Inflasi April 2017 Masih Terkendali

POSTKOTAPONTIANAK.COM

(Pontianak) – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalbar Dwi Suslamanto mengatakan inflas yang terjadi di Kalbar pada bulan april 2017 adalah sebesar 0,28% (mtm) dan sudah sesuai dengan perkiraan sebelumnya.

Terjadinya inflasi tersebut disebabkan oleh kenaikan tarif listrik akibat penyesuaian tarif listrik bagi sebagian golongan 900 VA. dan sempat tertahan oleh kelompok volatile food dan penurunan tiket angkutan udara.

“Kelompok Administered price pada april 2017 mengalami inflasi sebesar 0,63% (mtm), merupakan inflasi kelompok yang lebih tinggi dari rata-rata inflasi kelompok administered price selama tiga tahub terakhir yang tercatat mengalami inflasi sebesar 0,18% (mtm). Dan penurunan terjadi karena minimnya permintaan pada bulan april 2017,” ujar dia.

Menurutnya, tekanan inflasi kelompok inti Pada bulan April 2017 tercatat sebesar 0,34% (mtm) atau sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi ini bulan April 3 tahun terakhir yang sebesar 0,33% (mtm). Inflasi inti pada kelompok inti pada bulan Maret 2017 didorong oleh kenaikan harga nasi dengan lauk mobil dan emas perhiasan.

Sementara itu, penurunan harga gula pasir menahan inflasi kelompok inti dan penyebabnya adalah penurunan harga gula pasir di dunia dan menguatnya rupiah.

“Inflasi Pada bulan April 2017 tertahan oleh deflasi di kelompok alat Volatile Food (VF), yang tercatat mengalami deflasi sebesar 0,32% (mtm). Deflasi kelompok VF Pada bulan April ini tidak sedalam dibandingkan rata-rata deflasi kelompok VF 3 tahun terakhir yang tercatat sebesar -1,11% (mtm). Deflasi kelompok VF terutama disumbang oleh penurunan harga cabe rawit jeruk bawang merah wortel dan minyak goreng. Di sisi lain, di tengah menurunnya sejumlah harga pangan tersebut masih terdapat komoditas lain yang mengalami peningkatan harga sehingga menahan laju deflasi kelompok VF, yaitu Kembung atau gembung, daging ayam ras, bayam, udang basah dan bawang putih,” ucap dia

Dirinya berharap, kedepan, tekanan inflasi Provinsi Kalimantan Barat diperkirakan akan meningkat walaupun masih berada di level yang terkendali. Berdasarkan pemantauan pola history selama 5 tahun terakhir tekanan inflasi bulan Mei 2017 mendatang terutama diperkirakan bersumber dari potensi risiko kenaikan harga kelompok volatile food diantaranya peningkatan harga sawi hijau dan kembung.

Selain itu, masih terdapat potensi risiko kenaikan tarif listrik karena masih berlanjutnya penyesuaian tarif listrik pada bulan Mei 2017.

“Untuk memitigasi inflasi selama periode Ramadan dan Idul Fitri TPID Provinsi Kalbar akan terus memantau dan memastikan pasokan beserta distribusi bahan kebutuhan pokok di wilayah Kalbar, termasuk mengoptimalkan pemantauan harga komoditas kebutuhan pokok Melalui aplikasi GENCIL, Yaitu aplikasi hasil dari kerjasama antara pemerintah kota Pontianak, Pontianak Digital Stream dan Bank Indonesia) yang dapat diunduh melalui sistem Android dan iOS,” pungkasnya.

(Viky)

Foto Tumpukan Uang Indonesia / Istimewa / POSTKOTAPONTIANAK.


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *