Pramuka Distribusikan Daging Kurban ke Camp-Camp Pengungsian Rohingya Myanmar

Kak Eko Sulistio saat mengunjungi camp pengungsian Sittwey di Distrik Rakhine State. (Foto: Humas Kwarnas)
Kak Eko Sulistio saat mengunjungi camp pengungsian Sittwey di Distrik Rakhine State. (Foto: Humas Kwarnas)

JAKARTA ! POSTKOTAPONTIANAK.COM – Tidak seperti di Indonesia perayaan hari raya Idhul Adha tahun 1437 H oleh kelompok suku Rohingya di Myanmar berlangsung dengan pengawasan yang ketat dan akses yang terbatas. Masjid banyak ditutup, ucapan kalimat takbirpun dilarang, seolah tidak pernah nampak wajah ceria di mata mereka.

Demikian disampaikan oleh Andalan Nasional Kwarnas Gerakan Pramuka Bidang Pengabdian Masyarakat dan Siaga Bencana Kak Eko Sulistio. Ia kembali melakukan aksi kemanusiaan mendatangi tempat pengungsian suku Rohingya dengan membawa sejumlah bantuan, yakni penyaluran hewan kurban.

“Saya mengunjungi camp pengungsian Sittwey di Distrik Rakhine State. Di sini seperti di Gaza Palestina, jadi seperti penjara besar, di sinilah tempat berkumpulnya suku Rohingya yang bertahun-tahun hidup dalam penderitaan,” ujar Kak Eko dalam keterangan tertulisnya, Jumat (15/9/2016).

Kak Eko menuturkan, kondisi suku Rohingya di sini sangat memprihatinkan. Ia bahkan terkejut dan sedih ratusan orang suku Rohingya ternyata mengalami gizi buruk. ‎Kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Mereka hidup dalam ketidakpastian dan kelaparan.

“Waktu itu saya tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya mereka hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi. Saya pikir, saya menemukan orang busung lapar itu di Etiopia, tapi ternyata di Asia Tenggara ada. Dan ini menimpa saudara-saudara kita sesama umat Muslim,” terangnya.

Dengan segala keterbatasan Kak Eko berupaya mendistribusikan daging korban sumbangan dari Kwarnas secara merata. Ia menceritakan, suku Rohingya sangat senang dengan bantuan dari Indonesia. Sebab, sudah lebih dari lima tahun mereka tidak pernah makan daging korban di Hari Raya Idul Adha.

“Ternyata saya baru tahu kalau mereka sudah lama tidak memakan daging korban. Makanya mereka sangat senang sekali,” tuturnya.

Selain memberikan daging, Kak Eko mengatakan, pihaknya bersama para relawan kemanusiaan yang lain juga memberikan bantuan dalam bentuk sembako. Adapun sumbangan dari Kwarnas sendiri berupa pemotongan sapi empat dan kambing enam ekor.

Diketahui, ‎meski sudah tinggal berabad-abad lamanya di Myanmar, Pemerintah Myanmar menganggap Rohingya bukan kelompok etnis asli. Keturunan Rohingya tetap dipandang sebagai pengungsi ilegal etnis Bengali dari negara tetangga Banglades. Di pihak lain, Banglades juga tidak mengakui mereka sebagai warga negara. ‎(HA/HK)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *