Pengadilan Jerman Izinkan Penggunaan Jilbab di Sekolah

JAKARTA – Para pengajar wanita Muslim di sekolah-sekolah Jerman kini bisa bernapas lega dan bisa menggunakan jilbab ketika tengah mengajar. Sebab, Mahkamah Konstitusi mencabut larangan penggunaan jilbab bagi para guru.

 Ilustrasi wanita berjilbab.  (Fernando Randy)
Ilustrasi wanita berjilbab. (Fernando Randy)

Stasiun berita Channel News Asia, Sabtu, 14 Maret 2015 melansir, akibat adanya larangan yang berlaku sejak 2003 itu, beberapa negara bagian di Jerman melarang penggunaan jilbab bagi siswa dan pengajar beragama Islam. Padahal, di saat yang bersamaan, mereka tetap mengizinkan penggunaan simbol-simbol Kristiani seperti salib dan kebiasaan para suster.

Kasus ini bermula dari pengadilan di wilayah Karlsruhe yang tengah menyidangkan sebuah kasus yang diajukan oleh seorang wanita Muslim. Dia dilarang mengajar oleh pihak sekolah, karena mengenakan jilbab.

Pihak sekolah beralasan simbol-simbol religi bisa menimbulkan ancaman dan mengganggu kegiatan sekolah. Sementara itu, wanita menilai tidak ada ancaman serius terhadap penggunaan jilbab di sekolah.

Keputusan itu disambut baik oleh seorang penegak hukum dari partai oposisi, Hijau, Volker Beck. “Ini merupakan sebuah hari yang baik bagi kebebasan beragama,” ujar dia.

Beck berpendapat, jilbab yang dikenakan oleh kaum Muslim, Yahudi, dan Kristiani tidak menimbulkan bahaya apa pun. Menurut dia, jauh lebih berbahaya beberapa kelompok ekstremis seperti grup sayap kanan yang menamakan diri Alternatif untuk Jerman (AfD), neo-Nazi, dan kelompok Muslim Salafi.

Namun, keputusan Mahkamah Konstitusi itu bisa menimbulkan masalah kemudian hari. Asosiasi Guru-Guru Jerman (DL), keputusan tersebut dianggap mengabaikan netralitas beragama dan prinsip politik di sekolah serta tempat umum.

“Kami khawatir jika aturan ini bisa menyebabkan gangguan di beberapa sekolah tertentu, contohnya jika orang tua siswa non-Muslim yang tidak setuju anak-anaknya diajar oleh guru-guru yang mengenakan jilbab,” kata Presiden DL, Josef Kraus.

Harian Jerman, TAZ, turut memperingatkan adanya protes dari kelompok anti-Islam PEGIDA yang justru akan kembali berunjuk rasa dan memperingatkan Eropa tengah diambil alih oleh Islam.

“PEGIDA malah justru akan merayakan ini (dengan berunjuk rasa),” tulis TAZ di halaman depan di bawah sebuah foto berwarna berisi jilbab yang dipajang di sebuah toko di Berlin.(vv/RI)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *