Jadikan Beting Sebagai Pusat Siar Agama,  Kebudayaan dan Tujuan Wisata

POSTKOTAPONTIANAK.COM

( PONTIANAK ) – Untuk mengembalikan Beting sebagai Daerah Tujuan Wisata, Pusat Budaya dan siar Agama tidaklah semudah kita membalikkan telapak tangan tetapi diperlukan kepedulian semua pihak.

( Drs. Suhadi SW.M.Si saat foto bersama./ foto dok dk3s)

Menurut Drs. Suhadi SW.M.Si, bahwa Beting tempo dulu adalah pusat Pemerintahan , Pusat Perekonomian dan Pusat Siar Agama, ketika Adzan berkumandang anak-anak kecil, para orang tua berbondong-bondong mendatangi Masjid Jami’ Maajid terbesar di Kecamatan Pontianak Timur.

Anak-anak berebut ingin mengumandangkan Adzan,  para orang Tua ikut solat berjamaah memenuhi Masjid Peninggalan Pendiri kota Pontianak.

Demikian juga jalan beraspal pertama di Kota Pontianak adalah Jalan Tanjung Raya sampai ke Batu Ampar kata para sesepuh yang mengetahui awal mula berdirinya Kota Pontianak.

Masyarakatnya sangat Santun dan bermartabat bahkan saking santunya mereka marahpun menggunakan Pantun.

namun saat ini justru semuanya telah sirna hilang ditelan Bumi.

Bahkan sebagian masyarakat ketika melamar pekerjaan, mengajukan kredit dan sebagainya mengalami berbagai kendala. mengapa demikian, apa penyebabnya dan bagaimana solusinya.

Untuk mengembalikan Kejayaan Beting seperti Tempo dulu perlu ada langkah Konkrit yang diawali atau dimotori oleh Pemerintah dan diikuti oleh Masyarakat setempat.

Kedepan misalnya setiap hari tertentu pada setiap bulannya,  Rapat Pemda dilaksanakan di Beting. namun untuk mewujudkan hal itu tentunya perlu dikordinasikan dengan Sultan dan para Sesepuh kesultanan kadryah.

Setiap kegiatan yang bernuansa Budaya dilaksanakan di Halaman Kesultanan, demikian juga kegiatan  keagamaan, seperti peringatan hari hari besar Islam dilaksanakan di Masjid Jami’  Bhakti sosial dilaksanakan di Beting dan sebagainya Pendekatan yang selama ini lebih mengedepankan Pendekatan Agama, perlu dikolaborasi dengan pendekatan Agama dan Budaya Seperti   Seni Budaya Jepin dan Hadrah.

Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana masyarakat setempat bisa menolak hal hal negatif masuk ke Beting.

karena saat ini telah terbentuk Stigma negatif tentang Beting. bagaimana menghilangkan Stigma tersebut agar Beting kembali Jaya seperti Tempo dulu.

Menurut Suhadi Sw. ada beberapa Langkah yang harus dilakukan yaitu melalui Pemberdayaan enam Rumah.

Pertama rumah tangga, agar para orang tua lebih meningkatkan kepedulian dan pengawasan terhadap anak anaknya. para orang tua harus mengetahui siapa sahabat dekat anaknya. siapa orang tuanya. apa pekerjaannya, semuanya itu penting dilakukan karena Lingkungan akan mempengaruhi perilaku anak.

Kedua rumah Ibadah artinya para tokoh agama. Para Habaeb, para Habib, Kyai. Ustadz, Pendeta, Pastur, Pandita, dan sebagainya harus dilibatkan. ketika mereka sedang memberikan siar agama diselipkan pesan pesan yang menyejukkan

Ketiga rumah Adat, bahwa adat istiadat tidak ada yang jelek semuanya bagus, tinggal bagaimana memberdayakan mereka untuk turut serta dalam menciptakan suasana yang kondusit di Beting.

Keempat rumah sekolah. dimana para dewan guru, wali kelas juga ikut berperan dalam merubah Minset Masyarakat terhadap Beting

Kelima rumah Pemerintah. artinya pemerintah juga harus peduli terhadap Beting yang sangat memprihatinkan.

Padahal Beting itu pusatnya para Habaeb. para Habib para Kyai dan Ustdz. namun kita tcmidak boleh saling menyalahkan, tetapi bagaimana mengembalikan Beting kembali Jaya seperti Tempo dulu.

Terakhir rumah komunitas artinya para kelompok Komunitas Seni, komunitas Hoby. Komunitas Profesi, Komunitaa Etnis dan Komunitas lainnya harus ikut berperan, jika semua pihak bekerja bersama sama maka Stigma Negatif terhadap Beting dalam waktu yang tidak terlalu lama akan terkikis habis oleh aktifitas yang dilaksanakan oleh semua pihak. /rls( DK3S)


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *