Manfaat MEDSOS Bagi Gerakan Mahasiswa Dibahas Oleh HMI

YOGYAKARTA – Perkembangan pesat teknologi informasi telah memengaruhi pola gerakan organisasi mahasiswa. Berangkat dari itu, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang ‎Yogyakarta, mengadakan Latihan kader II Tingkat Nasional dengan tema “New Media Sebagai Alternatif Gerakan HMI”, di Kaliurang, Yogyakarta, 8-14 Maret 2016.  Kegiatan ini dihadiri 58 peserta yang dari 27 daerah diantaranya; Aceh, Medan, Padang, Pontianak, Bangkalan, Gowa Raya, Kudus, Meulaboh, Bandung, Palembang, Samarinda, Malang, Bone, Makassar, Bali, Surakarta, Surabaya, Jakarta, Bangkalan, Sigli, Ponorogo, Bekasi, Takengon, Yogyakarta, Ponorogo, dll
 
Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta, ‎Syarifuddin El-Azizy mengatakan, gerakan mahasiswa tidak berubah tujuannya, hanya caranya saja harus beradaptasi dengan perkembangan masyarakat. “Aksi-aksi gerakan mahasiswa di lapangan, harus didukung oleh penggunaan media sosial yang efektif, sebab jika tidak gerakan mahasiswa akan ditinggalkan, kita harus belajar membuat konten selain tulisan yang dengan mudah bisa dipahami masyarakat”, ujar Aziz di Kaliurang, Jumat malam (11/03/2015)
Azis menambahkan, dengan aktif di media sosial gerakan mahasiswa juga tahu apa yang dibicarakan masyarakat. “kita tak boleh asik dengan apa yang kita pikirkan saja, kita harus tahu apa yang dibicarakan orang di medsos”, tambah pria asal Grobogan ini.
 
Sementara itu, Hariqo Wibawa Satria, salah satu narasumber terkait tema ini menjelaskan penggunaan media alternatif untuk berjuang banyak contohnya, Bung Hatta bersama teman-temannya di Perhimpunan Indonesia punya majalah Indonesia Merdeka dan Daulat Rakyat. Beda dengan gerakan mahasiswa sekarang, banyak yang tidak punya majalah, buletin, apalagi website dan media sosial. “ada dua sebab kenapa website dan medsos tidak optimal digunakan oleh gerakan mahasiswa, pertama karena Ketua atau Pimpinan organisasi itu merasa ini tidak penting, kedua, tidak ada bidang atau tim khusus yang dibentuk mengurus ini”, jelas Hariqo. Dalam presentasinya, alumnus Gontor ini juga mengapreasiasi website hmi cabang malang www.malang.hmi.or.id sebagai salah satu contoh website yang baik.
 

Dalam pengamatan Hariqo, kesadaran mengelola media alternatif di gerakan mahasiswa terjadi pada tiga momentum, pencalonan, pelantikan dan laporan pertanggung jawaban.  “Banyak yang hingga akhir kepengurusan belum juga punya website dan medsos, padahal saat pencalonan dan pelantikan berjanji akan bikin”, ujar Hariqo disambut tawa peserta.

Hariqo yang juga Direktur Eksekutif Komunikonten ini melihat pada pada umumnya gerakan mahasiswa mengatasnamakan masyarakat dalam menyuarakan pendapatnya, namun dengan media sosial, masyarakat juga dapat menyampaikan aspirasinya secara langsung. Bedanya, dalam mengeluarkan pendapat dan membuat pernyataan sikap, gerakan mahasiswa umumnya melalui tahapan diskusi dan rapat pengurus.

Terkait apa saja yang bisa dilakukan di media sosial, Hariqo menyarankan sebaiknya organisasi mahasiswa membuat pedoman penggunaan medsos untuk jadi acuan. Media sosial bisa digunakan oleh gerakan mahasiswa untuk: menyampaikan kegiatan organisasi, mengkritik atau memberi masukan kepada pemerintahan, membantu dan membela masyarakat, mempromosikan produk lokal, pariwisata, kuliner, budaya Indonesia,  memperjuangkan kepentingan nasional, dan lain-lainnya./ *(r) /PostKotaPontianak.com

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *