Petani MPE Keluhkan Antrian Pabrik

Perusahaan Berdalih Kapasitas Pabrik Menurun

Reporter : Mus Mussin

POSTKOTAPONTIANAK.COM ! SEKADAU-Petani kelapa sawit PT. Multi Prima Entakai (MPE) mengeluh akibat

Martiyus, Ketua KUD Satrimas Sekadau./ms
Martiyus, Ketua KUD Satrimas Sekadau./ms

tandan buah segar (TBS) milik mereka belakangan ini cenderung kesulitan masuk pabrik. Salah satu faktor pemicunya adalah antrian panjang yang mengular di sepanjang jalur masuk pabrik MPE di Semuntai.

Martiyus, Ketua KUD Satrimas, Desa Engkersik, Sekadau Hilir mengaku TBS milik para petani yang tergabung dalam KUD Satrimas mengalami keterlambatan pada proses penimbangan. Sebab, kendaraan angkutan TBS sulit masuk pabrik. Petani mengaku merasa dirugikan akibat lambatnya proses penimbangan.

“Antrian panjang, TBS hari ini baru bisa ditimbang besok. Jelas ini merugikan petani. Petani merasa tidak adil,” ungkap Martiyus ditemui di Sekadau, (9/9) kemarin.

Menurut Martiyus, kerugian yang dialami petani berupa penurunan timbangan TBS. Sebab, TBS yang baru ditimbang keesokan harinya setelah panen tentu akan berkurang bobotnya.

“Hari ini saja ada sekitar 60 ton TBS kami yang tidak bisa ditimbang, otomatis besok berkurang timbangannya. Bisa-bisa harga TBS bulan depan juga ikut turun,” kata Martiyus.

Seingatnya, baru kali ini terjadi antrian panjang di pabrik CPO PT MPE. Martiyus mengaku sudah berkoordinasi dengan manajemen pabrik perihal antrian panjang tersebut. Namun, menurutnya jawaban dari pihak pabrik kurang memuaskan.

“Alasan mereka kapasitas pabrik turun. Tapi kami lihat di dalam kosong tidak ada antrian. Sementara ada kendaraan PT MPE yang lewat saja di antrian, kenapa bisa begitu,” cetus Martiyus.

Terpisah, manajer umum PT MPE Juliet Oscar Siera saat dikonfirmasi perihal keluhan petani sawit menjelaskan, antrian panjang di pabrik tidak dapat dihindarkan. Juliet menegaskan, tidak ada unsur kesengajaan dari manajemen pabrik untuk menunda-nunda proses penimbangan TBS.

“Sekarang sedang krisis global, harga CPO turun. Tapi bukan itu saja. Kapasitas pabrik kami pun sudah menurun, maklum sudah berumur. Kalau dulu setiap hari mampu 1.500 ton, sekarang paling kuat 1.100 ton. Jadi tolong petani mengerti, ini juga sudah kami sosialisasikan ke KUD-KUD,” jawab Jos, sapaan akrab Juliet.

Kapasitas 1.100 ton itu pun sudah diatur sedemikian rupa dengan kuota 800 ton untuk TBS plasma dan sisanya buah inti. Menurut Jos, petani sawit harus lebih mengerti dengan kondisi ekonomi saat ini. Ia menilai, petani harusnya lebih bersyukur karena pabrik masih membeli TBS dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah dengan rerata Rp1.481 per kilogram.

“Ini saja kami masih beli TBS sesuai harga koran. Ya walaupun sebetulnya kondisi tidak memungkinkan, tapi kami berupaya agar buah petani bisa ditampung. Hanya saja kapasitas pabrik memang sudah berkurang, itu yang menyebabkan antrian,” terangnya./*

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *