Kontroversi Hari Pers Nasional 9 Pebruari

Oleh : Devi Lahendra

DEVI  LAHENDRA
DEVI LAHENDRA

Hari Pers Nasional yang diperingati setiap tanggal 9 Pebruari mungkin tak banyak diketahui oleh banyak orang, termasuk para wartawan media elektronik serta media cetak. Namun justru sebaliknya mungkin sebagian wartawan yang bukan tergabung di wadah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) justru mengetahui jika Hari Pers Nasional diperingati setiap tanggal 9 Pebruari sesuai dengan Keputusan Presiden No. 5 tahun 1985, pada masa itu di mana dalam konsideransinya disebutkan “bahwa pers nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peranan penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila”.

Yang mana ketetapan tersebut diputuskan dimasa kekuasaan Orde Baru, yang mengaitkan dengan satu organisasi wartawan yaitu Persatuan Wartawan Indoneesia (PWI), dikala itu Harmoko masih menjabat ketua PWI Pusat.

Sejatinya sejak ditetapkannya Hari Pers Nasional pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, sejak itu pula para wartawan, khususnya sebagian besar mereka yang tergabung di PWI disetiap tanggal 9 Pebruari selalu memperingati hari pers secara nasioanal yang diperingati secara besar-besaran dengan berkumpulnnya para pimpinan redaksi media masa dari seluruh Indonesia, sedangkan untuk provinsi dan kabupaten gejolak Hari Pers Nasional juga dilaksanakan oleh para wartawan disetiap daerah.

Namun miris, Hari Pers Nasional yang ditetapkan pada tanggal 9 Pebruari telah memberikan polemik besar serta secara tidak langsung telah memberikan perpecahan para wartawan yang setuju dan yang tidak setuju dengan ketetapan Hari Pers Nasional pada tanggal 9 Pebruari.

Sejatinya penetapan Hari Pers Nasional mengacu pada kelahiran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), pada 9 Februari tahun 1946. Akan tetapi, dalam penggalian sejarah Indonesia, yang dilakukan oleh sebagian orang bahwasanya PWI bukanlah organisasi wartawan pertama di Indonesia, namun masih terdapat beberapa organisasi tertua yang telah dulu lahir sebelum lahirnya PWI, diantaranya Inlandsche Journalisten Bond (IJB) yang didirikan pada tahun 1914, Sarekat Journalists Asia didirikan pada tahun 1925, dan Perkumpulan Kaoem Journalists berdiri pada tahun 1931, serta Persatoean Djurnalis Indonesia berdiri pada tahun 1940.

Mutlak dari penjabaran penggalian sejarah organisasi pers yang terlebih dahulu lahir sebelum lahirnya PWI, sebagian para wartawan maupun tokoh pers yang kontra akan ketetapan hari pers dimasa Orde Baru, lebih condong menginginkan ketepana Hari Pers Nasional merujuk pada sejarah pendirian organisasi pers dimasa sebelum kemerdekaan.

Kontroversi penetapan Hari Pers Nasional yang bertepatan dengan tanggal maupun bulan yang sama dengan tanggal maupun bulan lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang digawangi oleh para wartawan senior, jelas bertolak belakang dengan para insan pers yang tidak sejalan dengan PWI atau mereka yang telah membentuk organisasi baru setelah lahirnya masa reformasi.

Walaupun tidak semua wartawan yang ada di Indonesia mengakui 9 Pebruari adalah Hari Pers Nasional, namun pada tanggal itu hari pers selalu dilaksanakan ditingkat nasional maupun diseluruh daerah Indonesia. Hari Pers Nasional pada tanggal 9 Pebruari menjadi titik balik bagi wartawan untuk lebih profesional mengemban profesi sebagai seorang wartawan yang sejalan dengan Undang-undang Pers serta selaras dengan Kode Etik Jurnalistik.

Wartawan yang tidak mengakui lahirnya Hari Pers Nasional pada tanggal 9 Pebruari, justru lebih cenderung berkiblat ke negara luar yang memperingati Hari Kebebasan Pers yang jatuh pada tanggal 3 Mei.

Hingar bingar peringatan Hari Kebebasan Pers pada tanggal 3 Mei memberikan kebanggaan tersendiri pada mereka yang mungkin selalu berhaluan pada dunia luar dan lebih mengakui peradaban dunia luar dari pada peradaban bangsa sendiri.

Peradaban maupun ketetapan berbagai hari besar, salah satunya Hari Kebebasan Pers sedunia yang digelar oleh bangsa barat (luar negeri), seakan memberikan kebanggaan tersendiri bagi mereka yang condong berkiblat pada haluan pengaruh budaya luar, dari pada harus bersatu dan mengakui budaya serta peradaban bangsa sendiri seperti halnya Hari Pers Nasional yang ditetapkan pada Tanggal 9 Pebruari. (Penulis adalah Anggota Muda PWI Kalbar)


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *