Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Akan Mengkaji Profil Lulusan Pendidikan Dasar di Indonesia

POSTKOTAPONTIANAK.COM — JAKARTA !! Minimnya kualifikasi lulusan pendidikan dasar yang tidak melanjutkan pendidikan karena keterbatasan akses menjadi sorotan berbagai pihak. Lulusan pendidikan dasar khususnya lulusan SD dan SMP mengalami kesulitan dalam persaingan dunia kerja. Hal ini salah satunya disebabkan lemahnya sklill lulusan pendidikan dasar terutama dalam hal kepemimpinan, penghitungan masalah, pemecahan masalah, kreativitas. Skill yang lemah juga berdampak pada minimnya tingkat produktivitas yang dihasilkan. Persoalan ini mengemuka dalam diskusi awal Penelitian “Profil Lulusan Pendidikan Dasar terhadap Pembangunan Manusia Dalam Rangka Kebijakan Pengembangan Kurikulum Masa Depan” yang bertempat di  di ruang rapat Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud, Selasa (12/4/2016).

Menurut Maria Listiyanti, koordinator penelitian ini, berdasarkan data yang ada,  60 persen angkatan kerja di Indonesia berpendidikan rata-rata di bawah SMP. Untuk itu, pengembangan kurikulum dari SD dan SMP membutuhkan rancangan yang berbasis pada peningkatan kapabilitas siswa agar tangguh menghadapi masalah yang dihadapinya.

“Penelitian ini  bertujuan menggali data dan informasi mengenai pengembangan sistem, kebijakan, struktur dan muatan kurikulum yang berkaitan dengan kebijakan sosial, politik dan kebudayaan serta implementasi kurikulum terkini sebagai dasar kebijakan pengembangan kurikulum masa depan.” Ujar Maria.

Frans Viki Djalong, pengajar pada Departemen Sosiologi FISIPOL UGM yang hadir dalam diskusi awal ini mengungkapkan bahwa kurikulum Indonesia di era global harus mampu menangkap perubahan seiring dinamika lokal-nasional-global yang ada. Tantangan kurikulum kita saat ini adalah reformulasi kebijakan pendidikan beriorentasi pembangunan manusia, penataan sistem tata kelola pendidikan khususnya koordinasi pusat-daerah, koordinasi antar sektor di pusat dan koordinasi antar sektor di daerah, penguatan kapasitas tenaga pendidik, fasilitas pendidikan, dan koordinasi padu antara pendidik, orang tua murid, dan komunitas pendidikan.

“Kebijakan kurikulum harus mampu melihat berbagai sektor yang terkait. Kemitraan perlu dibangun erat antara masing-masing pengambil kebijakan yang terkait dengan pendidikan baik di pusat maupun daerah. Terutama di wilayah timur Indonesia, dari perspektif pengembangan manusia, minimnya sentra-sentra pendidikan dan pusat kebudayaan multikultural berdampak pada rendahnya insentif belajar masyarakat. Dalam evaluasi kurikulum yang dilakukan, harus mampu memperhitungkan resiko yang ditimbulkan dari pembangunan ekonomi setempat, dinamika budaya, politik lokal, kondisi geografis dan capaian kurikulum yang sudah dicapai.” kata pria yang akrab disapa Viki ini di Jakarta, Selasa (12/4/2016).

Diskusi awal ini merupakan rangkaian dari persiapan penelitian yang akan fokus melihat profil lulusan pendidikan dasar terutama di satuan pendidikan dasar, SD dan SMP terhadap pembangunan manusia, dalam hal ini kesempatan siswa memasuki pendidikan lanjutan atau kemandirian dalam hidup. Berbagai unsur yang terkait diundang dalam kegiatan ini yang berasal dari unsur LSM, perwakilan guru dan kepala sekolah di Jabodetabek, peneliti, pegiat dan aktivis pendidikan, dan dosen pengajar dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia./*US/PKP

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *