Karyawan Hotel Merpati Dilarang Kenakan Jilbab

Drs. H. Luthfi Ramli./dani
Drs. H. Luthfi Ramli./dani

POSTKOTAPONTIANAK.COM ! PONTIANAK-Memakai Jilbab adalah wajib hukumnya bagi wanita yang beragama Islam. Di Negara-negara besar mayoritas non muslim sekalipun pelarangan mengenakan Jilbab mengundang reaksi keras. Beberapa kasus bahkan diselesaikan di meja hijau. Beberapa Negara besar dunia seperti Inggris, Prancis, dan Amerika telah membatalkan atau mencabut larangan mengenakan Jilbab di tempat tertentu.

Di Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia masih terjadi beberapa kasus pelarangan mengenakan jilbab, di daerah minoritas muslim seperti Bali. Ironisnya, di Pontianak Kalimantan Barat yang penduduknya mayoritas muslim masih juga terjadi pelarangan mengunakan jilbab.

Hasil Investigasi tim Suaraakarrumput.com, Manajemen Hotel Merpati Pontianak dalam menerima karyawannya menerapkan aturan larangan memakai jilbab.

Menurut Staf Personalia Hotel Merpati Deny, A.md, memang benar mereka menerapkan aturan tidak memperbolehkan karyawannya memakai jilbab. Dan tercantum dalam perjanjian kontrak kerja.

Saat ditanya alasan aturan dibuat, Deny menyarankan SAR untuk langsung bertanya dengan owner hotel yang lokasinya tidak jauh dari Yayasan Islamiyah Jalan Imam Bonjol Pontianak itu, Bapak Aan.

“Saya sendiri juga harus mentaati aturan tersebut, hanya bulan ramadhan lah saye bise pakai jilbab,” ungkap wanita yang telah bekerja selama 15 tahun itu. Selasa (23/06)

Hal serupa juga terjadi di Perguruan Tinggi Widya Dharma Jalan Merdeka Barat Pontianak. Di Kampus tersebut Mahasiswi dilarang menggenakan Jilbab di dalam kelas.

“Kebijakan tersebut bukan mendiskriminasikan lain agama, tapi mengajak siswa-nya untuk bisa menyesuaikan lingkungan secara Universal,” terang Kabag Kemahasiswaan Widya Dharma Lily, MA. Selasa (23/06)

Perempuan lulusan Universitas China itu menambahkan, larangan tersebut hanya untuk di dalam kelas, selesai belajar siswa diperbolehkan kembali menggunakan jilbab.

“Sesuai dengan UU RI 1945 pasal 28E ayat 1 yang berbunyi setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. Jadi pelarangan menggunakan jilbab sama saja dengan tidak menganggap Islam ada di Indonesia, karena mengenakan jilbab adalah perintah, wajib bagi wanita ber-agama Islam,” papar Munhari Ika Putra, Ketua Umum Persatuan Elemen Masyarakat untuk Perdamaian (PEMUDA) Kalbar. Rabu (24/06)

Sementara Imam Masjid Islamiyah Jalan Imam Bonjol, Drs. H. Luthfi Ramli mengatakan bahwa kebijakan Manajemen Hotel Merpati sangat melawan arus. Bukankah hotel tersebut berada di lingkungan yang masyarakatnya mayoritas muslim yang taat, Kampung Bangka.

“Bagaimana kalau seperti biarawati dilarang memakai topi panjangnya, pasti mereka tidak terima,” ujarnya. Rabu (24/06) Usai menjadi Imam Sholat Tarawih di Masjid Islamiyah.

  1. Luthfi menambahkan, kebijakan seperti itu sangat beresiko, mengundang hal-hal yang tak diinginkan.

Kota Pontianak yang berpenduduk mayoritas muslim, layak menjadi barometer gaya hidup umat Islam. Karena itu, larangan mengenakan jilbab di Kota Pontianak merupakan kebijakan yang mustahil dapat diterima oleh masyarakat.  /bunk/dani/pkp


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *