Wapres RI Ke-6: “Saya Ini Handphone, Anak-Anak Pramuka Itu Chargernya

JAKARTA —“Saya ini seperti handphone, anak-anak pramuka itu chargernya. Jadi kalau melihat anak-anak Pramuka saya ini baterainya penuh, dan kembali muda. Saya ke Jambore Nasional ini, ingin melihat anak-anak Pramuka dari 34 provinsi di Indonesia.”

Demikian pernyataan Wakil Presiden RI Ke 6, Kak Try Sutrisno (81 th) ketika datang ke lokasi Jambore Nasional X 2016 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta pada Jumat (19/08).

Kehadirannya memenuhi undangan panitia untuk memberikan wawasan kepada peserta Jamnas yang datang dari 34 Provinsi di Indonesia. Karena hujan deras serta angin kencang tidak berhenti, bahkan lokasi banjir, banyak tenda terbang dan patah, panitia dengan berat hati membatalkan acara yang seyogiaya diisi Kak Try Sutrisno.

Panitia kemudian mengajak Kak Try Sutrisno untuk berkeliling Bumi Perkemahan dengan mobil terbuka semacam “odong-odong”,

Dalam situasi hujan deras, Kak Try Sutrisno didampingi panitia berkeliling Bumi Perkemahan melihat proses evakuasi peserta.  Setelah itu mereka kembali ke Gedung Trisatya. Rupanya Kak Try tidak langsung pulang, namun ngobrol dengan panitia hingga kira-kira dua jam.

“Istri saya ikut semua pendidikan di Pramuka, sampai sekarang kemana-mana bawa tas sendiri, usianya 76 tahun, tidak mau merepotkan orang lain, kepada yang membantu di rumah, supir, kami tidak pernah menyuruh, namun selalu dengan kata minta tolong. Anak perempuan saya yang pertama juga, ketika lulus jadi dokter, anak saya bertugas di Timor Timur. Sebagai orangtua tentu berat bagi saya dan istri melepas Noura, apalagi dia perempuan. Kepada Noura saya tegaskan, kamu anak Prajurit, harus tahu NKRI, harus siap ditempatkan dimana saja, saat itu saya pasrah saja, karena ajal kan Allah yang menentukan. Hikmahnya ada, disanalah anak saya, Noura berjodoh dengan Ryamizard Rachudu, mereka menikah tahun 1990”, ceritanya disambut senyum 30-an Pramuka di ruangan Trisatya.

Banyak hal yang disampaikan Kak Try Sutrisno namun yang berulang dia tekankan adalah perlu keihlasan dalam mendidik generasi muda.

Kak Try melihat jam tangan ketika suara deras hujan menurun, “sudah pukul 22.00, saya boleh pamit sekarang yah, besok penutupan Jambore Nasional saya mohon maaf tidak bisa hadir, namun istri saya akan hadir, sama seperti saya dia juga semangat kalau melihat anak-anak Pramuka”, tutupnya sebelum masuk ke mobil. (Hariqo)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *