Menjemput Karunia Allah

ILUSTRASI
ILUSTRASI

Memaknai Menjemput Rizqi Allah

Oleh : Ustad Abdul Hamid S, S.Sos.I

SERING KALI kita mendengar ungkapan bahwa rizqi sudah diatur dan ditetapkan oleh Sang Maha Pengatur Rizqi : Yakni Allah Arrazzaq. Sehinggar proses ikhtiar yang kita usahakan dalam rangka menjemput rizqi (karuniah Allah) tidaklah terlepas dari konsep “takaran/ukuran” yang telah menjadi ketentuan Nya.

Seluruh rangkaian aktivitas pagi, siang atau malam yang kita khususkan dalam rangka menjemput rizqi yang Allah sudah tetapkan bagi seluruh makhluk-makhluk Nya adalah wujud dari kemurahan Allah SWT dengan tidak mengesampingkan proses ikhtiar kehambaan yang kita lakukan selama ini. Lalu bagaimana cara kita memahami dan memaknai hubungan antara proses ikhtiar dengan sifat Maha Pemurah Nya Allah Azza Wajalla ? Jika saja seluruh hasil dari ikhtiar sudah dalam takaran dan ketentuan Nya ? …

Ada ungkapan indah, al insaanu bitafkiir wallaahu bitaqdiir (manusia perannnya hanyalah berusaha, dan penentu mutlak keberhasilan adalah Allah).

Dalam sifat kemahapemurahan yang Allah miliki, sungguh Dia tidak akan mengabaikan akan kesungguhan kita dalam melakukan rangkaian proses ikhtiar yang diniatkan semata-mata sebagai aktivitas ibadah kepada Nya.                    Bahwa haqiqat rizqi Allah adalah ‘bukanlah kita yang menjemputnya’, tapi sesungguhnya rizqi Allah itu sendiri yang akan menghampiri kita, karena kanjeng Nabi SAW mengumpamakan ‘rizqi Allah seperti ajal’ , dimana ia akan mendatangi kita dimanapun kita berada, apakah kita telah bekerja atau berikhtiar dengan baik atau sungguh-sungguh ataukah kita belum tekun dalam berikhtiar.

Para Ulama menjelaskan bahwa proses perjalanan turunnya rizqi Allah ta’ala dapat terjadi dengan 5 cara :

  1. Rizqi Allah yang “dijemput” dengan proses dicari atau diusahakan dan diikhtiarkan. Pada tahapan ini, Allah hanya akan memberi jalan turunnya rizqi kepada hamba NYA yang menempuh 2 (dua)  jalan ; karya fisik (amaliyah) dan karya fikir (ilmiyyah). Mengutamakan karya fisik dalam mengarungi kemurahan rizqi Allah, maka kita akan memperolehnya sangat sesuai dengan takaran ikhtiar itu sendiri. Misalkan PNS atau Karyawan Swasta dengan gaji tetap bulanannya, Pedagang dan Nelayan dengan income tetap yang bisa ia peroleh dari perjuangan karya fisiknya.

Apresiasi yang berbeda akan kita peroleh jika kita dalam memperjuangkan ikhtiar mencari rizqi Allah dengan mengedepankan karya ilmiyyah (kecerdasan intelektualitas), yang biasanya nilai perolehan rizqi Allah berupa “materi duniawi” dan “penghargaan” jauh lebih tinggi dan besar dibandingkan hanya mengandalkan karya fisik (amaliyyah) semata-mata. Dimanakah posisi kita sekarang dalam menjemput rizqi Nya Allah ta’ala ??

2). Rizqi yang dibagikan secara “cuma-cuma” dari Allah yakni berupa doorprize (hadiah kejutan). Kepada siapa Allah akan membagikan rizqi secara cuma-cuma tanpa perlu kita memintanya ? Allah akan membagikan rizqi ini kepada mereka yang paling hebat dalam kesungguhan menyambung tali kasih sayang atau kekeluargaan (silaturahmi) baik kepada mereka yang masih hidup maupun bersilaturahim kepada mereka yang sudah wafat dalam bentuk sering mendoakan kebaikan kepada sesama.

Bukankah ada hadits dari Rasulullah SAW bahwa salah satu pintu utama rizqi Allah tersimpan dalam “silaturahim”. Sudahkah kita menyambung tali kasih sayang kepada sesama dengan tanpa memiliki kemauan atau kepentingan ? Karena banyak diantara kita, ringan dalam bersilaturahim tapi sesungguhnya karena ada hajat atau kebutuhan kepada orang yg sedang kita kunjungi, jika tanpa ada ‘keperluan’ kita juga enggan mengunjunginya.. Ini bukanlah makna silaturahim yang dikehendaki oleh Rasulullah SAW.

3). Rizqi yang dijamin langsung oleh Allah Ta’ala. Kepada siapa yang mendapatkan ‘jaminan istimewa’ ini dari Allah ? Sungguh sangat beruntung bagi kita yang mendapatkan “jaminan” atau guarantor langsung dari Sang Penguasa Semesta, akan rizqi kita dan keluarga kita. Mereka yang sungguh-sungguh dalam “menjamin hukum-hukum Allah” , menjamin dengan seksama apa yang Allah perintahkan untuk kita laksanakan dengan penuh kerelaan dan ketaatan dan menjamin larangan-larangan Allah untuk kita tinggalkan sebagai wujud kepatuhan kepada Sang Guarantor Alam Semesta. Maka kesemuanya akan berbuah kemudahan,  dimana Allah akan menjadi fasilitator, guarantor atau penjamin terhadap seluruh kebutuhan dan hajat hidup kita dan keluarga kita.

4). Rizqi yang dijanjikan Allah Ta’ala. Allah tidak akan pernah sekalipun mengingkari janji-janji Nya karena itulah yang membuktikan akan keagungan dan keperkasaan Allah. Siapa yang termasuk dalam kelompok yang rizqinya sudah dijanjikan oleh Allah ta’ala ? Yakni mereka yang terbiasa mengiba dan berdo’a dengan penuh pengharapan dan keyakinan tanpa rasa  keputusasaan yang mendera ketika doa-doanya belum dijawab segera oleh Allah dan selalu berhusnuzzhon (berprasangka yang baik kepada Zat Yang Maha Baik).

Mereka yang terbiasa “mengiba” dalam doa ketika kondisi lapangnya, maka sungguh ketika kita dalam kondisi kesempitan Allah tidak akan menunda permohonan kita. Namun jika kita hanya akan mengiba dan berdoa ketika sempit dan cobaan yang mendera hidup kita, maka wajarlah jika permohonan kita masuk dalam daftar panjang masa tunggu dikabulkannya doa. Biasakanlah berdoa bukan sekedar di awal usaha atau di akhir ikhtiar kita, tapi ringankanlah tangan bertengadah dan menundukkan kesombongan jiwa dalam nilai pengharapan kepada Allah akan seluruh rangkaian awal dan akhir ikhtiar kehambaan kita agar kita termasuk dalam kelompok hamba Allah yang rizqinya sudah dijanjikan Allah.

5).Rizqi Allah dari sumber perbendaharaan gudangnya Allah dengan jalan yang tidak disangka-sangka. Mereka yang terbiasa melakukan ‘rangkaian amalan istimewa dan tak biasa’ dan memiliki rasa pasrah, berserah kepada Zat Maha Pemurah tanpa sedikitpun ada rasa keraguan di dalamnya, maka sungguh Allah akan memberikan sumber-sumber “simpul rizqi” yang tidak diduga-duga.

Amalan istimewa dan tak biasa, adalah cerminan kualitas kesolihan ritual dan kehebatan kesolihan sosial.

Kita bisa tersenyum ramah kepada mereka yang terbiasa memfitnah dan menggosipi dengan cerita-cerita yang tidak menyenangkan adalah contoh amalan istimewa dan tak biasa. Kita biasa bangun malam bersujud dan bersimpuh kepada Nya dimana semuanya sedang tertidur dengan lelapnya adalah contoh kecil amalan istimewa dan tak biasa. Kita mudah berbagi ketika kondisi kantong kita sangat ‘luas’ tapi kita enggan berderma ketika kita juga sedang menderita. Bagi mereka yang bisa berderma ketika sedang dalam keadaan sempit dan sulit, maka sungguh ia termasuk hamba Allah yang memiliki kualitas kesolihan di atas rata-rata. Mereka yang punya rasa tawakkal atau pasrah berserah kepada Zat Maha Pemurah , maka Allah sendiri yang akan mencukupi seluruh kebutuhannya dan memberikan jalan rizqi dari sumber yang tidak disangka-sangka.

Inilah 5 simpul jalan turunnya Rizqi Allah Ta’ala yang Allah sudah diatur secara sempurna dalam dimensi rahasia taqdir Nya yang menyertai di dalamnya.

Sebagai tambahan renungan bagi kita semuanya, layaklah kita menghayati ungkapan di bawah ini :

” Mungkin kau tak tahu dimana rizqimu. Tapi percayalah rizqimu tahu dimana engkau berada. Dari langit, laut, gunung dan lembah, Rabb memerintahkannya menujumu.

✏Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yg sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.

✏Tugas kita bukanlah mengkhawatirkan rizqi atau bermuluk cita memiliki, melainkan menyiapkan jawaban  “DARI MANA” dan “UNTUK APA” atas tiap rizqi itu.

✏Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia, dia alpa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam slip gaji, tapi apa yang telah dinikmatinya setiap saat.

✏Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya, demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya (mati).

✏Maka sungguh amat keliru jika bekerja dimaknai sebagai mencari gaji.

✏Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya. Kita bekerja untuk bersyukur, menegakkan taat dan berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita, Allah letakkan itu sesuai sekehendakNya.

✏Bukankah Siti Hajar berlari-lari kecil 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwa, tapi Zam-zam justru muncul di kaki Ismail, bayinya !

✏Ikhtiar itu laku perbuatan sementara Rizqi itu adalah kejutan. Kejutan bagi hamba bertaqwa, datang dari arah tak terduga. Tugas kita cuma menempuh jalan halal, Allahlah yang melimpahkan semua bekal.

✏ Yang terpenting di tiap kali kita meminta dan Allah memberi karunia, jaga sikap saat menjemputnya & jawab pertanyaanNya, “Buat apa?” Karena betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia, lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab & haramnya akan diadzab.

✏Dengan itu kita mohon “Ihdinash Shirathal Mustaqim”, petunjuk ke jalan orang yang diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridhaNya di akhirat. Bukan jalannya orang yg terkutuk apalagi jalan orang yg tersesat.

Maka segala puji hanya bagi Allah, hanya dengan nikmatNya-lah maka kesempurnaan menjadi paripurna”… Semoga Allah SWT selalu meridhoi.. aamiin-

(Penulis : Chairman Bina Ihya Mandiri, Praktisi Dakwah dan Pengamat Sosial) 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *