Kepala Divisi Sosialisasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Erlinda : Mengantisipasi Kejahatan Terhadap Anak

DEPOK ! PKP – Kepala Divisi Sosialisasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Erlinda mengungkapkan, bahwa
akhir-akhir ini bahaya kejahatan terhadap anak terus  mengintai. Selain itu juga kebanyakan penyebabnya dari akar
persoalan dikeluarga.

“Hal itu, yang lebih mirisnya terjadi saat ini dimana sebagian orang tua mendidik anak dinilai masih kurang baik. Sebab mungkin para orang tua banyak mendidik anaknya tidak sesuai dengan usianya,” ungkapnya kepada sejumlah pewarta baru-baru ini, di
Depok.

Menurutnya, Bahwa anak-anak banyak  menyerap informasi dari berbagai media, seperti media sosial, bahkan televisi dan radio. Anak-anak, tambah Erlinda, belum sepenuhnya mampu mem-filter konten yang negatif atau yang seharusnya belum perlu mereka  terima.

“Artinya benih-benih terjadinya kekerasan tersebut,  akhirnya cenderung membuat perilaku sang anak menjadi brutal,” tutur

Erlinda. Dia juga menjelaskan, hal yang paling 1menakutkan ialah sekarang ini anak-anak punya tingkat rasa
penasaran yang tinggi akan segala sesuatu. Anak-anak yang  tingkat pemikirannya masih labil atau dangkal, bisa mudah
terpengaruh. Maka dari itu, selain peran keluarga, peran  lembaga pendidikan, kemudian pemerintah juga sangat penting  untuk mendidik anak agar kelak setelah besar mereka tidak  jahat kepada orang lain.

“Pemerintah harus mempunyai  program yang utuh tentang ketahanan keluarga, bagaimana  edukasi ke orangtua, bagaimana cara mendekati anak, pola  asuh seperti apa. Keluarga harus punya pemahaman,” jelas Erlinda.
Erlinda mengingatkan, bahwa kasus penculikan dan pembunuhan terhadap Jamaludin (7), anak SD
Negeri 3 Beji, Depok, Jawa Barat, baru-baru ini, juga  menjadi contoh anak yang tidak dibekali pemahaman secara
utuh oleh orangtuanya.

“Sebab kejadian di Depok karena  sang anak tidak dibekali (pemahaman). Kalau berteman dengan siapapun, diajak oleh siapapun, apalagi yang belum dikenal dekat, jangan mau. Itu harus ditanamkan orangtua. Misalnya bilang begini ‘kakak harus ingat kalau belum kenal  jangan mau,” imbunya.

Erlinda juga menambahkan, sudah seharusnya para orangtua dan anak mampu berkomunikasi dua  arah atau saling terbuka, apapun persoalannya yang dihadapi  oleh mereka. “Seprti jika dikasih Rp2 ribu  oleh orang terus diajak, jangan pernah diterima. Bahkan jangan perna mau jika diajak orang apalagi belum dikenalnya,” ujarnya.

Erlinda meminta kepada Presiden untuk mengeluarkan inpres tentang perlindungan. Gerakan nasional
perlindungan. Sebab dengan adanya instruksi itu, akan lebih  baik. Selain itu sistem perlindungan terhadap anak
harus didukung penuh oleh pemerintah.  ” Seperti tahun 2014 lalu, ketika itu Presiden SBY memberi kado terindah lewat gerakan anti kejahatan sosial terhadap anak. Itu cukup memperngaruhi,  walau sekian persen, tapi ada efektifitasnya,” ucapnya.

Erlinda menegaskan, selain itu juga hal yang paling utama tidak hanya penegakan hukum, tapi juga pencegahan. Konkritnya, siapa yang ditunjuk jadi leading  sektornya.

“Sepeti kementerian anak bersama  kementerian sosial, mempunyai program nasional untuk diterapkan ke seluruh daerah yang diturunkan lewat Peraturan  Daerah,” tandasnya.(Faldi/Sudrajat)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *