Upaya Crash Programme Peningkatan Mutu Sepakbola Indonesia

Oleh : Ibrahim Arsyad, Pemerhati Sepakbola

Belajar dari pengalaman Borrussia Dortmund, Barcelona, Real Madrid dan klub-klub ternama lainnya.

Pemikiran ini dengan sedikit mengesampingkan problema PSSI yang terkena sanksi FIFA, dengan cara mencoba  lebih mengedepankan pelatihan yang sistematis, efektif dan efisien.

Sepakbola merupakan olah raga yang memiliki penggemar  terbesar di dunia, begitupun halnya di Indonesia.  Olah raga yang merakyat ini dalam faktanya belum mampu menempatkan Indonesia sebagai kekuatan sepakbola yang layak diperhitungkan di Asia, apalagi Dunia.  Melihat hal tersebut, perlu langkah-langkah nyata, terukur, efektif dan efisien jika kita menginginkan peningkatan mutu olah raga sepakbola ini. Pengalaman masa lalu di era Ramang, Indonesia sempat mengikuti Piala Dunia, sempat menahan seri Rusia, namun setelah itu tak pernah lagi lolos mengikuti Piala Dunia. Upaya peningkatan kualitas selalu dilakukan namun prestasi tak kunjung hadir. Bahkan kisruh kepengurusan PSSI sempat terjadi berkepanjangan.

Mengamati perkembangan persepakbolaan dunia, ada hal yang menarik yang kiranya bisa menjadi contoh untuk diterapkan di Indonesia.

Borrussia Dortmund menggunakan peralatan canggih yang diberi istilah “footbonaut”, suatu ruang dimana tersedia peralatan mekanis untuk memberikan umpan bola dengan kecepatan yang bisa diatur, si pemain bisa menerima,mengontrol, menguasai bola kemudian meneruskan umpan atau menembak sesuai kode sensor yang bisa diatur juga.

Peralatan ini menurut beberapa informasi, mampu meringkaskan latihan yang biasa ditempuh dalam beberapa hari, cukup dengan 2 atau 3 jam latihan. Dengan demikian memberikan jaminan yang lebih terhadap setiap pemain untuk selalu meningkatkan kualitas/skill permainannya. Saya kira sistem yang dipakai di Dortmund boleh diterapkan di Indonesia.

Selain itu, dalam aplikasinya yang perlu diperhatikan,sepakbola adalah permainan team, oleh karena itu kerjasama dalam permainan menjadi hal yang utama untuk dilakukan. Keahlian menggocek bola sangat diperlukan, akan tetapi memindahkan bola dengan segera ke rekan yang lebih bebas tanpa kawalan akan mempercepat permainan, mengurangi resiko terebut bola,  resiko cedera. Barcelona misalnya, memiliki permainan 1 atau beberapa detik lebih cepat memindahkan bola dari yang diperkirakan sebelum lawan berusaha merebutnya, hal ini lebih mengamankan penguasaan bola lebih lama.

Logikanya, yang menguasai bola akan mengendalikan permainan, dan tentu walaupun bukan jaminan, menguasai bola lebih banyak memberikan peluang menang lebih tinggi dengan catatan menjaga effektivitasnya. Inilah prinsip kerjasama dalam sepakbola yang perlu dicontoh.

(Ibrahim Arsyad, Pemerhati Sepakbola, Penulis adalah masyarakat biasa penggemar berat sepakbola)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *