Judi, Mabuk, Bukan Budaya Naik Dango

NGABANG, POSTKOTAPONTIANAK.COM – Naik Dango adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang diperoleh. Naik Dango sebagai ungkapan rasa syukur juga memuat unsure budaya yang patut dilestarikan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “ Jadi tidak benar kalau judi dan mabuk-mabuk itu bagian dari acara Naik Dango, ” tegas Yohanes, Kepala Desa Hilir Kantor Kecamatan Ngabang, (27/4/2017).

( Yohanes./ dan )

Dikatakannya, unsure budaya yang dilestarikan itu adalah diantaranya ngawah, barimah, panen padi, naikan padi ke dango, tarian adat, permainan rakyat. Ungkapan syukur disampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa , agar hasil panen yang di dapat menjadi berkah bagi keluarga dan warga sekitarnya. Dan berharap untuk tahun depan dapat memperoleh hasil yang lebih sehingga hidup dapat berkecukupan. “ Jadi sangat mulia sekali pesan yang disampaikan dalam acara Naik Dango ini. Untuk itu jangan dikotori  dengan judi dan mabuk-mabukan karena hal itu sudah bertentangan dengan ritual adat Naik Dango dan bertentangan  dengan Peraturan Pemerintah dan uu  RI, ” ucap Yohanes.

Yohanes mengingatkan, kita tidak perlu berdebat sesama kita, namun yang harus disadari bahwa judi dan mabuk-mabukan bukan merupakan budaya Naik Dango. Hal itu harus kita pahami dengan benar secara bijaksana.

“ Saya melihat pelaksanaan budaya Naik Dango ini dari tahun ke tahun berjalan dengan baik. Dan kita berharap agar event Naik Dango ini bisa menarik minat pelancon local maupun manca Negara.  Untuk hal tersebut saya mengajak, mari kita kemas event Naik Dango menjadi lebih menarik, menjadi salah satu asset wisata di Kabupaten Landak, “ harapnya (dan).

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *