PROVOKATOR 1 JULI

ILUSTRASI/IST
ILUSTRASI/IST

SETIAP orang memiliki momentum bersejarah yang ditandai dengan hari berikut tanggal. Misalnya saja hari ulang tahun kelahiran yang biasanya diperingati setiap tahun sekali. Demikian juga sebuah negara maupun institusi dan organisasi, memiliki hari jadi yang dimeriahkan dengan perayaan. Ada yang heroik seperti hari pahlawan, ada yang bernuansa kegamaan dan ada pula yang biasa-biasa saja hanya lingkupprivate atau personal.

Apapun jenis perayaan maupun peringatan, pasti memerlukan sebuah alat berupa kalender digital, kalender elektronik atau jenis kalender yang konvensional yang terbuat dari lembaran-lembaran kertas. Ya…demikianlah hanya instrumen, tergantung selera masing-masing. Peringatan berharga secara personal adalah Ultah kelahiran. Namun bagi sebuah negara yang pernah mengalami masa-masa penjajahan kolonialisme dan imperialisme adalah saat merebut maupun mendapatkan kemerdekaan.

Bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tentu saja tanggal 17 Agustus yang paling monumental ditandai dengan warna merah pada hari dan tanggal dimaksud, sama halnya libur nasional. Negara lain juga demikian. Sebagai contoh, betapa suka citanya rakyat Hongkong yang memperingati detik-detik kembali Hongkong dari genggaman Kerajaan Britania Raya (Inggris) pada tanggal 1 Juli 1997.

Bagi rakyat China tentu saja berharga dan di kalender mereka yang terbuat dari kertas mendapat tanda khusus berupa lambang palu dan arit sebagai simbol komunis. Mereka juga memperingatinya dengan meriah, bahkan sering diiringi dengan pesta kembang api. Aneka rupa dan warna menghiasi langit negeri tirai bambu itu. Dar..der…dor…bunyi petasanpun bersahut-sahutan. Tentu saja dikhususkan untuk peringatan kemerdekaan, bukan perayaan tahun baru dan bukan pula ritual keagamaan.

Singkat kata, itulah hubungan erat antara kalender dan arti pentingnya perayaan bersejarah. Tidak ada masalah, malah negara bersangkutan mewajibkan hingga terdapat pengibaran bendera sebagai ciri khas sebuah bangsa. Indonesia punya merah putih, Negara China punya lambang palu arit. Mengapa tiba-tiba di belahan kecil Indonesia, tepatnya di Kota Singkawang dihebohkan dengan persoalan kalender? Itu kan cuma kertas biasa, gampang disobek dan dibakar menjadi abu. Bisa hilang….selesai masalah. Gitu ajak kok repot!

Eh…ternyata tidak dapat semudah itu bagi mereka pencinta NKRI, lantaran lambang palu arit identik dengan peristiwa memilukan atas tragedi bangsa ini. Ini soal kehormatan bangsa (honour of state) yang terpatri dalam sanubari anak bangsa. Ya kalau begitu, kalender berlambang palu arit itu salah tempat (locus). Andai saja beredar di Negara China, tentu tidak bermasalah dan bahkan wajib dicantumkan lambang tersebut tepat pada 1 Juli. Sebab untuk peringatan pada tanggal yang sama justru tanggal tersebut di Indonesia menjadi hari penting bagi insan aparat kepolisian yang lazim disebut Hari Bhayangkara. Ini juga tak terlepas dari sejarah awal kepolisian hadir di tengah rakyat tercinta yakni tanggal 1 Juli 1946 melalui Penetapan Pemerintah Tahun 1946 No. 11/S.D, dimana Djawatan Kepolisian Negara bertanggung jawab langsung kepada Perdana Menteri.

Wah…pemaparan sejarah ini bisa dibilang provokasi nih. Iya, tidak apa-apa menjadi provokator yang baik dan benar agar jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kemudian, apa yang harus diberlakukan terhadap benda bernama kalender tersebut? Apakah dibiarkan saja atau perlu ditarik dari peredaran? Bagaimana dengan pihak yang mengimpor atau mungkin ada yang membuatnya di dalam negeri? Jika sengaja ada yang menyebarkan ribuan kalender, apakah penyebar dikenakan sanksi hukum? Truss…masyarakat yang notabene Warga Negara Indonesia (WNI) tetapi menyimpan atau menggunakan kalender itu, diapakan?

Ah sudahlah…terlalu banyak tanya. Yang jelas, kalender berlambang palu arit itu manfaatnya segudang, lantaran  warga Tionghoa dari kalangan tua banyak mengerti bahasa mandarin, sehingga bisa membaca kalender itu plus feng sui untuk menentukan hari-hari bagus. Tapi, kenapa ada lambang palu arit? Nah lho pertanyaan lagi. Apakah identik dengan bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI)? Bagaimana apabila paham komunis berkembang biak di NKRI? Ada simbol atau lambang dan disisi lain terdapat paham. Inilah yang sensitif…!

Yang mengherankan, mengapa kasus kalender palu arit meledak saat perhelatan Pilwako Singkawang? Boleh jadi berkembang anggapan sebagai bagian skenario pembunuhan karakter terhadap pasangan calon tertentu. Lumrah saja lantaran politik. Tetapi supremasi hukum patut ditegakkan. Mungkin saja waktunya yang tepat saat Pilwako. Untuk apa ada aturan TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966 dan UU Nomor 27 tahun 1999 tentang perubahan dari KUHP pasal 107, Pasal 1 Menambah 6 (enam) ketentuan baru di antara Pasal 107 dan Pasal 108 Bab I Buku II Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang Kejahatan Terhadap Keamanan Negara. Apa filosofi aturan itu dibuat para pendiri bangsa ini, kalau bukan untuk kedaulatan NKRI?

Atas kasus kalender palu arit itu, justru warga Tionghoa di Singkawang yang sedikit banyak menjadi sasaran. Padahal kalau soal cinta tanah air, jangan anggap remeh kehadiran Tionghoa. Dari sedikit nukilan sejarah misalnya, beberapa orang kapiten Tionghoa yang diangkat Belanda sebagai pemimpin komunitas diantaranya So Beng Kong dan Phoa Beng Gan membangun kanal di Batavia.

Di Yogyakarta, Kapten Tionghoa Tan Djin Sing sempat menjadi Bupati Yogyakarta. Kelompok Tionghoa juga pernah berjuang bersama etnis lain melawan Belanda di Jawa dan di Kalimantan. Bersama etnis Jawa, kelompok ini berperang melawan VOC tahun 1740-1743. Di Kalimantan Barat terdapat “Republik” Lanfong yang dibentuk komunitas Tionghoa untuk berperang melawan pasukan Belanda pada abad XIX. Ketika Sumpah Pemuda, Sie Kong Liong menghibahkan gedung Sumpah Pemuda dan ada yang masuk kepanitian seperti Kwee Tiam Hong dan lainnya.

Sekarang, warga Tionghoa setiap tanggal 17 Agustus senantiasa memasang bendera kebangsaan Indonesia merah putih di halaman rumahnya masing-masing. Sayang jika kondisi sosial dan budaya yang sudah berakulturasi positif sejak dahulu ternodai secuil kalender.

Demikian pula hendaknya etika dan norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara perlu terus dibenahi. Sebab lambang palu arit (komunis) sampai kapanpun akan menjadi musuh burung garuda (Pancasila). Mulai sekarang, siapapun, tinggalkanlah kalender dan atribut berlambang komunis. Jangan cetak dan jangan menyebarkannya di Indonesia. Gunakan kalender bernuansa nasionalis atau religius. Masih banyak gambar dan simbol yang baik dan benar. Mahal sedikit tidak apa, demi membuktikan kecintaan kepada republik ini. Sebab aku, kalian dan kita semua adalah satu tanah air, Indonesia. (*R. Rido Ibnu Syahrie/Praktisi Pers Kalbar).

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *