Wacana Stop Pakaian Bekas Impor

Kios tempat penjualan bahan bekas.(foto:yahya pkp)
Kios tempat penjualan bahan bekas.(foto:yahya pkp)

SEKADAU, POSTKOTA PONTIANAK.COMApa hal. Macam ndak ada hal lain yang diurus jak,” celetuk Ajo Nasri, penjual pakaian bekas di kawasan terminal Sekadau ketika dimintai pendapatnya soal wacana larangan impor pakaian bekas oleh pemerintah, Rabu (4/3/2015) pagi.

Wacana pemerintah untuk melarang impor pakaian bekas dari luar negeri memang sempat menuai protes dari berbagai kalangan. Ada yang menyebut wacana tersebut sebagai senjata untuk menyengsarakan rakyat kecil. Ada pula yang menyatakan pemerintah dalam hal ini Menteri Perdagangan terlalu mengada-ada.  Bagaimana tidak. Salah satu alasan pemerintah yakni soal higienis atau tidaknya pakaian second hand impor dianggap tidak masuk akal.

Nasri yang sudah 25 tahun menggeluti usaha lelong menganggap pemerintah berniat menyengsarakan rakyat kecil. Kesimpulan Nasri bukan tanpa alasan. Selama puluhan tahun ia bergantung pada hasil penjualan barang bekas di kiosnya untuk menafkahi keluarga.

“ Kalau saya kaya, saya ndak akan jual lelong. Ngapain susah-susah kalau banyak duit. Karena kami orang susah makanya usaha kecil-kecilan begini, ada untung sedikit ya syukur. Itulah untuk menafkahi keluarga. Kenapa usaha yang halal begini pun dilarang,” ketus Ajo Nasri.

Soal urusan bersih atau tidaknya pakaian bekas impor, Nasri menilai alasan itu tidak bisa dijadikan dasar untuk menghentikan usaha jual pakaian bekas.

Menurut Nasri, selama 25 tahun ia berkutat di bidang usaha lelong, belum pernah ada pelanggan yang mengeluh terserang penyakit, baik penyakit kulit atau AIDS.

“ Kalau mau kurap ya kurap, memang orangnya saja yang tidak bersih. Mana ada hubungan pakaian bekas dengan AIDS. Itulah Mendag tuh ngada-ngada jak,” kesal Nasri.

Lagipula, urusan dagang pakaian bekas bukan hal yang baru di negeri ini. Sudah sejak jaman dahulu, hampir di sudut-sudut kota terdapat kios pakaian bekas. Nasri pun heran kenapa baru saat ini lelong akan ditertibkan.

“Saya dari jaman Suharto jual lelong, belum pernah ada yang kalut. Kok baru sekarang mau dilarang-larang,” tuturnya lagi.

Menurut Nasri, pemerintah banyak omong kosongnya. Di satu sisi pemerintah gembar-gembor mengkampanyekan pasar bebas ASEAN (MEA), di sisi lain malah mau menghentikan impor produk luar, termasuk pakaian bekas.

“Katanya mau pasar bebas. Apanya yang bebas kalau begini. Kita rakyat kecil bingung dibuatnya,” katanya dongkol.

Selain itu, pakaian bekas juga sangat diminati masyarakat yang taraf ekonominya menengah ke bawah. Itu karena pakaian yang dijual di lelong rata-rata produk bermerk yang dijual dengan harga murah meriah. Wajar jika masyarakat kecil sangat gemar membeli pakaian lelong.

Uangal Pria setengah baya ini mengaku sering membeli lelong di kios Ajo Nasri maupun di kios lelong lain di kota Sekadau.

“Barangnya bagus-bagus, murah lagi. Ndak ada masalah kok. Selama ini saya beli tidak pernah ada apa-apa,” aku Mus yang ketika ditemui sedang memilih-milih pakaian di kios Ajo Nasri.

Selain barang yang dijual punya merk terkenal dan berkualitas, harga yang miring menjadi pilihan utama masyarakat kecil berbelanja lelong. “Kalau beli di toko ndak mampu, mahal. Kita orang kecil mana punya duit untuk belanja di mall. Kalau bisa jangan lah distop lelongnya,” ucap Uangal sembari meneruskan memilih pakaian bekas yang cocok. (Yahya PKP)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *