Ketika Makmum Salah Memilih Imam

Oleh : Abdul Hamid, S.Sos.I

SUATU  HARI di Musholla salah satu pusat perbelanjaan besar atau Mall di Jakarta Selatan, mendekati masuk waktu sholat maghrib, penulis bersegera melangkahkan kaki ke Musholla di lantai 2. Setelah Iqomah dilantunkan, terlihat dengan percaya dirinya seorang Bapak yang sudah lanjut usia melangkah kedepan menjadi Imam.

Penulis berada di shaf pertama menjadi makmum. Karena melihat kesiapan dan kepercayaan dirinya serta faktor usia sang Imam yang sudah “matang”, makanya penulis enggan maju kedepan, walaupun ada salah satu jamaah yang mendorong penulis agar bersedia menjadi Imam.

Sungguh diluar perkiraan penulis, ternyata bacaan Imam sholat maghrib tersebut sangat jauh dari kualitas yang fasih serta tatanan makhraj huruf yang benar. Namun penulis tetap menyelesaikan aturan berjamaah sholat maghrib tersebut hingga selesai.

Ternyata begitu banyak di antara kita, masyarakat yang belum mengetahui bahwa menjadi Imam dalam sholat berjamaah, bukan sekedar hanya untuk “gaya-gayaan” semata, namun sangat berat pertanggungjawabannya dihadapan Allah kelak. Imam sholat menanggung keseluruhan ‘kekurangan’ makmum dibelakangnya. Sehingga banyak kita saksikan orang-orang alim yang sholeh, enggan buat maju menjadi Imam, manakala masih banyak Imam lainnya yang lebih alim keilmuannya dan fasih dalam bacaan sholatnya.

Jika hal ini dikaitkan dengan konteks Imamah (Kepemimpinan) maka secara substansial juga tidaklah jauh berbeda. Seorang Imam (pemimpin) yang dipilih secara langsung oleh makmumnya (rakyat) semestinya benar-benar mempersiapkan diri dengan kapasitas dan kapabelitas yang baik dan mumpuni. Sehingga makmum (rakyat) tidak salah dalam memilih imam (pemimpinnya).

Pemolesan-pemolesan melalui media massa yang mencitrakan kehebatan dan keunggulan seorang tokoh, juga mengakibatkan sering salah pilihnya rakyat akan seorang Imam (pemimpinnya).

Ditambah lagi kini adalah eranya “kekuatan ekonomi politik” yang menyandera pola fikir rakyat, dimana terbangunnya sikap apatis dan apriori serta kecewa dengan janji-janji politik yang digulirkan para tokoh-tokoh politik selama ini, mengakibatkan lahirnya cara fikir yang pragmatisme, apatisme, jalan pintas, lintas terabas dan potong kompas tumbuh subur dalam benak masyarakat kita pada umumnya.

Rakyat kini mengukur segala sesuatunya dengan “atensi fulus”, baik yang bersifat untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan umum. Jika saja para Pemimpin selama ini senantiasa memenuhi janji-janji politiknya dengan amanah yang sangat tinggi, niscaya akan terbangun kepercayaan publik yang sangat kuat, polarisasi dukungan rakyat kepada pemimpinnya semakin mengkristal.

Namun apa hendak dikata, kelalaian sang Pemimpin dalam membangun mimpi dan janji-janjinya, yang sering kita saksikan selama ini. Rakyat baru diberdayakan secara maksimal, dikunjungi dan kembali ditebari janji-janji jika sudah jelang pelaksanaan pemilukada, pemilu legislatif dll. Rakyat apatis dan pragmatis disebabkan oleh sikap Pemimpin yang sering ingkar amanah.

Sungguh sangat mengagumkan jika era kini kembali lahir sosok-sosok Pemimpin yang amanah. Sejarah mencatat, bahwa Raja-Raja Islam Kerajaan Melayu terdahulu, sangat dekat dengan Cendikiawan dan Ulama. Selalu menjadikan wejangan Cendikiawan dan Ulama Sholih dalam tindakan dan kebijakan yang di susunnya.

Misalkan saja  Raja ke-13 Kerajaan Mempawah, Pangeran Gusti Muhammad Taufiq Aqamuddin (1288 H/1871 M – 1363 H/1944 M).  Beliau memerintah Mempawah sejak tahun 1904 M/1322 H hingga 1944/1363 H. Tradisi yang sudah dilestarikan sejak zaman Raja Islam Mempawah yang ke-4, Raja Opu Daeng Menambon, yang senantiasa menghadirkan Ulama-Ulama terkemuka baik dari Timur Tengah maupun dari Semenanjung Melayu, untuk dihadirkan dan diundang serta dikukuhkan sebagai Penasehat Raja merangkap sebagai Mufti Agung Kerajaan.

Pada masa Gusti Muhammad Taufiq Aqamuddin, tradisi menghadirkan dan menampung Ulama-Ulama serta Cendikiawan Muslim kembali digulirkan. Hadirnya Syeikh Muhammad Yasin yang berasal dari Kedah, (dikenal dengan Keramat Tok Haji Mad Yasin, makamnya di Desa Kuala Secapah), H.Abdurrahman bin Husein yang berasal dari Kelantan, dan H.Muhammad Saleh dari Serawak.

Lalu juga datang Ulama dan Cendikiawan Muslim dari Patani-Thailand Selatan, H.Wan Nik Al Fathani, Syeikh Abdul Lathif Al Fathani. Dari Tanah Arab-Timur Tengah, ada Syeikh Yusuf Al-Manshuri serta dari Banjar ada H.Abdul Qadir bin Ahmad Al Banjari.

Sungguh kedekatan Umara’ dengan Ulama adalah cerminan kearifan seorang Pemimpin dan hantarkan kesejahteraan rakyatnya ke arah yang lebih baik, karena tumbuhnya rasa khauf (takut) akan amanah yang berat dari Allah dan Rakyat kepadanya, sehingga menumbuhkan semangat kepemimpinan yang adil dan berorietasi kepada kesejahteraan rakyatnya.

Semoga saja makmum (masyarakat) tidak mudah terkecoh dan salah dalam memilih imam (pemimpin) dalam satu wilayah, karena pencitraan dan kekuatan ekonomi politik yang ia miliki.

Pilihlah Imam yang benar-benar berorientasi membangun, bukan yang berorientasi akan kekuasaan semata-mata. Agar nantinya tidak akan menjadi penyesalan tiada akhir, jika kembali kita gagal dalam memilih Imam yang amanah dan terpercaya. Wallaahu A’laam. Penulis adalah Chairman Bina Ihya Mandiri, Praktisi Dakwah dan Pengamat Sosial.

( Penulis adalah Chairman Bina Ihya Mandiri, Praktisi Dakwah dan Pengamat Sosial )

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *