Al-Ansari Berharap Adanya Rumah Gadang PKDP Kota Sawahlunto

POSTKOTAPONTIANAK.COM

( SAWAHLUNTO )– Rumah Gadang di Minangkabau tetap berfungsi sebagai tempat tinggal. Namun, pada lazimnya didirikannya Rumah Gadang, sesuai tanah kaum yang bersangkutan. Jika hendak didirikan, panghulu dari kaum tersebut mengadakan musyawarah terlebih dahulu dengan anak kemenakannya. Setelah dapat kata sepakat, dibawa kepada panghulu-panghulu yang ada dalam persukuan dan seterusnya dibawa kepada panghulu-panghulu yang ada di nagari, barulah Rumah Gadang dibangun.

Tetapi, ada pula mengartikan bahwa Rumah Gadang bukan hanya tempat tinggal, atau rumah adatnya Suku atau kaum saja, tetapi merupakan simbol adat Minangkabau itu sendiri. Sebab, pembangunan rumah gadang, arsitekturnya memiliki makna folosofi yang sangat tinggi, seperti ukiran – ukiran, bentuk hingga jumlah ruangan yang ada di sebuah Rumah Gadang.

Merujuk pada tingginya folosofi tersebut, dr. Al-Ansari, yang saat ini menjabat selaku Kepala Bidang di Dinas Kesehatan Kota (DKK) Sawahlunto, dan merupakan pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) Kota Sawahlunto, dengan semangat dan cita – cita yang luhur menginginkan adanya Rumah Gadang PKDP Kota Sawahlunto. Tetapi, bukan seperti fungsi Rumah Gadang milik sebuah suku atau kaum di Minangkabau, hanya saja bentuknya persis sama, terutama dengan arsitektur dasar atap yang bagonjong.

Keinginannya tersebut, adalah bentuk kecintaannya terhadap kampung halaman dan soliditas antara Warga Sawahlunto asal Piaman. Karena Ia yakin, Rumah Gadang PKDP Kota Sawahlunto, mampu merajut dan menyatukan keberagaman saudaranya yang satu asal kampung halaman.

Menurutnya, Rumah Gadang tersebut akan menjadi Rumah Gadang orangnya Piaman, tempat bernaung, berdaya dan maju. “Jika Rumah Gadang ini berdiri, maka ini akan menjadi pembuka jalan pemersatu warga Sawahlunto asal Piaman, yang saya yakin jumlahnya tidak sedikit, sebab terakhir informasi yang sempat saya dengar jumlah KK (Kepala Keluarga) Warga PKDP di Kota Sawahlunto sudah mencapai angka kurang lebih 700 KK, yang jika dikalikan 4 orang saja per-KK, maka akan berjumlah 2.800 orang Piaman di Kota Sawahlunto. Tetapi, bisa jadi lebih,” ungkapnya, di Kota Sawahlunto, Sabtu (31/3/2018).

“Maka, apapun partai dan golongannya, Rumah Gadang orang Piaman adalah PKDP. Itu yang harus kita upayakan, kalau bukan kita yang membesarkan PKDP, siapa lagi?” harap dr. Alansari, yang semoga suaranya ini pun didengar dan dibaca oleh orang Piaman dimanapun berada.

Lebih lanjut Al-Ansari menjelaskan, bahwa dengan adanya Rumah Gadang tersebut, dapat menjadi pusat pertemuan PKDP, pusat kreasi anak – anak dan pemuda PKDP, tempat perhelatan pernikahan (pesta) dan kegiatan – kegiatan sosial serta produktif lainnya.

“Di Rumah Gadang ini kita berkumpul, menyatukan visi dan misi. Menyatukan perbedaan, untuk kebaikan Kota Sawahlunto dan kebanggaan kampung halaman,” pungkasnya.

Ketika ditanya soal pembangunannya, Ia-pun menggambarkan, bahwa Rumah Gadang PKDP itu nanti bisa dibangun dengan cara gotong royong; yakni mencari lahan yang sesuai dengan peruntukan dan sesuai kesepakatan pengurus PDKP Kota Sawahlunto. Kemudian untuk membeli tanah akan dilakukan pelelangan kepada warga Sawahlunto asal Piaman dalam setiap hitungan meternya.

“Misalnya kita dapat lokasi A, dengan luas sekitar 1000 meter dan harga Rp. 100.000/meter. Lalu, kita akan melakukan pengumuman kepada seluruh pengurus PKDP dari tingkat DPD hingga DPC (Kecamatan). Bagi warga PKDP yang berniat dan berkenan ikut bantu menyumbang dan membeli, maka yang bersangkutan cukup menentukan berapa meter dirinya ingin ikut membantu, hingga tercukupnya 1000 meter, barulah tanah pada lokasi A dibeli kepada si pemilik,” ulasnya.

“Nah, untuk membangunnya dan mengelolanya, tentu dibicarakan ditingkat kepengurusan. Silahkan pengurus DPD PKDP dan DPC se Kota Sawahlunto menetapkan cara membangun hingga manajemen pengelolaannya,” tutup Al-Ansari. (Rico98)


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *