Nelayan Pukat Trawl, Resahkan Nelayan Tradisional di Mempawah

PONTIANAK ! POSTKOTAPONTIANAK.COM Meski telah dikeluarkannya larangan pemerintah melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, tentang penangkapan ikan dengan menggunakan pukat trawl (pukat harimau) namun hingga saat ini masih banyak terdapat sebagian nelayan yang menggunakannya.

Ironisnya aktivitas nelayan pukat trawl di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat seakan lepas dari pantauan para petugas yang berwenang dalam mengawasi peraturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah, tak ayal membuat nelayan mengambil tindakan sendiri dengan mengamankan dua kapal pukat trawl yang sedang beroperasi di perairan kuala Mempawah.

“Jadi penangkapan dua buah kapal pukat trawl itu lantaran keduanya kedapatan sedang beraktivitas di wilayah perairan yang selama ini kerap digunakan nelayan tradisional untuk mencari ikan. Sekitar pukul 01.00 wib Senin (3/10/16) nelayan yang melihat adanya aktivitas ke dua kapal yang menggunakan alat tangkap pukat trawl, langsung mengambil tindakan dengan melakukan penangkapan tanpa dikawal dari instansi yang berwenang, ” terang Ketua FPI Mempawah, Sawandi pada postkotapontianak.com Rabu (5/10/16).

Menurut Sawandi, setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui kapal pukat trawl yang berhasil di tangkap merupakan milik nelayan Sungai Pinyuh dan Sungai Bakau, yang selanjutnya ke dua kapal diamankan di dermaga dan para ABK diserahkan ke Pos Polisi Air di Kuala Mempawah.

“Saya rasa nelayan tradisional hanya berharap pemilik pukat trawl ini mendapatkan sanksi tegas dari aparat penegak hukum. Sebab, aktivitas penangkapan ikan menggunakan pukat trawl telah dilarang sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 tahun 2015 dan jangan hanya ABK yang dijadikan korban tetapi tangkap juga para pemiliknya, ” tegas Sawandi.

Lebih jauh Sawandi mengatakan, setidaknya saksi tegas harus diberikan untuk mempertegas peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sehingga nantinya tidak ada lagi aktivitas ilegal yang tidak sejalan dengan aturan yang telah dibuat oleh pemerintah.

“Dalam persoalan ini untuk memberikan efek jera, seluruh nelayan tradisional mendesak agar kapal pukat trawl tersebut dimusnahkan dengan cara dibakar. Namun, tindakan tersebut dilarang oleh pihak kepolisian setempat, permintaan untuk membakar kapal merupakan wujud kemarahan nelayan terhadap aktivitas pukat trawl diwilayah mereka saat ini, ” tukasnya.*/(hr./abePkp)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *