Keluarga Korban Penganiayaan Minta Keadilan

POSTKOTAPONTIANAK.COM ! SANGGAU-Pelaku penganiayaan dan pemukulan terhadap salah seorang pekerja

Diman orang tua korban, mintan Keadilan./bd
Diman orang tua korban, mintan Keadilan./bd

bangunan Dermaga Dinas Perhubungan di Kabupaten Sanggau, hingga saat ini masih bebas berkeliaran walaupun telah dilaporkan ke pihak kepolisian.

Sudah hampir 1 bulan yaitu sejak tanggal 22 Maret 2015 yang lalu, Kamsir telah melaporkan kasus penganiayaan dan pemukulan dirinya ke Polsek Meliau yang dilakukan oleh pak Itam CS. Pemukulan dan penganiayaan terhadapnya terjadi di depan rumah saudara Ahmad yang berdomisili tidak jauh dari tempat kerjanya, tepatnya di RT.10/RW.03 desa Meliau Hilir Kecamatan Meliau Sanggau Kalimantan Barat.

Kamsir Bin Diman mengatakan,” Saya tidak mengetahui apa alasannya, tiba-tiba pelaku memukul saya berkali-kali”, akibat dari pemukulan tersebut hingga sampai saat ini lengan Kamsir masih kelihatan lebam dan nyeri. Pihaknya tidak mengetahui apa alasan Itam CS dengan serta merta memukulnya waktu itu.

Setelah kejadian pemukulan yang menimpanya, tepatnya pada hari Sabtu, 21 Maret 2015 pada jam 16.30 Wib dia langsung berobat dan meminta untuk segera di visum, dan selanjutnya mendatangi kantor Polsek Meliau untuk melaporkan kejadian penganiayaan yang      dilakukan pak Itam terhadap dirinya. Dengan surat bukti laporan, SBL Nomor : TBL/79/III/2015/Kalbar/Res Sgu/Sek/Mlu sekitar pukul 14.30 Wib.

Kemudian pada waktu yang bersamaan yaitu pada tanggal 22 Maret 2015, Kamsir mendapat surat perintah penahanan dari Polres Sanggau Nomor: SP-Han/05/III/2015/Reskrim, perihal surat pemberitahukan tentang penahanannya. Dan isi surat tersebut menyampaikan tentang akan melakukan penahanan terhadap dirinya selama 20 hari, Aneh, sudah ketimpa Batu ketimpa tangga pula, dimana saat di Polsek Meliau Kapolsek AKP. Hadiryaman,SH selaku penyidik sempat mengatakan kepada pihak keluarga Korban bahwa Kamsir tidak di tahan ia hanya diamankan saja. Namun apa kenyataannya Kamsir akhirnya di jebloskan dalam tahanan Polsek Meliau selama satu malam dan keesok harinya di kirim ke Polres Sanggau dan hingga saat ini .

Jelang 20 hari masa tahanannya berakhir di Polres Sanggau Kamsir akhirnya dititipkan  di LP Sanggau sesuai dengan surat Perpanjangan Penahanan Nomor : Tap-36/Q.1.14.3/Ep.1/04/2015 yang ditanda tangani Jaksa Pratama Ade Ibnu B.Syuhada,SH,MH pada tanggal 08 April 2015.

Dari Hasil Investigasi Kepala Penelitian dan Pengembangan Lembaga Investigasi Pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia DPD  (LIP-NKRI) Kalimantan Barat Budhi Gautama selama 4 hari berserta Media Berita Investigasi Nasional dilapangan, mendapatkan beberapa poin dugaan penyimpangan prosedur diantaranya :

  1. Sebelumnya Pihak Aparat Polsek Meliau dan Polres Sanggau tidak pernah melakukan gelar perkara terkait kasus ini.
  2. Surat penahan baru di berikan kepada tersangka setelah ± 2 minggu penahanan, sehingga selama 2 minggu tersangka dan pihak keluarga tidak menerima surat penahanan. (kesalahan prosedur penahanan)
  3. Semua pihak baik saksi-saksi  yang terkait kejadian ini belum pernah dipanggil untuk memberikan keterangan.
  4. Kapolsek saat dikonfirmasi terkesan menghindar dari wartawan.
  5. Pelaku pemukulan Kamsir hingga kini belum di tahan atau di proses.
  6. Pihak Penyidik Polres Sanggau tidak dapat mengklarifikasi kasus ini secara detail mulai dari pelimpahan dari pihak Polsek Meliau hingga kasus ini ditangani oleh Polres Sanggau
  7. Hasil visum et revertum dari rumah sakit /Puskesmas setempat atas nama Korban (Kamsir) copynya tidak dapat diperlihatkan dan tidak diserahkan ke pihak keluarga atau orang tua korban tanpa ada alasan dari pihak Polres Sanggau.

Ironisnya, kasus sekecil ini tidak bisa diselesaikan di tingkat Polsek dimana TKPnya sendiri berada di wilayah hukum Polsek Meliau. Seharusnya Kapolsek tidak secepat kilat mengirim kasus ini ke Polres Sanggau sebelum mengadakan mediasi memanggil kedua belah pihak untuk duduk satu meja, jelasnya.

Diman orang tua Kamsir dan Firman menjelaskan, “sudah beberapa kali ia medatangi pihak Polres Sanggau meminta keadilan agar Laporan anaknya ditindaklanjuti dengan memangil para saksi untuk diambil keterangannya terkait kasus ini, namun apa hasilnya sampai sekarang sudah hampir 2 bulan anak saya melapor, tetapi pelaku pemukulan (PI) saat ini masih berkeliaran bebas tanpa diproses sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku”. Sampai saat ini tidak ada realisasinya dan terkesan masalah ini mengambang ditempat dan kabur.

Bahkan, tak seorangpun saksi dipanggil petugas untuk dimintai keteranganya, apalagi untuk meringkus tersangkanya. Tak tahu harus mengadu kemana lagi, akhirnya keluarga korban mendatangi DPD Aliansi Wartawan Indonesia (AWI) Kalbar di Jalan Sultan Abdurahman Gedung Pelni No.2 Lantai 2 untuk menyampaikan keluh kesahnya yang diderita sejak kedua anaknya di tahan oleh aparat.

Diman orang tua Korban sedih minta keadilan kemudian diantar dan diarahkan oleh Kepala Biro Media Investigasi Nasional beserta media mendatangi Kabid Humas Polda Kalbar Dra Nowo Winarti pada hari Senin 20 April 2015 diruang kerjanya.

Setelah mendengar keluhan dan laporan langsung dari orang tua Kamsir dan Firman, akhirnya Bu Nowo menyarankan kepada pak Diman untuk menyurati langsung Pengawas Penyidik Polres Sanggau/Wasidik untuk menyanyakan sejauh mana Kinerja penyidik dilingkungan Polres Sanggau terkait kasus yang menimpa kedua anaknya.

Diakhir pertemuan tersebut Diman meminta kepada pihak kepolisian khusunya Bapak Kapolda Kalimantan Barat agar kasus yang dialami kedua anaknya segera diproses secara adil dan bijaksana ” harapnya.

Ketika di Konfirmasi via telepon Kapolsek Meliau AKP. Hadiryaman, SH. Mengatakan, “ kita ketemu di Polres Sanggau aja”, saat tim wartawan tiba di Polres ingin menemuinya untuk mengkonfirmasi tentang kasus pemukulan tersebut, beliau sudah tidak berada di Polres Sanggau dan terkesan menghindar.

Saat dihubungi lagi lewat via telepon jam: 14.15 , ia mengatakan ,” kasus Kamsir dan Firman sudah ditangani oleh Kapolres, tanya saja sama dia.” Demikian kutipan yang disampaikan Bhudi.

Menurut Bhudi, hal ini terkesan Kapolsek Meliau AKP. Hadiryaman, SH menghindar dan Lempar tanggung jawab, 15/04 -15.

Selanjutnya tim Investigasi menemui KBO Reskrim di ruang kerjanya membenarkan tentang penahanan saudara Kamsir dan firman di Polsek Meliau dan dilimpahkan ke Polres Sanggau, “berkas perkaranya sedang kami persiapkan untuk dikirim ke Pengadilan,” ungkap Aiptu. Yep Saefullah petugas penyidik Reskrim Unit 1.

Saat wartawan menanyakan lagi , “ Apakah pihak Polsek dan Polres sudah mengadakan gelar perkara, itu kewenangan Kapolres” ungkap Sapja petugas Reskrim Polres Sanggau.

Sementara Ade Ibnu B.Syuhada,SH.M.H, ketika tetemui di kantor Kejasaan Negeri Sanggau, membenarkannya berdasarkan surat perintah penunjukan Jaksa Penuntut Umum baru masuk SP 16 , Perkembangan Penyidikan Perkara tindak pidana Nomor : Print.304/Q.1.14/Epp.1/04/2015, saat itu juga beliau langsung menghubungi v Meliau (Kab. Sanggau)

Pelaku penganiayaan dan pemukulan terhadap salah seorang pekerja bangunan dermaga dinas perhubungan di Kab. Sanggau, hingga saat ini masih bebas berkeliaran walaupun telah dilaporkan ke pihak kepolisian.

Sudah hampir 1 bulan yaitu sejak tanggal 22 Maret 2015 yang lalu, Kamsir telah melaporkan kasus penganiayaan dan pemukulan dirinya ke Polsek Meliau yang dilakukan oleh pak Itam CS. Pemukulan dan penganiayaan terhadapnya terjadi di depan rumah saudara Ahmad yang berdomisili tidak jauh dari tempat kerjanya, tepatnya di RT.10/RW.03 desa Meliau Hilir Kec.Meliau, Kab.Sanggau Kalimantan Barat.

Kamsir Bin Diman mengatakan,” Saya tidak mengetahui apa alasannya, tiba-tiba pelaku memukul saya berkali-kali”, akibat dari pemukulan tersebut hingga sampai saat ini lengan Kamsir masih kelihatan lebam dan nyeri. Pihaknya tidak mengetahui apa alasan pak Itam CS dengan serta merta memukulnya waktu itu.

Setelah kejadian pemukulan yang menimpanya, tepatnya pada hari Sabtu, 21 Maret 2015 pada jam 16.30 Wib dia langsung berobat dan meminta untuk segera di visum, dan selanjutnya mendatangi kantor Polsek Meliau untuk melaporkan kejadian penganiayaan yang      dilakukan pak Itam terhadap dirinya. Dengan surat bukti laporan, SBL Nomor : TBL/79/III/2015/Kalbar/Res Sgu/Sek/Mlu sekitar pukul 14.30 Wib.

Kemudian pada waktu yang bersamaan yaitu pada tanggal 22 Maret 2015, Kamsir mendapat surat perintah penahanan dari Polres Sanggau Nomor: SP-Han/05/III/2015/Reskrim, perihal surat pemberitahukan tentang penahanannya. Dan isi surat tersebut menyampaikan tentang akan melakukan penahanan terhadap dirinya selama 20 hari, Aneh, sudah ketimpa Batu ketimpa tangga pula, dimana saat di Polsek Meliau Kapolsek AKP. Hadiryaman,SH selaku penyidik sempat mengatakan kepada pihak keluarga Korban bahwa Kamsir tidak di tahan ia hanya diamankan saja. Namun apa kenyataannya Kamsir akhirnya di jebloskan dalam tahanan Polsek Meliau selama satu malam dan keesok harinya di kirim ke Polres Sanggau dan hingga saat ini .

Jelang 20 hari masa tahanannya berakhir di Polres Sanggau Kamsir akhirnya dititipkan  di LP Sanggau sesuai dengan surat Perpanjangan Penahanan Nomor :                                          Tap-36/Q.1.14.3/Ep.1/04/2015 yang ditanda tangani Jaksa Pratama Ade Ibnu B.Syuhada,SH,MH pada tanggal 08 April 2015.

Dari Hasil Investigasi Kepala Penelitian dan Pengembangan Lembaga Investigasi Pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia DPD  (LIP-NKRI) Kalimantan Barat Budhi Gautama selama 4 hari berserta Media Berita Investigasi Nasional dilapangan, mendapatkan beberapa poin dugaan penyimpangan prosedur diantaranya :

Diman orang tua Kamsir dan Firman menjelaskan, “sudah beberapa kali ia medatangi pihak Polres Sanggau meminta keadilan agar Laporan anaknya ditindaklanjuti dengan memangil para saksi untuk diambil keterangannya terkait kasus ini, namun apa hasilnya sampai sekarang sudah hampir 2 bulan anak saya melapor, tetapi pelaku pemukulan (PI) saat ini masih berkeliaran bebas tanpa diproses sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku”. Sampai saat ini tidak ada realisasinya dan terkesan masalah ini mengambang ditempat dan kabur. Bahkan, tak seorangpun saksi dipanggil petugas untuk dimintai keteranganya, apalagi untuk meringkus tersangkanya. Tak tahu harus mengadu kemana lagi, akhirnya keluarga korban mendatangi DPD Aliansi Wartawan Indonesia (AWI) Kalbar di Jalan Sultan Abdurahman Gedung Pelni No.2 Lantai 2 untuk menyampaikan keluh kesahnya yang diderita sejak kedua anaknya di tahan oleh aparat.

Diman orang tua Korban sedih minta keadilan kemudian diantar dan diarahkan oleh Kepala Biro Media Investigasi Nasional beserta media mendatangi Kabid Humas Polda Kalbar Dra Nowo Winarti pada hari Senin 20 April 2015 diruang kerjanya.Setelah mendengar keluhan dan laporan langsung dari orang tua Kamsir dan Firman, akhirnya Bu Nowo menyarankan kepada pak Diman untuk menyurati langsung Pengawas Penyidik Polres Sanggau/Wasidik untuk menyanyakan sejauhmana Kinerja penyidik dilingkungan Polres Sanggau terkait kasus yang menimpa kedua anaknya.Diakhir pertemuan tersebut pak Diman meminta kepada pihak kepolisian khusunya Bapak Kapolda Kalimantan Barat agar kasus yang dialami kedua anaknya segera diproses secara adil dan bijaksana ” Harapnya.

Ketika di Konfirmasi via telepon Kapolsek Meliau AKP. Hadiryaman, SH. Mengatakan, “ kita ketemu di Polres Sanggau aja”, saat tim wartawan tiba di Polres ingin menemuinya untuk mengkonfirmasi tentang kasus pemukulan tersebut, beliau sudah tidak berada di Polres Sanggau dan terkesan menghindar. Saat dihubungi lagi lewat via telepon jam: 14.15 , ia mengatakan ,” kasus Kamsir dan Firman sudah ditangani oleh Kapolres, tanya saja sama dia.” Hal ini terkesan Kapolsek Meliau AKP. Hadiryaman, SH menghindar dan Lempar tanggung jawab, 15/04 -15.

Selanjutnya tim Investigasi menemui KBO Reskrim di ruang kerjanya membenarkan tentang penahanan saudara Kamsir dan firman di Polsek Meliau dan dilimpahkan ke Polres Sanggau, “berkas perkaranya sedang kami persiapkan untuk dikirim ke Pengadilan,” ungkap Aiptu. Yep Saefullah petugas penyidik Reskrim Unit 1. Saat wartawan menanyakan lagi , “ Apakah pihak Polsek dan Polres sudah mengadakan gelar perkara ,itu kewenangan Kapolres” ungkap Sapja petugas Reskrim Polres Sanggau.

Sementara Ade Ibnu B.Syuhada,SH.M.H, ketika tetemui di kantor Kejasaan Negeri Sanggau, membenarkannya berdasarkan surat perintah penunjukan Jaksa Penuntut Umum baru masuk SP 16, Perkembangan Penyidikan Perkara tindak pidana Nomor : Print.304/Q.1.14/Epp.1/04/2015, saat itu juga beliau langsung menghubungi Via Telp ke Penyidik Polres, Yeb Syaifullah, Yeb Syaifullah mengatakan bahwa, berkas perkara baru akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri pada hari Senin 21 April 2015.

Selanjutnya Sofyan, SH selaku pengacara dari pihak Kamsir dan Firman saat ditemui dikantornya yang beralamat di Jalan Prof. DR. M. Yamin Kel. Kota Baru, Kec. Pontianak Selatan mengatakan, “ Pihaknya sebelumya juga pernah mengajukan surat Permohonan Pengguhan/Pengalihan Penahanan pada tanggal 6 April 2015 kepada pihak Polres Sanggau, namun ditolak tanpa ada alasan yang jelas.

Tidak hanya itu kami juga sudah melayangkan surat resmi ke pihak Polres Sanggau untuk meminta perlindungan sekaligus keadilan hukum, sehubungan dengan adanya dugan Tindak Pidana secara bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang atau barang sebagaimana yang diatur Pasal 170 KUHP Jo tindak Pidana Penganiayaan Pasal 351 KUHP Jo Pasal 55 KUHP atas nama Pelapor Kamsir Bin Diman yang diduga dilakukan oleh Edi Syahrial Alias Pak Itam, cs terhadap klien kami yang hingga saat ini tidak berjalan sebagaimana mestinya”.

“Karena pihak Polres tidak pro aktif dan merespon laporan yang dilaporkan oleh klien kami dengan Nomor : LP/79/III/2015/Kalbar/Sgu/Sek Mlu pada Tanggal 22 Maret 2015, maka pihak kami melayangkan surat resmi kepada Ketua Komisi III DPR-RI,Kapolri,Kompolnas-RI, Kapolda Kalbar,Irwasda Polda Kalbar, Kabid.Propam Polda Kalbar, Direktur Kriminal Umum Polda Kalbar, Kabid Itelkam Polda Kalbar Komnas HAM Perwakilan Kalbar dan instansi terkait , yang menjadi tanda tanya mengapa hasil Visum Et Revertum klien kami atas nama Kamsir Bin Diman tidak diberikan kepadapihak kami, bukan hanya itu proses pengambilan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terhadap terlapor Edi Syahril Alias pak Itam, cs hanya dilakukan dengan cara mengadopsi Berita Acara Pemeriksaan”, kata Sofyan,SH selaku pengacara dari pihak Kamsir dan Firman.

Sofyan,SH selanjutnya juga mengatakan, “ Bahwa klien kami juga sebagai terlapor dalam perkara yang sama saat ini telah ditahan oleh penyidik Polres Sanggau dengan Nomor : SP-HAN/05/III/2015/RESKRIM Tanggal 22 Maret 2015.

Guna mendapatkan Kepastian hukum dan keadilan, maka kami minta kepada Kapolres Sanggau segera melakukan pemeriksaan sekaligus melakukan penahanan terhadap pelapor Edi Syahril Alias pak Itam, cs sebagaimana yang dilakukan terhadap klien kami dalam perkara yang sama”.

Ditempat terpisah Ketua Lembaga  Penyelidikan Pemantauan Pemberatasan Korupsi (LP3K RI) Syarif Ahcmad Hasyim BI menegaskan dan mengatakan “ Bahwa berdasarkan hasil investigasi di lapangan, diduga kuat mengarah ke indikasi  kesalahan prosedur dari proses awal penangkapan, pertanyaannya apakah pihak Polsek meliau dan Polres Sanggau telah melaksanakan tugasnya sesuai dengan SOP Protap maupun prosedur yang ada di tubuh Polri”.

“Sebagai warga Negara Indonesia yang mempunyai hak yang sama di mata hukum berhak untuk mendapatkan keadilan, kami minta kepada Kapolsek Meliau dan Kapolres Sanggau segera menangkap pelaku penganiayaan pemukulan terhadap Kamsir yang dilakukan pak Itam, CS, demi tegaknya hukum di Negara ini”, tegasnya.

Hingga berita ini di turunkan pelaku dan pelapor pak Itam saat dikonfirmasi via hp seluler dan sms tidak menjawab dan membalas, sedangkan Kapolres Sanggau masih tidak dapat dihubungi dengan alasan sibuk dan tidak ada di tempat.(Bhudi)/Tim

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *