Sukarnoisme dan Soehartoisme

Oleh : Harmoko

JAKARTA –  BUNG Karno dan Pak Harto adalah dua sosok yang sangat istimewa bagi Indonesia, di antara plus dan minusnya. Pikiran dan tindakan

Ilustrasi : Harmoko
Ilustrasi : Harmoko

keduanya pantas dijadikan kaca benggala, baik oleh mereka yang mengagumi maupun yang menjadi korban politiknya.

Baik Bung Karno maupun Pak Harto sama-sama ditakdirkan pernah memimpin Indonesia. Namanya tergores dalam catatan sejarah, tak saja bagi Indonesia namun juga dunia. Keduanya hadir pada zaman yang membutuhkan kepemimpinannya sesuai dengan karakter masing-masing.

Bung Karno hadir untuk membebaskan Indonesia dari penjajah dan memandu proses terbangunnya kebangsaan dan kenegaraan. Bung Karno berhasil memproklamasikan kemerdekaan dengan gagah berani sehingga Indonesia bisa berdiri sama rendah dan sama tinggi di antara negara-negara di dunia.

Sedangkan Pak Harto berhasil meletakkan kerangka landasan pembangunan secara berencana, bertahap, dan berprogres, sehingga bisa membawa Indonesia masuk pada posisi empat macan Asia.

Bung Karno berhasil membawa Indonesia sebagai kekuatan regional yang dihormati, sedangkan Pak Harto sukses membawa Indonesia sebagai negara yang dipandang secara ekonomi. Bung Karno menjadi inspirasi bagi negara-negara terjajah untuk menggalang kekuatan perlawanan, Pak Harto meredakan ketegangan Asia Tenggara yang saling bertikai sehingga solid dalam ASEAN.

Kalau kita cermati, baik Bung Karno maupun Pak Harto memiliki mimpi yang sama: mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Bung Karno, ya itu tadi, mewujudkan mimpinya lewat kemerdekaan Indonesia, sedangkan Pak Harto mewujudkan mimpinya dengan cara mencukupi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Ini artinya Pak Harto meneruskan cita-cita Bung Karno.

Bagaimana tentang demokrasi di mata kedua tokoh ini? Keduanya sangat menghargai demokrasi, namun dengan catatan. Apa catatannya? Catatannya, demokrasi yang harus dibangun di Indonesia haruslah demokrasi yang berangkat dari kearifan lokal Nusantara.

Secara tegas, baik Bung Karno maupun Pak Harto tidak setuju dengan demokrasi liberal, demokrasi dengan kebebasan yang sangat luas. Bung Karno memperkenalkan konsep Demokrasi Terpimpin, Pak Harto mengenalkan konsep Demokrasi Pancasila. Keduanya sama-sama bersumber dari sila ke-4 Pancasila yang secara operasionalnya merujuk pada UUD 1945.

Akan banyak yang bisa kita urai tentang kedua sosok ini. Bung Karno dan Pak Harto adalah dua teks yang tak akan pernah habis dibaca, baik oleh sejarawan maupun awam. Kenapa? Karena, pada diri keduanya tersimpan misteri dan teka-teki yang seringkali sulit kita tebak jawabannya.

Sebagai manusia, baik Bung Karno maupun Pak Harto, sebagaimana manusia pada umumnya, tentu tidak terlepas dari kekurangan, kekhilafan, dan kesalahan. Semuanya bisa kita jadikan hikmah agar generasi berikutnya tidak mengulanginya. Celakanya, kita kerap tidak mau belajar dari masa lalu, dari kekurangan, kekhilafan, dan kesalahan para pendahulu kita.

Alih-alih menjadikan pelajaran, kita menjadikan kesalahan masa lalu sebagai bahan hujatan, bukan kita perbaiki. Celakanya, sambil menghujat banyak di antara kita justru melakukan kekhilafan dan kesalahan yang sama. Ini sontoloyo, namanya.

Mengingat hal itu semua, jangan heran kalau belakangan kian banyak orang merindukan kebangkitan Sukarnoisme sekaligus Soehartoisme.  Sukarnoisme mengajarkan konsep kebangsaan dan kenegaraan bersumber dari kekuatan nilai-nilai bangsa sendiri (Pancasila), sedangkan Soehartoisme melanjutkan konsep Sukarnoisme dengan menempatkan pembangunan ekonomi demi kesejahteraan rakyat. Memadukan dua hal itulah yang seharusnya menjadi tugas generasi berikutnya, demi kejayaan Indonesia. (*) sumber/radar-indo

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *