PEMKAB SUMENEP DUKUNG RENCANA PENETAPAN HARI KERIS NASIONAL

POSTKOTAPONTIANAK.COM

( SUMENEP ) – Minggu (3/5), bertempat di rumah dinas Wakil Bupati Sumenep, tokoh perkerisan sumenep yang juga wakil bupati Sumenep Ahmad Fauzi bersama paguyuban pelestari keris dan tosan aji di Kabupaten Sumenep menyambut baik rencana Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud yang melakukan kajian dalam rangka pendukungan penyusunan naskah akademik pengajuan hari keris nasional kepada Presiden RI. Menurut Ahmad Fauzi, penetapan hari keris nasional sangat penting sebagai usaha pengakuan secara nasional terhadap keris sebagai warisan tak benda yang telah diakui oleh UNESCO pada 25 November tahun 2005 lalu sekaligus dalam usaha menaikkan dan mensejahterakan ekonomi warga Sumenep sebagai sentra empu dan perajin terbanyak di Indonesia bahkan di Asia.

“Rencana Hari Keris Nasional ini sangat penting untuk menjaga warisan budaya sekaligus memompa ekonomi warga Sumenep sebagai sentra perajin terbanyak se Indonesia bahkan di Asia. Kami sangat menyambut baik upaya ini karena sesuai dengan komitmen kami sebagai Kota Keris Indonesia. Orang nanti dimanapun akan tahu, Sumenep adalah negeri para empu. Ingat keris ingat sumenep. Ini branding kami ke depan.”

Sebagai bentuk komitmen Pemkab Sumenep untuk mendukung usaha tersebut, Wabup berjanji Pemkab Sumenep akan mendorong perda yang berkaitan dengan perkerisan dan juga segera membuat surat dukungan sebagai penguatan terhadap kajian akademik yang sedang disusun oleh Balitbang Kemendikbud.

Dukungan lain juga disampaikan oleh Sekda Kabupaten Sumenep, R. Idris. R. Idris menyambut baik upaya ini dan pemkab Sumenep siap mendukung upaya pengajuan hari keris nasional.

“Kami sangat mendukung langkah pengajuan hari keris nasional ini. Bahkan pada tahun ini dalam event visit sumenep kami akan meresmikan museum keris serta pemecahan rekor MURI empu terbanyak di Indonesia.” Ujarnya.

Saat ini, tim peneliti dari Balitbang Kemdikbud sedang melakukan Kajian Dampak Pengakuan Keris oleh UNESCO dalam Upaya Pelestarian Nilai Budaya di Sumenep. Unggul Sudrajat selaku ketua tim penelitian mengatakan bahwa penelitian ini diperlukan dalam upaya mendapatkan data terbaru yang akan dimasukkan dalam naskah akademik.

“Penelitian ini merupakan salah satu wujud komitmen pemerintah, khususnya Puslitjakdikbud, Balitbang Kemendikbud untuk mendukung upaya baik komunitas dan masyarakat perkerisan yang mendambakan hari keris nasional. Kami bekerjasama dengan empu dan perajin di Kabupaten Sumenep, paguyuban keris seperti Paguyuban Kraton, Pakem, Gapensaka, Kopensaka dan Megaremeng serta Pemerintah Desa yang di wilayahnya terdapat empu dan perajin keris. Dalam kajian yg kami lakukan, sebanyak 99% responden setuju adanya hari keris nasional. Dari jumlah tersebut, sebanyak 80.3% setuju hari keris nasional pada 25 November sesuai tanggal pengakuan keris Indonesia oleh UNESCO.”

Unggul berharap upaya ini bisa berjalan lancar dengan adanya dukungan dari berbagai pihak karena jika Hari Keris Nasional dapat terwujud maka yang akan merasakan dampak secara langsung adalah empu dan perajin keris di Indonesia.

“Penelitian yang kami lakukan dengan dibantu komunitas dan masyarakat sumenep sejak 2011 sampai 2016 menunjukkan bahwa keris mempunyai dampak positif yang nyata bagi masyarakat. Selain pertambahan jumlah empu dan perajin yang pesat, pertumbuhan hasil produksi juga menggembirakan. Ekspor utama keris saat ini Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. Data yang kami miliki menunjukkan bahwa perajin keris terbanyak ada di sumenep. Namun masih ada kendala berdasarkan masukan dari masyarakat terutama aspek hukum dan distribusinya. Hal ini yang harapannya dapat segera diselesaikan agar tidak menyulitkan pelaku perkerisan”, pungkasnya./rls-ungul drjt.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *