Singkong dan Roti Sang Pemimpi

SALAH satu menu makanan ringan ditengah turunnya hujan sembari ditemani oleh kopi hitam adalah singkong goreng. Penganan yang dapat dikembangkan dari menu singkong akan melahirkan “sub-sub turunan” : menjadi getuk, keripik, tape, donut, comro, misro dan lain-lain.

Ustad Abdul Hamid S, S.Sos dan Ustad Agustiani./ feri
Ustad Abdul Hamid S, S.Sos.I dan Ustad Agustiani./ feri

Sungguh sangat kaya manfaat dan punya cita rasa yang menggoda selera.

Namun sebahagian kalangan yang lainnya menjadikan roti sebagai pelengkap cita rasa ketika sarapan atau bersantai diwaktu senggang tentunya roti termasuk menu tambahan andalan. Karena dari bahan dasar roti bisa dikembangkan menjadi trade mark breadtalk, zuppa soup lapis roti, roti gulung pisang cokelat, roti boy, sandwich, pizza.

Singkong dan Roti termasuk menu yang banyak di gemari berbagai lapisan masyarkat pecinta kuliner. Jika ‘singkong dan roti’ saja bisa diolah, dibentuk dan dikreasikan dengan berbagai macam jenis varian kuliner yang digemari, maka seyogyanya manusia yang diberikan Allah potensi sebagai hamba yang sempurna karakteristik ciptaannya, harus bisa mendayagunakan potensi dirinya berkembang dan berevolusi menjadi pribadi yang multi cita rasa talenta.

Jadilah pribadi yang memiliki sejuta mimpi dan harapan.

Pemimpi (n) yang berdidakasi tentunya tidak akan tinggal diam, jika melihat terjadinya stagnasi dan monotonisasi ritme kehidupan yang ia jalani.

Pemimpi (n) berbeda dengan penghayal atau pencinta lamunan panjang. Karena penghayal atau pelamun bisa menyebabkan matinya hati (rasa), jika ditinjau dalam pendekatan ajaran agama.

Terkadang realita kehidupan ini selalu berbenturan dengan idealitas berfikir. Cita-cita selalu berbeda endingnya ketika berhadapan dengan fakta kehidupan yang kita jalani. Bahkan yang lebih menggelikan, banyak di antara kita, berbeda aktivitas nyatanya dibandingkan dengan jenjang pendidikan yang ia miliki.

Seorang Insinyur pertanian terkadang menjadi seorang guru di sekolah. Lulusan dokter malah menjadi pebisnis handal, sarjana hukum malah menjadi artis ternama.

Bahwa Allah tidak akan melihat anda adalah siapa dan dari keturunan bangsawan ataukah rakyat jelata, namun dalam pandangan Allah, kemuliaan seseorang di nilai dari sisi apakah ia banyak berbuat kemanfaatan untuk orang lain atau tidak. Jika anda tidak mempunyai karya apapun yang membanggakan bagi penghuni langit maupun bagi penghuni bumi, maka ingatlah, jangan pernah anda menebarkan kebencian dan permusuhan, berbuat anarkisme dan perilaku yang tidak menyejukkan. Karena sungguh, jika bukan karena Rahmat Allah lebih luas dari pada Murka NYA, maka kita tidak akan pernah bisa merasakan bumi pertiwi Indonesia tercinta dalam naungan kedamaian dan ketentraman. Jadilah pemimpi (n), jangan pernah menjadi penghayal sejati… Wallaahu A’laam..

Abdul Hamid S (Penulis adalah Chairman Bina Ihya Mandiri, Praktisi Dakwah dan Pemerhati Sosial).

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *