Merasa Terancam Puji Lapor Polisi

JEMBER-Dugaan pengancaman yang dialamatkan terhadap wartawan lintasjatim melalui  telpon berbutut panjang. Sejumlah puluhan

Puji SN saat melapor di Mapolres Jember.(SJP).
Puji SN saat melapor di Mapolres Jember.(SJP).

wartawan yang tergabung dalam FWLM mendampingi wartawan lintas Jatim korban pengancaman ke Mapolres Jember (03/03/2015), pagi ini sekitar jam 09.00 Puji SN (30th)  melaporkan oknum Kades Tanggul Kulon ke Mapolres Jember terkait kasus pengancaman terhadap dirinya saat sedang melakukan liputan dilapangan tanggal 03 Maret 2015, dilansir “suarajatimpost.com”.

Ancaman kekerasan terhadap wartawan ini  merupakan catatan sejarah bagi insan Pers  Kabupaten Jember, yang mana aksi pengancaman sebelumnya juga dialami wartawan Pena Jatim Ivan Fausi (26 th) yang sedang mengadakan peliputan  dianiaya oleh oknum  pelaku di daerah RRI Jember.

Dihadapan sejumlah wartawan Puji SN mengatakan, bahwa dirinya selama ini tidak perna pernah punya masalah dengan Kepala Desa setempat  “ Saya melaporkan ini karena saya dan keluarga saya merasa terancam mas. Saya cuma minta Kepala Desa menghormati wartawan  itu saja mengapa saya diancam  ” tandasnya.

Ketika wartawan mengkonfirmasi kepada pihak  Kepala Desa  melalui telpon,  Kades mengakui kalau  dirinya pernah ditelpon Puji SN. “ Saya hanya tidak ingin diliput mas, kan sudah banyak media yang meliput pemberitaan  kera yang menggigit warga  kami dari pihak desa sudah menyuruh orang untuk menangkap  kera itu. saya cuma tidak ingin membuat  resah masyarakat saya” ungkapnya.

“ Puji itu membuat berita negative tentang saya dan itu dititipkan ke media lain kalau dia profesional mengapa harus dititipkan pada media lain,  saya sebentar lagi sudah bukan Kepala Desa lagi jadi saya masyarakat  biasa“ imbuhnya.

Pihaknya tidak menyadari kalau pengancamannya  sudah terekam otomatis di Handpon  Puji SN yang pada ahirnya rekaman tersebut dijadikan bahan bukti laporan pengancaman tersebut .

Surat  laporan ke polres jember No. TBL/200/III/2015 /JATIM/RES JEMBER  Tanggal 03 Maret 2015  yang langsung diterima oleh A.n KA SPKT Polres Jember. Kukun Waluwi Hasanuddin S.Sos .

Dalam laporannya pihak pelaku melakukan tidak pengancaman  Terlapor akan menumpas, melanjutkan dan akan memukul pelapor bila memuat informasi kejelekan terlapor sebagaimana dimaksud dalam pasal 45 ayat 3 undang-undang 11 tahun 2008.

Adi samekto ketua PWN Jember yang merupakan wartwan kenamaan diera orde baru menuturkan, kalau dirinya sangat mendukung penuh atas langkah FWLM  dan solidaritas wartawan karena wartawan dalam menjalankan tugasnya dilindungi undang-undang “ Kami dukung untuk diteruskan ke ranah hukum walaupun pejabat sekalipun yang melakukan penghalangan saat melakukan tugas jurnalis itu harus dilaporkan karena wartawan dilindungi undang-undang.” pungkasnya.

Solidaritas wartawan Jember akan melakukan aksi demo dalam waktu dekat sebagai respon bahwa journalist dalam menjalankan tugasnya tidak boleh diancam dan halangi saat melakukan peliputan dilapangan sesuai UU No 40 Tahun 1999  Pasal 4 (1)Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara. (2) Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran.
(3) Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.
(4) Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai Hak Tolak.
Pasal 18
(1) Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah).
(2) Perusahaan pers yang melanggar ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2), serta Pasal 13 dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah).
(3) Perusahaan pers yang melanggar ketentuan Pasal 9 ayat (2) dan Pasal 12 dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (Seratus juta rupiah).

Dari rentetan masalah diatas  mencerminkan bahwasanya perlindungan terhadap wartawan dari ancaman fisik dan psikis masih belum maksimal, semoga wajah insan pers indonesia bisa kembali menemukan kebebesan  dalam menjalankan tugasnya.( SuaraJatimPost.com)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *