Akses Jalan Bagus, Perekonomian Meningkat, dan Usaha Warung Ramai

Oleh : Kolonel Inf F.X. Sri Welliyanto Kasih
(Kapendam III/Slw)

Saat menghadiri pembukaan Tentara Manunggal Membangun Desa ke-106 di Kampung Babakan Kadu Desa Buana Jaya Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Bogor, 2 Oktober yang lalu, yang dibuka oleh oleh Bupati Kabupaten Bogor Hj. Ade Yasin, dihadiri oleh Kasdam III/Siliwangi Brigjen TNI Dwi Jati Utomo, S.I.P., M.Tr (Han) beserta pejabat lainnya, penulis sempat berfikir alangkah tepatnya sasaran TMMD ke-106 di wilayah itu.

Kampung Babakan Kadu Desa Buanajaya Kecamatan Tanjung Sari Bogor, bila ditempuh dari Bandung, dengan rute Bandung Ciranjang (52,9 km), kemudian 200 meter dari terminal Ciranjang belok kanan melalui jalan raya Sirnarasa-Mekarsari (39 km), lalu belok melalui Jalan Transyogi sepanjang 14,1 km menuju belokan Desa Buanajaya.

Dari kantor Desa Buanajaya, perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan desa dengan kondisi cukup bagus dengan lebar 2 meter sehingga kalau berpapasan dengan kendaraan dari arah yang berlawananan harus ekstra hati-hati. Kendaraan roda 4 hanya bisa sampai ke lokasi setelah menempuh perjalanan 2 km, setelah itu harus jalan kaki melewati jalan setapak dan melintasi jempatan bambu yang hanya bisa dilalui dengan jalan kaki dan kondisinya sangat mengkhawatirkan.

Jembatan bambu yang menghubungkan Dusun Babakan Kadu dan Dusun Wangun ini, dibuat warga sebagai sarana penyebarangan dimana sebelumnya mereka harus menantang bahaya, terutama anak-anak sekolah harus menyeberang Sungai Mapag. Jika hujan turun dan air sungai deras, siswa SD dan SMP terpaksa harus meliburkan diri.

Menurut Kepala Desa Buanajaya Acep, S.A.P., Desa Buanajaya berbatasan Dengan Cianjur. Warga setempat yang rata-rata bermata pencaharian sebagai petani, kesulitan untuk menjual hasil garapannya, karena minimnya akses jalan. Selain itu, desa tetangga sebelah yaitu Kampung Talaga yang masuk wilayah Cianjur sebenarnya lebih banyak juga yang berinteraksi dengan wilayahnya hanya harus ditempuh melingkar dan jauh sehingga memerlukan waktu yang lama dan tingginya biaya transportasi yaitu Rp.30 ribu untuk pelajar dan Rp. 50 ribu untuk orang dewasa.

“Yang ada hanya jalan setapak. Jadi kita akan membuka perbukitan untuk dibangun jalan. Selama ini, hanya motor trail ataupun ojeg yang bisa lewat. Tapi kalau hujan, sama sekali tidak bisa digunakan,”

Menurut Acep pula, dari 9 Desa yang ada di Kecamatan Tanjungsari yaitu Desa Antajaya, Cibadak, Pasir Tanjung, Selawangi, Sirnarasa, Sukarasa dan Tanjungsari, Desa Buanajaya lah yang berbatasan langsung dan lokasinya secara geografis dekat dengan Kabupaten Cianjur, tepatnya di Kampung Talaga Desa Gunung Herang Kecamatan Cikalong Kulon Kabupaten Cianjur, hanya dibatasi oleh bukit yang saat ini akan dibelah dan dibuatkan jalan sepanjang 2,7 km oleh program TMMD.

Selama ini kata Acep, sebagaian masyarakat yang ada di Kampung Talaga Cianjur, banyak yang memanfaatkan pasar tradisional, Rumah Sakit Daerah Cileungsi dan beberapa fasilitas kesehatan yang ada di Bogor ini. Namun untuk menjangkaunya mereka harus melalui Kecamatan Cariu, Kecamatan Jonggol dan Kecamatan Cileungsi Bogor.

Ketua RW 03 Desa Buanajaya, Didi (43 thn) ditemui sesaat sebelum menghadiri pembukaan TMMD menuturkan, di Kampung Babakan Kadu dan Kampung Wangun ada sekitar 400 lebih Kepala Keluarga dengan mayoritas sebagai Petani dengan penghasilan rata-rata perhari Rp. 25 ribu. Lokasi yang akan dibuatkan jalan tembus itu semuanya milik lahan Perhutani.

“ Hanya, pelebaran jalan sebelum jembatan bambu, memakai lahan milik pasangan suami istri Amin (50 thn) dan Yati (40 thn). Keluarga itu sudah mengikhlaskan sebagian lahannya di gunakan untuk pelebaran jalan”, ujarnya.

Terkait dengan mata pencaharian warga, dibenarkan oleh Kepala Dusun II Antajaya, Omang (40 thn). Menurutnya, di Dusun II kebanyakan sebagai petani penggarap lahan milik Perhutani. Namun selama ini PT perhutani tidak meminta imbalan apapun dari warga yang mengolah tanah miliknya.

“ Bahkan sebagaian lahan yang dipakai tempat tinggal wargapun, merupakan lahan milik Perhutani ”, ujarnya. Omang berharap kedepan lahan milik Perhutani yang saat ini digunakan sebagai tempat tinggal warga, bisa menjadi hak milik warga.

Dari perbincangan penulis dengan warga Kampung Babakan Kadu dan Wangun, mereka menaruh harapan besar kepada program TMMD di kampung Babakan Kadu dan Wangun Desa Buanajaya, khususnya dengan dibuatkannya akses jalan yang menghubungkan Kampung Babakan Kadu dan Wangun Desa Buanajaya dengan Kampung Talaga Desa Gunung Herang Cianjur karena akan mempermudah akses menuju Buanajaya dan Talaga Cianjur, bahkan menyambung ke Kabupaten Purwakarta.

Mereka berharap dengan adanya akses jalan tersebut, perekonomian di kampung Babakan Kadu dan kampung Wangun Desa Buanajaya berubah, terutama dapat menghemat biaya transportasi.

“ Kami tidak sia-sia menghibahkan sebagaian lahan untuk dijadikan akses menuju jalan tersebut, karena kalau akses jalan bagus, perekonomian meningkat, dan usaha warung saya juga ramai”, kata Amin dan Entin.

Selain dilaksanakan di Kodim 0621/Kabupaten Bogor, Program TMMD ke-106 secara serentak dilaksanakan juga di 3 wilayah Kodim jajaran Kodam III/Siliwangi lainnya, yaitu Kodim 0613/Ciamis, Kodim 0619/Purwakarta dan Kodim 0603/Lebak Banten dengan tema : ”Melalui TMMD Kita Wujudkan Percepatan Pembangunan Untuk Kesejahteraan Rakyat”.

TMMD ke-106 di Kabupaten Bogor dilaksanakan bertepatan dengan pencanangan Bulan Bakti Panca Karsa. Selain pembuatan akses jalan tembus sepanjang 2,7 km, dilaksanakan juga kegiatan fisik lainnya berupa pembuatan Lapangan Sepak Bola, pembuatan MCK, Mushola dan Pos Kamling. Sementara untuk non fisik, melaksanakan pembinaan, penyuluhan dan pembekalan wawasan kebangsaan.

Kita semua berharap, semoga sampai dengan pelaksanaan Penutupan TMMD ke-106 tanggal 31 Oktober 2019 nanti, semua program yang sudah ditetapkan dapat terlaksana. Tentu dengan bantuan semua pihak, termasuk warga masyarakat dimana lokasi TMMD itu dilaksanakan.


Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *