Pembakaran ladang sudah tradisi dari jaman nenek moyang

POSTKOTAPONTIANAK.COM ! SEKADAU-Musim kemarau yang sedang melanda Kabupaten Sekadau mengakibatkan kekeringan, ditambah dengan asap yang disebabkan oleh para pembakar lahan untuk membuka lahan baru.

Lahan untuk berladang./mus
Lahan untuk berladang./mus

Beberapa masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar lahan, mengaku bahwa hal tersebut sudah tradisi dari para leluhur.
Seperti yang dikatakan oleh Abo Sarif warga desa Sungai Sambang kecamatan Sekadau Hulu Sekadau, yang berprofesi sebagai petani ini menjadi bingung. Karena menurutnya, apabila membuka lahan dengan cara membakar akan dikenakan sanksi, apabila tidak ia tidak bisa berladang.

“Kalau tidak menanam padi kami mau makan apa Bang, kalau beras kami beli setiap harinya kemungkinan kami tidak mampu, apa lagi sekarang ekonomi lagi susahnya, karet murah tidak sesuai dengan harga barang yang dijual di toko sekarang. Semuanya tidak sebanding dengan harga karet yang harga per kilonya Rp 5.000, mau makan apa,” katanya kepada postkotapontianak.com pada Kamis (27/8/2015).

Jadi tidaklah mungkin menurut mereka tidak berladang menanam padi karena itulah satu-satunya mereka bisa bertahan hidup selama ini. Ia pun mengaku, mengetahui bahwa membakar ladang dilarang, tapi menurutnya membakar ladang tersebut sudah menjadi tradisi dari para leluhur yang susah untuk dihilangkan.

“Larangan bakar ladang boleh aja, tapi kalau soal perut, anak dan istri kami siapa yang mau tanggung. Kalau kami tidak berladang mau makan apa, mungkin ada yang bisa ngasih kami beras dan uang setiap harinya kami rasa itu mimpi di siang bolong semuanya itu tidaklah mungkin,” ujarnya.(mus)


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *