Selama 10 Tahun Depok

Pembangunan Jalan di Tempat

Selama 10 Tahun Depok Jalan di Tempat/(Ist)
Selama 10 Tahun Depok Jalan di Tempat/(Ist)

POSTKOTAPONTIANAK.COM ! DEPOK-Selama 10 tahun Kota Depok hingga sekarang terlihat  belum banyak perubahan. Bahkan, di bawah kepemimpinan Walikota Nur Mahmudi Ismail kemajuan Depok jalan di tempat, itupun terlihat yang maju hanyalah di Margonda dan Juanda saja.

“Artinya, selama kepemimpinan Walikota Nur Mahmudi Ismail, kemajuan Kota Depok jalan di tempat. Itu juga hanya terlihat pertumbuhan dan pembangunan begitu pesat terjadi di Jalan Margonda dan Jalan Juanda. Sementara di wilayah Depok lainnya, tertinggal, ” terang Bakal calon Walikota Depok dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Ibrahim Kadir Tuasamu SH MM kepada wartawan kemarin, di Depok.

Dia mejelaskan, seharusnya sebagai sebuah kota madya harusnya Kota Depok memiliki alun-alun kota yang dapat dijadikan lokasi berkumpul warga Depok. Selama Nur Mahmudi menjabat sebagai walikota, itu tidak tercetus sekalipun ucapan untuk membangun alun-alun tersebut. Padaha, alun-alun sangat penting untuk dijadikan lokasi rekreasi murah warga Depok.

“Itulah kenapa saya ingin masuk ke dalam sistem pemerintahan. Kalau kita hanya sumbang saran ke eksekutif dan yudikatif tidak akan terjadi perubahan. Tapi kalau kita masuk ke eksekutif perubahan pasti terjadi,” jelas Ibrahim.

Menurut Ibrahim, bilamana nanti dia dipercaya oleh PDIP menjadi calon walikota maka tugas utamanya adalah menyerap seluruh aspirasi masyarakat dan merealisasikannya. Ia mencontohkan, beberapa keinginan masyarakat yang belum dipenuhi walikota saat ini, yakni gedung kesenian, gedung pemuda, gedung pers, dan masih banyak lagi.

 “Saya maju menjadi bakal calon walikota bukan karena haus kekuasaan, tapi karena ingin perubahan,” tuturnya.

Dia juga menambahkan, bahwa pembangunan ke depan harus berorientasi pada pemerataan. Dimana, kata dia, wilayah Sawangan dan Bojongsari harus juga mendapat porsi pembangunan yang sama dengan Margonda, Cinere, dan wilayah Depok lainnya yang lebih dahulu maju. Pemerintah harus melihat Margonda sebagai wilayah yang sudah tidak layak lagi dilakukan pembangunan atau kemacetan akan semakin parah.

“Kehadiran apartemen dengan total kamar yang mencapai 3000 memiliki dampak pada transportasi. Kebanyakan penghuni itu memiliki kendaraan sendiri, dan ini bakal menambah kemacetan di Jalan Margonda jika tidak dilakukan perubahan orientasi,” ujar Ibrahim.

Ibrahim menegaskan, ia juga mengacungkan jempol dengan apa yang sudah dilakukan Walikota Nur Mahmudi Ismail. Walaupun, nilai pembangunan yang dia lakukan hanya 40 sampai 50 persen saja.

“Namun kita harus dapat mengubah kebiasaan masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam kemajuan Depok, bukan terus menjejali masyarakat dengan program-program pemerintah,” tandasnya./Faldi/Sudrajat

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *