Pancasila Menarik Perhatian Peserta ASEAN Roundtable Forum

KUALA LUMPUR, POSTKOTAPONTIANAK.COM-Salah satu presentasi menarik dalam ASEAN Roundtable Forum

Nazaruddin Nasution Mempresentasikan Pancasila dan ASEAN di ASEAN Roundtable Forum di Kuala Lumpur 04 Oktober 2015./ist
Nazaruddin Nasution Mempresentasikan Pancasila dan ASEAN di ASEAN Roundtable Forum di Kuala Lumpur 04 Oktober 2015./ist

adalah dari Nazaruddin Nasution, M.A tentang “Moderate Islam and Pancasila in Indonesia”. Hanya Indonesia di forum itu diberikan waktu khusus mempresentasikan  ideologi negaranya. “Kita harus berterima kasih pada seluruh pendiri Indonesia yang telah mewariskan Pancasila”, ujar Nazaruddin setelah presentasinya di Ruangan Treaty, Kementerian Luar Negeri Malaysia pada Minggu siang ini (04/10/2015).

Nazaruddin Nasution (74 th) yang merupakan teman akrab Almarhum Nurcholish Madjid ini menjelaskan satu persatu sila dalam Pancasila. Sayang waktunya yang dibatasi menjadikan penjelasan kurang maksimal, padahal seisi ruangan antusias menyimak. Mantan Dubes RI untuk Kamboja ini juga mengakui bahwa di Indonesia juga ada konflik seperti di negara-negara lain, namun jika diteliti lebih dalam, konflik-konflik itu lebih karena politik dan ekonomi, bukan karena perbedaan agama. Nazaruddin memberikan banyak contoh bahwa Pancasila berhasil mempersatukan segala perbedaan di Indonesia hingga kini. Mantan aktivis ini berharap agar anak-anak muda Indonesia mampu menjelaskan Pancasila kepada teman-temannya di ASEAN.

“Pancasila ini dapat dibaca dan dipelajari oleh anak-anak muda di ASEAN, karena mengandung nilai-nilai yang jika dipraktekan dengan baik akan mampu menjaga perdamaian ASEAN dan dunia”, Kata Nazaruddin Nasution yang juga penulis buku “Dari Aktivis Menjadi Diplomat” ini.

Usulan lain dari Indonesia dalam forum itu adalah perlunya memaksimalkan pemanfaatan internet dan media sosial untuk integrasi ASEAN. Hal ini disampaikan oleh Hariqo Wibawa Satria dari Komunitas Peduli ASEAN (@ASEANcom2015). Menurut Hariqo Wibawa, media sosial dapat mempercepat integrasi ASEAN yang produktif, namun media sosial juga bisa merusak integrasi ASEAN.  “Bukan hal yang tidak mungkin, jika pemicu ketegangan antarnegara ASEAN terjadi karena media sosial, atau bisa saja ada pihak yang ingin ASEAN tidak stabil, kita harus cek segala informasi yang disebarkan tentang suatu negara”, Jelas Hariqo yang juga Direktur Eksekutif Komunikonten ini. Karena itu ia mengusulkan agar ada semacam kesepahaman untuk menggunakan media sosial dengan benar di ASEAN. “Di media sosial kita juga bisa cek berapa banyak yang membicarakan, mengkritik ASEAN”, Ungkap Hariqo.

ASEAN Roundtable Forum dihari 80 orang penggiat ASEAN dan para pakar dari seluruh negara ASEAN. Kegiatan ini diadakan Institute of Diplomacy and Foreign Policy Relations (IDFR) di Kementerian Luar Negeri Malaysia, Jalan Wisma Putra, 50460 Kuala Lumpur, Malaysia. Diundang juga dari Indonesia, Ibrahim Yusuf (Chairman of Executive Board of ICWA), Dr. Musni Umar (Sosiolog dan Eminent Persons Group), Diana Putri Arini (Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta). Ibrahim Yusuf memandu diskusi tentang peran NGO di ASEAN, sedangkan Musni Umar mempresentasikan “Democracy and Human Right in Indonesia”. Kegiatan ini telah berakhir minggu sore ini./*

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *