Effendi : AMDAL Perusahaan di Manis Mata Perlu Ditinjau Ulang

POSTKOTAPONTIANAK.COM ! KETAPANG-Analisis Dampak Lingkungan (di Indonesia dikenal dengan nama AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi

Effendi./H-w.oesm
Effendi./H-w.oesm

proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan di Indonesia. AMDAL ini dibuat saat perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan pengaruh terhadap lingkungan hidup di sekitarnya, yang dimaksud lingkungan hidup disini adalah aspek abiotik, biotik dan kultural.

Dasar hukum AMDAL di Indonesia adalah Peraturan Pemerintah no.27 Tahun 2012 tentang “Izin Lingkungan Hidup” yang merupakan pengganti PP 27 Tahun 1999 tentang Amdal.

Hubungannya dengan CSR menurut Effendi salah satu tokoh pemuda Manis Mata  yang juga Pegawai Negeri Sipil  di kantor Camat Manis Mata menilai CSR yang dilakukan oleh pihak perusahaan seharusnya Pemerintah Desa dan BPD wajib tahu berapa besarnya dalam satu tahun atau setidaknya per Enam bulan dalam setahunnya. Seperti yang telah diberitakan pada beberapa hari yang lalu tentang ketidak puasan Ketua BPD Ratu Elok Kecamatan Manis Mata Effendi juga mengatakan ” Ketua BPD harus tahu tentang CSR PT.HSL untuk desa Ratu Elok, bila perlu BPD Ratu Elok ke Bappeda Kabupaten Ketapang betanya langsung tentang laporan CSR PT. HSL sampai bulan Juni 2015,”tuturnya.

Effendi juga menyayangkan, “saya selaku pemuda kecamatan Manis Mata merasa tidak puas dan kecewa dengan CSR-CSR perusahaan. Kita bayangkan, ada sebanyak 8 perusahaan yang membuka usahanya di kecamatan Manis Mata. Artinya kalau CSR dari perusahaan diterapkan dan berjalan dengan baik tentu tidak seperti sekarang kondisi di desa-desa kecamatan Manis Mata, ini berarti secara keseluruhan tidak ada manfaat langsung yang dirasakan oleh masyarakat, apalagi ada sebagian perusahaan yang melanggar aturan tentang lingkungan atau ramah lingkungan.

Mari kita tinjau ulang AMDAL perusahaan -perusahaan di kecamatan Manis Mata.

Ditambahkannya lagi, “termasuk dengan pengalolaan limbah,cangkang, kernil dan lain-lain, itu semua seperti mini market diperusahaan. Begitu juga seperti angkutan buah, angkutan truk masyarakat tidak dipakai lagi di estate – estate, ini management penjajah secara tidak langsung di pakai PT. HSL.

Awalnya perusahaan dibuka melibatkan masyarakat setempat,  sekarang pelan-pelan tidak melibatkan lagi masyarakat. Dan ketika pembukaan kebun sawit dengan pola mandiri,  masyarakat menyerahkan lahan atau tanah untuk dibuka sawit yang nantinya tingkat ketergantungan masyarakat dengan perusahaan pengelolaan sangat kuat. yang akhirnya kita punya tanah, punya air,  lahan pertanian nantinya akan jadi milik orang asing, secara tak sadar kita sudah mulai dirampas dan dikuasai padahal itu milik kita. Bahkan yang lebih gila lagi terdapat kepemilikan oleh sekelompok orang yang menjadi tuan takur “, kesal Efendi melalui BB-nya kepada wartawan./Heri/W.OESM


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *