Santri Garda Depan Tangkal Radikalisme

Dialog Publik dengan tema "Revialisasi Pesantren dalam menangkal Radikalisme serta peran penting santri terhadap NKRI./ foto: slamet f
Dialog Publik dengan tema “Revialisasi Pesantren dalam menangkal Radikalisme serta peran penting santri terhadap NKRI./ foto: slamet f

MEMPAWAH ! POSTKOTAPONTIANAK.COM-Dalam membentengi pemuda dari gerakan radikalisme yang santer beredar di Indonesia belakangan ini, tak lantas pondok pesantren tinggal diam, hal ini seiring dengan begitu banyaknya masalah gerakan radikalisme yang menjadi pusat pemerintah.

foto : slamet funata
foto : slamet funata

Lembaga Pendidikan Babussalam bekerjasama dengan Forum Peduli Ibu Pertiwi (FPIP) Kalimantan Barat serta Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC-PMII) kabupaten Mempawah menggelar Dialog Publik dengan tema “Revialisasi Pesantren dalam menangkal Radikalisme serta peran penting santri terhadap NKRI” yang diadakan di Aula Pondok Pesantren Babussalam desa paniraman kecamatan Sungai Pinyuh, Mempawah.

Ketua panitia dialog, Abdul Hakam
mengatakan sangat bersyukur dan berterima kasih atas kerjasama Forum Peduli Ibu Pertiwi Kalimantan Barat atas kepeduliannya membangkitkan semangat nasionalisme santri dan pelajar di bumi khatulistiwa ini.

“Alhamdulillah, ucapan terima kasih atas suport dari FPIP dan PC PMII Mempawah yang mendukung dialog hari ini hingga terlaksana walaupun molor karena hujan” ungkapnya.

Abdul Roni, mewakili Forum Peduli Ibu Pertiwi (FPIP). mengapresiasi kegiatan yang mengangkat tentang bahaya radikalisme, karena memang gerakan ini tidak main-main. Namun, untuk menjawab tantangan yang tentu jika dibiarkan akan membahayakan negeri ini.

“Membendung terorisme haruslah objektif dan hati-hati agar tidak salah langkah, peran ulama dan santri sangat diharapkan dalam menjaga kebhinekaan republik ini” ungkapnya saat memberikan sambutan.

Sahrudin, S.Pd.I pimpinan lembaga Pendidikan Babussalam dalam sambutnnya, mengingatkan kepada santri dan pelajar yang hadir untuk tetap semangat belajar dan menjaga agama Islam. Gerakan aliran keras di khawatirkan mengancam santriyang notabenenya merupakan pelajar yang masih polos pengetahuan.

Polres Mempawah melalui Kasat Bimas, AKP Gotot Purwanto menyampaikan, gangguan keamanan Indonesia memang sampai detik ini menjadi permasalahan yang perlu diselesai oleh aparat kepolisian.

Ditakutkan apabila penerus bangsa sudah diracuni oleh radikalisme, tentu sangat membahayakan keamanan dan mengganggu stabilitas pembangunan bangsa.

“Ciri-ciri paham radikalis yaitu berusaha menyalahkan pemerintah, karena akan mereka sulit dan selalu menghalang gerakan mereka” katanya.

Dikatakannya bahwa radikalisme muncul karena ketidaktahuan mereka akan ajaran agama atau karena pemahaman masyarakan yang berbeda tentang agama tanpa mengetahui yang benar membuat mereka awam pengetahuan.

Ketua Nahdlatul Ulama Kubu Raya, Abdussalam, mengungkapkan. Bahwa potensi pondok pesantren yang saat berkisar 30 ribu pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia dengan ratusan ribu santri terus menanamkan nilai-nilai ke-Indonesiaan dan Nasionalisme.

Islam harus menjadi garda terdepan dalam pembangunan NKRI, dengan jumlah umat Islam yang menjadi mayoritas penduduk di Indonesia. Sudah saat umat Islam mengambil peran menjaga keutuhan bangsa,
diharapkan santri dan pondok pesantren terus melakukan sosialisasi baik kepada tokoh pendidikan maupun tokoh masyarakat di Provinsi Kalbar dalam rangka meminimalisir gerakan radikalisme.

“NU datang untuk memupuk ukhuwa Islamiyah dari berbagai golongan di indonesia dengan wadah sosialisasi merupakan wujud penangkalan gerakan ini insyaallah negara kita akan aman dari gangguan luar,” ungkapnya.

Junaidi, Ketua IKBM Mempawah menambahkan bahwa gerakan radikalisme yang mulai tumbuh seperti ISIS yang akhir-akhir ini gencar dikabarkan di muka publik marupakan bagian dari gerakan radikalisme yang tersebar di wilayah Indonesia.

“Santri membawa bendera kedamaian umat islam dengan latar belakang pesantren saya yakin Islam tidak di cap sebagai sarang teror” jelasnya.

Dia menyayangkan jika masih ada masyarakat yang menerima atau bergabung untuk membelah Islam, hal itu juga akan membuat kotak pemecah belah umat yang selama ini rukun.
Islam Indonesia sangat harmonis dan begitu majemuk karena terawat sejak zaman walisongo, persamaan karakter bernuansa Islami sudah cukup tergambar pada masa dakwah dengan polesan prilaku pra-Islam di Indonesia.

(slamet funata)

 

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *