PENISTA AGAMA DIMEDSOS DICIDUK OLEH TIM KHUSUS POLRES MEMPAWAH

Mempawah – Publik Kabupaten Mempawah akhirnya bisa sedikit bernafas lega, karena Jhonny Handoko, pelaku dugaan penistaan agama di media sosial, berhasil diciduk oleh tim khusus Polres Mempawah, Jumat (22/06/2018) siang, di Kabupaten Muara Bungo Provinsi Jambi.

Guna memberikan keterangan lebih lanjut terkait kronologi penangkapan serta progres dari kasus yang sempat membuat heboh dan ketegangan di Kabupaten Mempawah ini, pihak Polres pun berinisiatif menggelar jumpa pers, pada Minggu (24/06/2018) siang, di ruang kerja Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Mempawah.

“Pertama, yang pasti orangnya ada ini, tidak fiktif ya,” jelas Kasat Reskrim Polres Mempawah, AKP Denny Satria. Dalam kesempatan itu, Polres juga turut menghadirkan Jhonny Handoko, pria kelahiran Kabupaten Muara Bungo, 34 tahun lalu.

Terkait kronologi penangkapan, Denny mengakui, pencarian Jhonny Handoko awalnya berjalan cukup alot. Butuh waktu seminggu untuk pihak kepolisian sampai menemukan koordinat pasti keberadaan Jhonny di Jambi. Namun melalui koordinasi intensif dengan Dit Reskrimsus Polda Kalbar serta kepolisian wilayah setempat, Jhonny pun berhasil ditemukan.

“Tim khusus dari kita berjumlah lima orang, dengan dibantu dengan petugas dari Polres Muara Bungo, dari sanalah kita mengetahui titik koordinat pelaku, dan akhirnya kita mendatangi lokasi dimana yang bersangkutan berada,” katanya.

Kasat Reskrim Polres Mempawah, AKP Denny Satria saat memberi keterangan pers terkait kronologis penangkapan Jhonny Handoko di Jambi.
Denny menyatakan, Jhonny diciduk saat sedang bekerja, di sebuah toko sparepart (onderdil) genset di Muara Bungo. Saat dilakukan penangkapan, tersangka kata Denny tidak melakukan perlawanan, selain hanya reaksi kaget yang terlihat di wajahnya.

“Tersangka kooperatif. Menurut saja saat dibawa. Penangkapannya siang, sehabis (sholat) Jumat, langsung kita bawa ke Polres Muara Bungo, kemudian kita bawa ke sini. Sampai di Mempawah Hari Sabtu (23/06/2018).

Ironisnya, sejauh pemeriksaan awal yang dilakukan oleh penyidik Polres Mempawah, adapun motif pelaku memposting statement yang diduga menjurus pada unsur tindak kriminal penistaan agama tersebut, hanya sebatas perbuatan iseng.

“Informasi awal, tersangka iseng saja, tapi kita akan dalami apa motif tersangka memposting itu di Facebook,” katanya.

Komentar Jhonny Handoko dan Akong yang dianggap menyudutkan.
Atas perbuatannya tersebut, Jhonny Handoko diancam dengan pasal 45 (a) ayat 2 juncto pasal 28 ayat 2 KUHP dan UU RI Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dengan ancaman hukuman paling lama 6 tahun penjara dan denda uang paling banyak Rp1 miliar.

“Untuk pemeriksaan dari saksi ahli akan kita jadwalkan secepatnya, terutama ahli bahasa dan ahli ITE. Terkait dengan ahli dari agama, jika memang dibutuhkan nantinya, kita juga akan memintanya, ini terus berproses,” ujarnya./rls/ari Mpw.

( Foto : ist ).


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *