Menurunnya Tingkat Pertumbuhan Ekonomi Dikala Pandemi Covid-19

Penulis : Aldy Rahmanda Ferianto

Fakultas/Jurusan : Ekonomi dan Bisnis/Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang

Momen lebaran di Indonesia identik dengan adanya mudik dan berbelanja baju baru, tetapi berbeda dengan yang dirasakan oleh masyarakat di tahun ini. Dikala pandemi corona yang masih terus bertambah kasusnya di setiap harinya, pemerintah juga melarang masyarakat untuk tidak mudik dan menutup sejumlah pusat perbelanjaan yang ada agar bisa mempercepat pemutusan rantai penyebaran virus corona.

“Mudik ini biasanya jadi amunisi dari pertumbuhan ekonomi. Perpindahan mobilitas orang ini akan diikuti oleh pengeluaran atau peningkatan dari konsumsi rumah tangga,” kata Ekonom Senior INDEF Enny Sri Hartati.

Dari tahun ke tahun Ramadhan dan Lebaran selalu menggerakkan ekonomi nasional. Peningkatan konsumsi rumah tangga yang ditopang besarnya jumlah uang beredar mampu mengerek pertumbuhan ekonomi. Namun, ditengah pandemi Covid-19 ini, pertumbuhan ekonomi cenderung menurun, dikarenakan banyak masyarakat yang kehilangan pendapatannya sehingga menurun juga tingkat daya beli masyarakat.

Menurut Pengamat Ekonomi Pieter Abdullah, konsumsi masyarakat menjelang lebaran kali ini hanya terbatas pada produk makanan dan sedikit sandang. Sehingga meskipun ada peningkatan, hanya akan terjadi sementara.

“Jadi kalau kita bandingkan kuartal ke kuartal, saya perkirakan masih akan melambat, Q to Q, atau kuartal 2 dibandingkan kuartal 1 pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran minus 1 sampai dengan minus 2  persen, sementara secara YoY, triwulan 2 tahun ini dibandingkan triwulan 2 tahun 2019, akan mengalami kontraksi minus 3 sampai dengan 5 persen,” kata Pieter Abdullah.

 Hal serupa juga diungkapkan oleh peneliti di INDEF, Bhima Yudhistira, yang menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi masih akan mengalami penurunan.

“Lebaran ini pertumbuhan ekonomu diperkirakan akan mengalami penurunan yang tajam. Sangat mungkin minus di kuartal kedua, daya beli masyarakat merosot tajam karena PHK massal, peekerja dirumahkan tanpa digaji dan pembayaran THR tidak full,” Jelas Bhima./*


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *