Namun, proses mediasi tak berlangsung mulus karena warga ngotot mendesak agar bangunan penangkaran walet dibongkar. Setelahnya, warga langsung bergegas menuju lokasi penangkaran walet di RT 03 komplek pasar Rawak.

Setibanya di lokasi, warga mulai emosional. Bahkan, Kepala Desa Rawak Hulu yang menyusul datang ke lokasi pun nyaris jadi korban amukan warga. Beruntung aparat kepolisian dan TNI siaga mengantisipasi aksi anarkis.

Dam, salah satu warga mengaku mereka sudah lelah karena proses mediasi yang telah beberapa kali ditempuh tak menuai hasil.

Menurut Dam, setidaknya sudah tiga kali warga mengajukan protes dan meminta agar penangkaran walet dihentikan.

“Yang pertama kami minta baik-baik, begitu juga yang kedua. Ini yang ketiga dimediasi Desa juga tuntutan kami tidak dipenuhi. Mereka minta waktu satu minggu lagi. Mau sampai kapan lingkungan kami terganggu,” ujarnya dengan nada emosional.

Masih lanjut Dam, yang membuat jengkel warga adalah sikap pemilik sarang walet yang terkesan dingin menanggapi komplain warga. “Kalau dari awal mau ditutup kan tidak perlu ribut-ribut begini,” cetus Dam.

Namun, situasi panas tak berlangsung lama. Warga yang sebelumnya sempat “panas” berangsur-angsur mereda setelah Danramil Sekadau Hulu mengabarkan jika pemilik penangkaran walet bersedia menutup usahanya untuk sementara waktu sambil menunggu proses mediasi selanjutnya yang belum ditentukan waktunya. Sekira pukul 11.00 WIB, situasi mulai dingin. Sebagian warga pun pulang ke rumah masing-masing./mus


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *