KOPI GEMPLONG DALAM FESTIVAL HARI WAYANG SEDUNIA

JAKARTA – TMII besok 21 Maret 2018 menggelar perhelatan tahunan seni dan budaya Nusantara dalam rangka memperingati Hari Wayang sedunia. Sebagaimana diketahui bersama, wayang sudah menjadi warisan dunia asli Indonesia yang diakui UNESCO.

Sudah sepatutnya kita sebagai bagian dari Bangsa Indonesia terlebih berasal dari Suku Bangsa Jawa, ikut serta membanggakannya. Sebagai wujud syukur kepada Gusti Allah dan penghormatan kepada para leluhur yang menciptakan dan mengembangkan wayang berikut piranti pendukungnya seperti gamelan, gendhing dan pradangganya.

Festival Hari Wayang sedunia secara konsisten dirayakan dengan persembahan seni dan budaya dari seluruh Indonesia. Aneka macam kesenian dan kebudayaan daerah, terutama wayang disajikan secara kolosal. Termasuk budaya makanan tradisional khas daerah dari seluruh pelosok negeri tersaji menarik.

Kopi Gemplong Subileng, sebuah brand kopi tradisional yang cukup akrab di telinga orang Kebumen. Terutama para budayawan dan komunitas sosial kemasyarakatan.

Kopi murni tanpa campuran apapun yang cara pengolahannya menggunakan sangan pawon kayu bakar dan digemplong (ditumbuk secara tradisional) menggunakan alu dan lumpang, oleh sekelompok ibu-ibu di Kampung Gemplong, sebuah daerah di Dukuh Kedunglo Desa Giritirto Kecamatan Karanggayam. Kampung Gemplong sendiri sudah cukup menarik perhatian, mengingat sudah ada puluhan komunitas yang menyambanginya.

Mulai dari mahasiswa hingga pelaku usaha. Sekedar untuk bernostalgia dengan suasana nDesani di masa lalu, yang mungkin sudah terlindas laju zaman.

Kopi Gemplong Subileng, yang merupakan manifestasi dari rasa kebersamaan, endhong-endhongan dan ngleluri tradisi budaya yang baik, Alhamdulilah mendapat undangan khusus untuk turut serta mewarnai Festival Hari Wayang sedunia tahun ini.

Sebagai representasi dari kopi Nusantara, bersanding mesra dengan kopi-kopi tradisional terkemuka lainnya, dari penjuru pelosok negeri yang memang penghasil kopi terbaik dunia.

Hadirnya Kopi Gemplong Subileng di TMII, tentu bukan semata tentang kebanggaan. Namun malah tentang tantangan. Seberapa responsibilitas kemasyarakatan dan keDesaan kami yang terlanjur hidup di kampung, terhadap kahanan yang serba karbitan, yang kian jauh dari roso handarbeni dan tepo seliro, bebrayan lan mad-sinamadan.

Subileng sendiri merupakan komunitas yang bergerak di ruang budaya tersebut. Mencoba mengupayakan perseimbangan atas kahanan. Dengan Sinau Ngobati Telenging Ati anggayuh Luhuring Katresnan. Sebuah ruang dopokan yang luas dan dalam. Adapun Kopi Gemplong adalah salah satu hasil budi dan daya dari komunitas Subileng, sebuah hasil pemikiran dan permenungan dengan mengingat aspek filosofis dan sosiokultural serta geografis masyarakat Kebumen Utara yang termarjinalkan.

Sebuah masyarakat yang heterogen dan egaliter. Dengan cara pandang yang prasaja dan sakmadya. Sebuah peradaban masyarakat yang unggul, yang san-rumeksan nyantosani dan lung-tinulung den kaesthi, asih tresno mring sasami, yang kami istilahkan nDesani.

Salam Desa. Salam Luhuring Katresnan. Dengan menebarkan Asalamungalaikum, kami secara khusus membuka diri bagi sanak kadang sedulur prantau Giritirto khususnya dan Kebumen umumnya, bagi yang berkenan dan lodhang ing gati supaya mensuport mangayubagya Festival Hari Wayang sedunia, baik melalui doa pengharapan, pujian keselamatan, terlebih lagi hadir di Anjungan Jawa Tengah TMII, ngiras pantes mbombong Team Kopi Gemplong Subileng Hingga pada puncaknya, puncak pengharapan, teman-teman kersa lebih handarbeni terhadap obah gumregahing ke Desaan, yang berbasis kearifan lokal dan kemasyarakatan, melalui pemberdayaan, pembudidayaan dan kepandayaan./*

Sruput kopine, jembar pikire.
Rahayu sarwa hayu.

[Team Redaktur Subileng. Mahardika 🇮🇩]

Publish : haris /abe PKP /POSTKOTAPONTIANAK.COM

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *