Pakansi & Safari Spiritual Sambil Nglaras di Rumah Turi Srigading Solo

SOLO, 24 Oktober 2021

( Foto dokumentasi Jacob Ereste )

 

Oleh :  Jacob Ereste 

 

JAGAT  Nusantara memerlukan pemimpin spiritual. Karena itu Indonesia harus melahirkan pemimpin bangsa dan negara yang memiliki kemampuan dan kekuatan nilai-nilai spiritual, lantaran sosoknya yang mampu untuk mengatasi masalah kemerosotan moral, etika dan akhlak segenap pemimpin bangsa (pemimpin masyarakat) untuk secara bersama dan massif membangun kepribadian bangsa yang lebih beradab hingga dapat menjadi mercu suar (cahaya) dunia yang mampu mempososikan bangsa Indonesia menjadi pemimpin dunia dalam semua aspek kehidupan.

Topik diskusi di Rumah Turi, Srigading 2, Solo, Minggu pagi, 24 Oktober 2021 bersama Haji Surakarta dan Eko Sriyanto Galgendu hingga idealnya tentanh rencana pemukiman masyarakat Indonesia di Mekkah. Meski begitu, urusan bisnis tetap menjadi nomor dua. Apalagi soal politik, sekedar jadi penjangkap pemahaman dan pengetahuan semata, agar tak menjadi mangsa mentahan mereka.

Karena ikhwal mulanya GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) mengidolakan kerukunan para politisi agar dapat lebih rukun s erta tak menimbulkan kegaduhan bagi masyarakat. Semakin siang, peserta diskusi pagi Minggu bertambah gayeng.

Ada Mbah Naryo dan Mas Momok. Hingga topik bahasan tidak cuma masalah ongkos jemaah haji Indonesia yang super mahal dan proses tunggunya yang relatif sangat lama, tapi juga soal isi kepala pejabat publik yang tak lagi punya otak, hingga cara berpikirnya yang sudah terkotak-kotak. Karena yang bersangkutan banyak yang diharuskan berpikir tak lagi fokus tentang satu soal, tetapi mengurus bantak soal. Mulai dari masalah Covid-19 sampai masalah Kereta Cepat (balak-balik Jakarta – Bandung) hingga masalah tenaga kerja asing (TKA). Sementara topik lain tentang “yatim piatu dan anak terlantar dipelihara oleh Panti Jompo”.

Selain sebagai sumber rujukan GMRI, Mbah Naryo juga sebagai tokoh spiritual yang mengagumi Presiden Joko Widodo. Alasan Mbah Naryo, karena Joko Widodo dia anggap sebagai Presiden pembeeani. Setidaknya berani menunda peringatan hari perayaan keagamaan, berani menggunakan dana jemaah haji Indonesia, katanya sambil menyantap bubur ayam khas Solo yang sedap di pagi Minggu itu.

Yang tidak kalah penting tugas pokok GMRI adalah ingin mewujudkan amanah wajibnya melindungi rakyat. Karena hak serta kepentingan rakyat merupakan bagian dari tugas utama pelaku dan pengamalan dari nilai-nilai spiritual, sevagaimana dalam menunaikan ibadhah haji yang tidak cuma diperlukan kekuatan serta kemampun spiritual, tetapi juga mental dan fisik pun harus tangguh, saat menunaikan jbadhah haji itu imbuh Haji Hery.

Sedangkan dalam laku spiritual saat menunaikan ibadhah haji itu pun tidak ubah pentingnya dari kemampuan untuk mendengar, bila mau dibanding dengan anggapan penting dalam kemampuan dan kecanggihan dari berbicara atau berbual-bual saja./**

RiLiS


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.