Maman Beberkan Sengkarut Pembayaran Lahan Pemakaman YPKOT Sungai Kunyit

POSTKOTAPONTIANAK.COM

MEMPAWAH — Proyek strategis nasional Pelabuhan Kijing II terletak di Desa Sungai Kunyit Laut Kecamatan Sungai Kunyit Kabupaten Mempawah sudah 2 tahun berjalan tanpa titik temu hingga berita ini diterbitkan.

Pertemuan berulang-ulang dilakukan, hingga melibatkan berbagai pihak, namun tetap saja tak kunjung tuntas, hal ini diduga kuat ada oknum-oknum yang sengaja bermain untuk mendapatkan keuntungan dibalik pembebasan lahan tersebut. Senin (14/07/2020).

Saat ditemui, Maman Suratman sampaikan dan membeberkan bahwa tanggal 7 Juli 2020 bertempat diruangan kantor ATR/BPN Mempawah, selaku pemegang kuasa khusus dari YPKOT bersama Subandio SH., selaku Ketua Dewan Pengawas YPKOT serta Tim pengadaan tanah Proyek Strategis Nasional PT. PELINDO II yaitu saudara Ambar dan Eko, turut hadir juga dalam pertemuan tersebut.

Lanjutnya, adapun dalam kesempatan itu yaitu saudara Heri pegawai BPN Mempawah, dalam pertemuan tersebut, Eko mendesak Heri utk menerbitkan rekomendasi pencairan uang makam, hal itu disampaikan oleh Eko sambil berdiri dengan suara tinggi sembari menunjuk kepada Heri, tapi heri tetap tidak mau dengan alasan bahwa tidak mau terlibat dan terseret keranah hukum karena BPN sudah di somasi oleh YPKOT, penolakan saudara Heri tidak membuat Eko menghentikan tekanannya, malahan semakin berapi-api agar Heri mengabaikan somasi yg telah disampaikan YPKOT dan untuk segera menerbitkan rekomendasi pembayaran makam.

“Menanggapi sikap Eko yang terkesan meremehkan SOMASI yang disampaikan YPKOT kepada ATR/BPN Mempawah, tentu membuat kami tersinggung dan harus menahan diri,” ucap Maman

“Tekanan itu menjadi reda setelah saya dengan suara lantang mengatakan kepada Eko, “kamu kalau bicara yang sopan, jangan berdiri dan menunjuk kayak begitu kepada Heri, sebab Heri bukan bawahanmu”, andaikata Heri bawahanmu sekalipun, tidak pantas kamu menunjuknya pakai jari telunjuk seperti itu,” geram Maman Suratman.

Lebih lanjut, Saya meneruskan pembicaraan, sudah berapa kali pertemuan antara tim pembebasan lahan PT.PELINDO II dgn YPKOT, hasil pembicaraan itu tidak ada yg dilaksanakan oleh PT.PELINDO II, sia-sia saja pertemuan kita selama ini, jadi jangan bilang bahwa kami yg menghambat pembangunan pelabuhan terminal kijing, justru dari Tim Pembebasan Lahan PT.PELINDO II yang menghambat, faktanya memang seperti itu.

“Untuk aset, bangunan dan tanam tumbuh milik YPKOT mengapa sampai hari ini tidak dibayarkan, sedangkan kami YPKOT telah memiliki dokumen yang syah, baik dokumen pendirian YPKOT tahun 1976 maupun dokumen kepemilikan tanah yang diterbitkan oleh pihak yang berwenang, dan ATR/BPN Mempawah sendiri telah menerbitkan validasi, ada apa sehingga sampai saat ini tidak dibayarkan,” ungkap Maman Suratman.

Setelah pembicaraan itu selesai, Maman Suratman bersama Subandio masuk keruangan Kepala Kantor ATR/BPN Mempawah menghadap Kepala kantor ATR/BPN Mempawah AW Ganjar, dalam pertemuan itu Kepala kantor ATR/BPN Mempawah AW Ganjar mengatakan keinginannya untuk membatalkan validasi yang telah dibuat, terkait pembatalan validasi tersebut, Maman Surarman menimpali ucapan Kepala Kantor ATR/BPN Mempawah, tidak bisa seperti itu, bahwa validasi tanah yg telah dibuat oleh ATR/BPN Mempawah adalah produk hukum, tentu sebelumnya telah melalui suatu proses serta memiliki dasar.

“jika dilakukan pembatalan validasi oleh ATR/BPN Mempawah, jelas ada konsekwensi hukum dan kami akan melakukan upaya hukum,” Tegas Maman Suratman.

“Jadi akhirnya pada Senin, 13 Juli 2020 secara resmi kami melalui kuasa hukum Dr. Raymundus Loin, S.Ag, SH, MH melakukan gugatan pada Pengadilan Negeri Mempawah dengan nomor perkara 35/Pdt.G/2020/PN Mempawah, dengan apapun juga nanti keputusan yang di hasilkan oleh Hakim Pengadilan Negeri Mempawah harus dihormati dan dipatuhi oleh semua pihak,” pungkas Maman Suratman.(Guns)


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *