Kasus “KOBOI” Pangeran Kubu Raya Senyap Tak Berbekas

Sunarso : “Bupati Rusman Ali diminta adil dan bijaksana”

KUBU RAYA, POSTKOTA PONTIANAK. COM-Tindak lanjut kasus dugaan pemukulan yang lakukan oleh Noval, putra mahkota  Bupati Kab. Kubu Raya terhadap Ari Yanuarif, Kepala Dinas Cipta Karya dan Kebersihan Kubu Raya bak hilang ditelan bumi, tanpa penyelesaian yang jelas. Padahal dengan kejadian memalukan diajang MTQ  tingkat provinsi itu semestinya dapat diproses secara hukum hingga sangsi moril.
 
(ILUSTRASI./IST)
(ILUSTRASI./IST)

Akibatnya muncul tudingan miring dari publik kepada H. Rusman Ali, sebagai Bupati Kubu Raya sekaligus orang tua Noval dan sekaligus atasan Ari Yanuarif.

 
Berkaitan  dengan itu, Sunarso salah satu Tokoh Pemuda Sungai Raya angkat bicara. Kepada media ini dia menyatakan rasa kecewanya dengan sikap Bupati Rusman Ali dan sekaligus orang tua Noval, karena hingga saat ini belum ada permintaan maaf kepada warga Kabupaten Kubu Raya dari kedua belah pihak.
 
Sedangkan kejadian tersebut sungguh telah mencoreng kewibawaan pejabat yang sedang melaksanakan tugas di pemerintahan Kabupaten Kubu Raya ini. Ibarat kata “mentang-mentang anak bupati yang punya uang berpeti-peti sehingga berbuat seenaknya. Sampai-sampai kasus tersebut tidak tersentuh hukum. Jadi patutlah hingga beberapa bulan ini kasus itu sepi,” sindir Sunarso.
 
Tapi setidaknya lanjut Narso, Bupati Rusman Ali mestinya bijak dan adil serta tidak tebang pilih dalam menyikapi kasus ini sehingga masyarakat Kabupaten Kubu Raya bangga dengan kepemimpinan beliau sebagai atasan maupun sebagai orang tua. Kalau didiamkan seperti sekarang ini tentu menjadi buah bibir yang ironis, miris, tragis dan bengis dari berbagai kalangan, khususnya di Kabupaten Kubu Raya. “Alangkah bijaknya jika Bupati Rusman Ali dapat memberikan contoh kepemimpinan dan sekaligus orang tua yang baik kepada masyarakatnya, bukan contoh buruk, mentang-mentang sedang  berkuasa,” koarnya.
 
Ari Yanuarif, Kepala Dinas Cipta Karya dan Kebersihan Kab Kubu Raya yang dalam hal ini sebagai korban, sudah jelas di mata publik dianggap pengecut dan memberi malu kewibawaan para pejabat yang ada di KKR. Karena mungkin Ari, sayang dengan jabatannya atau ada kartu AS yang di pegang oleh Bupati Kubu Raya sehingga tidak berani melapor. “Namun janganlah sang Bupati ikut-ikutan juga jadi pengecut dan tidak bijaksana. Tolong pikirkanlah nama baik dan etika serta kewibawaan para pejabat Kubu Raya karena masa jabatan bupati terbatas dan belum tentu dalam periode yang akan datang bisa menjabat lagi, sehingga perbaikilah sebelum menjadi kenangan yang buruk bagi masyarakat Kubu Raya,” tandas Narso. (Hel/Kli)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *