Jarot Katakan Rapid Test Bukan Alat Diagnosa Covid-19, Tapi Merupakan Alat Skrining Awal Untuk Mencari Tahu Orang Yang Pernah Kontak Dengan Pasien Covid-19,

POSTKOTAPONTIANAK.COM

SINTANG. Bupati Sintang Jarot Winarno, menjelaskan bahwa rapid test bukan alat diagnosa covid-19, tapi merupakan alat skrining awal untuk mencari tahu orang yang pernah kontak dengan pasien covid-19, dimana yang di periksa ialah antibodi orang tersebut. Ibaratnya kata Jarot, antibodi adalah polisi, sementara covid-19 adalah penjahat, kalau periksa rapid testnya itu reaktif, itu artinya sudah ada polisi yang jaga badan dia dari covid-19, cuma pertanyaan karena antibodi ada dua, yakni immunoglobulin M (IgM) pada fase-fase awal kira-kira 10 hari orang terkena infeksi itu IgM nya muncul, atau Immunoglobulin G (IgG) pada saat penjahatnya hilang jadi sederhananya adalah polisinya ada. “kita ingin tahun penjahat itu masih ada nda, maka seluruhnya kita lakukan swab tenggorokan. Pasien yang reaktif, kadang-kadang lima hari bisa nonreaktif karena berbagai rekomendasi jenis atau merk terhadap alat rapid test, tapi itulah yang kita miliki. Apa salahnya di isolasi mandiri selama 14 hari, Contohnya salah satu tenaga medis di dinas kesehatan seorang dokter OTG 15 yang hasil rapid test nya reaktif, kemudian di swab, keluar hasilnya negatif, sekarang sudah bekerja lagi”jelas Jarot.
Selain itu Jarot juga mengabarkan bahwa Pasien Dalam Pengawasan 04 dari Kelurahan Menyumbung Tengah, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang seorang laki-laki 62 tahun, masuk rumah sakit pada 17 april 2020, lalu meninggal dunia tanggal, 19 april 2020 lalu, hasil swab tenggorokannya sudah keluar, dua kali di swab, satu kirim ke Pontianak satu ke Jakarta hasilnya negative covid-19.
“Sudah di kebumikan sesuai protokol covid-19 pada tanggal 19 april tersebut. Yang positif anaknya laki-laki usia 30 tahun konfirmasi positif dua yang sudah dijelaskan di awal. Kemudian pdp dari sekadau, bayi tiga tahun, keluar hasil swabnya negatif, sudah kita pulangkan sembuh sehat”tutur jarot.
Kemudian tambah Jarot, saat ini 68 orang OTG menjalani isolasi mandiri ketat di fasilitas yang sudah di siapkan dan 115 OTG isolasi mandiri di rumahnya masing-masing baik itu gugus tugas, pemuka agama, tokoh masyarakat, yang tetap di bawah pengawasan tim gugus tugas setempat baik Kecamatan maupun Desa.
“dari 183 itu sudah 118 kita swab dan sudah kita kirim, hasilnya wallahu a’lam, belum keluar, kita doakan semoga semuanya negatif. Karena yang baru keluar satu tadi negatif seorang tenaga medis di dinas kesehatan”tutup Jarot.


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *