Pelantikan Asosiasi PSSI

Walkot Depok Tak Peduli Sepak Bola 

POSTKOTAPONTIANAK.COM, DEPOK –Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail dan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Depok, dinilai tak peduli sepak bola. Sebab kedua orang tersebut tidak menghadiri pelantikan dan rapat kerja Asosiasi PSSI Kota Depok. Padahal sepakbola memiliki magnet sangat luar biasa.

Pelantikan PSSI Depok (Ist)
Pelantikan PSSI Depok (Ist)

 ” Wali kota dan Ketua KONI sama sekali tidak memahami sepakbola,” tegas Ketua Asosiasi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Provinsi Jawa Barat (Jabar), Duddy Rustandi, kepada wartawan kemarin, usai melantik pengurus Asosiasi PSSI Kota Depok.

Dia menerangkan, bahwa wali kota dan Ketua KONI Depok mungkin tidak memahami kalau sepakbola juga menyangkut nama baik sebuah wilayah dan dapat mengangkat citra daerah. Sehingga perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Depok terhadap sepakbola sangat rendah dan berdampak pada melempemnya perkembangan sepakbola.

” Mudah-mudahan dalam Pemilukada mendatang lahir pemimpin-pemimpin yang mencintai sepakbola. Saya tidak ingin berpolitik, tapi Depok memang membutuhkan sosok pemimpin yang peduli dengan sepakbola,” terang Duddy.

Duddy mengingatkat, padahal Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, sangat peduli dengan sepakbola. Bahkan kang Aher sadar benar bahwa sepakbola mampu membawa dan mengharumkan nama baik wilayah.

 ” Saya bangga dengan kepemimpinan Kang Aher. Namun saya juga bingung kenapa di Depok berbeda sekali, kan partainya sama,” imbuhnya.

Ditempat yang sama Yuyun Wirasaputra, selaku  Ketua Asosiasi PSSI Kota Depok, meminta momentum pelantikan ini sebagai titik awal kebangkitan kembali sepakbola di Kota Depok. Ia juga menegaskan, para pengurus PSSI Kota Depok tidak ingin hidup dari sepakbola, tapi memiliki semangat juang menghidupkan sepakbola. “Makanya kita berupaya mendidik generasi muda agar mereka memiliki ilmu, menghindari mereka dari hal-hal yang melawan hukum,” ucapnya.

Yuyun juga berharap sepakbola dapat mensejahterakan warga Depok. Karena sekarang ini sepakbola sudah menjadi profesi. Dalam catatan PSSI Kota Depok, kata dia, terdapat 20 warga Depok yang bermain divisi profesional. “Mereka sekarang sudah dibayar dengan nilai ratusan bahkan miliaran rupiah,” ucap Yuyun.

Yuyun mengakui kekurangan pengurus PSSI Kota Depok selama ini, sehingga Persatuan Sepakbola Kota Depok (Persikad) tidak lagi berada di bawah pengelolaan PSSI Kota Depok. “Kami akui kekurangan kami. Kenyataanya sekarang Persikad diurus Pemkab Purwakarta. Jujur kami tidak memiliki dana untuk biaya operasional, gaji para pemain, dan tidak memiliki lapangan memadai. Sekarang saja Persikad masih memiliki utang hingga Rp2 miliar,” imbuh Mantan Wakil Wali Kota Depok itu. (Faldi/Said)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *