Warga Resah, Ternak dan Karet di Sikat Maling

Maling./ilustrasi
Maling./ilustrasi

POSTKOTAPONTIANAK.COM ! SEKADAU-Sudah beberapa bulan ini, masyarakat di beberapa wilayah Desa Gonis Tekam tak bisa tidur nyenyak. Sebabnya, mereka merasa tak aman akibat akhir-akhir ini marak terjadi kasus pencurian di wilayah mereka.

Terang saja kejadian demi kejadian membuat warga tidak tenang saat hendak meninggalkan rumah. Bukan hanya itu, para pencuri bahkan kian hari kian membati buta. Barang apa saja yang dapat diangkut, akan mereka sikat.

Contohnya hewan ternak. Masyarakat di daerah pedesaan yang mayoritas bekerja sebagai petani umumnya memiliki bangunan gubuk di kebun masing-masing. Di kebun, tak jarang warga membangun lokasi peternakan. Hewan ternak seperti ayam, kambing atau babi katanya lebih subur jika diternak di hutan.

Sial bagi warga Gonis Tekam, hewan ternak yang dikurung didalam kandang di kawasan kebun pun ayab digondol maling. “ Babi di dalam kandang pun dibawa lari. Ini sudah pernah terjadi di wilayah kami. Masyarakat sudah resah dengan kondisi ini,” ujar Sekretaris Desa Gonis Tekam Kabupaten Sekadau, Sukirwan di Gonis Tekam.

Selain hewan ternak dan harta benda lain, para maling yang dikenal licin karena sulit dipergoki itu tak luput mengincar kelengahan warga. Pada beberapa kasus, maling bahkan tak segan membawa kabur karet jinton (kulat) yang ditinggalkan warga di kebun.

Petani karet biasanya menabung terlebih dahulu karet hasil sadapan sebelum dijual. Nah, di sinilah kesempatan bagi oknum tak bertanggungjawab untuk mengambil keuntungan dari hasil keringat orang lain.

“ Warga kan kalau selesai noreh biasanya langsung pulang, sementara karetnya ditabung dulu, kalau sudah banyak baru dijual. Saya heran kok karet getah pun dicuri juga, nekat betul maling ini,” ucap Sukirwan terheran-heran dengan aksi para pencuri yang meresahkan warganya.

Melihat modus pencurian yang membabi buta itu, Sukirwan menduga pelakunya betul-betul nekat karena desakan ekonomi. Kalau maling profesional, idealnya target mereka tentu barang-barang yang harganya selangit.

Dugaan itu makin kuat mengingat saat ini harga komoditi lokal seperti karet sedang anjlok. Harga karet getah yang rata-rata di kisaran Rp. 6 ribu per kilogram sangat tak sebanding dengan harga kebutuhan pokok. Beras saja di tingkat eceran dijual dengan harga paling rendah Rp. 8 ribu per kilogram. Belum lagi biaya sekolah anak, kredit kendaraan dan sebagainya.

“ Kalau menurut hemat saya ini pelakunya betul-betul kesulitan ekonomi. Kalau maling profesional mana mau maling kulat, sudah bau harganya juga tidak seberapa. Tapi ini kan hanya dugaan, kita tidak tahu juga,” tutur Kirwan sembari berharap pelakunya segera tertangkap. / yahya

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *