Jaga diri dari pergaulan negatif

POSTKOTAPONTIANAK.COM

SEKADAU-Terlihat di sekitar kawasan kota Sekadau, sangat mudah ditemui tempat penginapan alias kos-kosan, bahkan usaha indekos mulai menjamur sejak pemekaran Kabupaten. Bagi yang punya modal melirik indekos sebagai suatu usaha yang menjanjikan. Kos tersebut dilengkapi, fasilitas yang disediakan agar dapat mengundang minat pengguna jasa indekos.

salah satu kost.(yahy)Kos-kosan atau indekos merupakan salah astu alternatif hunian bagi warga yang belum memiliki tempat tinggal permanen. Umumnya, yang menjadi penghuni kos didominasi kalangan pelajar yang bersekolah di kota. Selain biaya sewa yang relatif murah dibanding rumah kontrakan, indekos juga mudah ditemukan. Hampir di setiap gang selalu tersedia bangunan indekos.

Sayangnya, setelah transaksi sewa-menyewa antara pemilik dan penghuni deal, seolah semuanya hanya sampai disitu. Pemilik seperti tidak peduli dengan tindak-tanduk penghuni yang mayoritas merupakan kalangan pelajar. Pokoknya, akhir bulan tahu bayar.

Kurangnya pengawasan dari pemilik membuat indekos jadi mirip seperti pasar, siapa saja bebas masuk. Para pelajar yang sedang dalam masa puber dapat dengan leluasa beraktivitas di indekos masing-masing. Mulai berteman hingga “diapelin” pacarnya.

Memang demikian adanya. Faktanya, angka hamil diluar nikah yang melibatkan kalangan pelajar masih tinggi. Ini didukung angka putus sekolah yang juga tinggi. Penyebab angka putus sekolah didominasi perkawinan usia dini.

Berdasarkan pengalaman salah seorang mantan penghuni indekos yang kini sudah berstatus sebagai ibu rumah tangga, ia mengakui jika kehidupan di indekos sangat bebas. Rekan-rekan, pria maupun wanita, bisa berkunjung kapan saja, siang ataupun malam.

“Tergantung kita bisa menahan diri atau tidak. Yang pasti kita bebas bergaul. Yang punya kos rumahnya jauh, jadi jarang datang. Datang-datang pun nagih uang kos, setelah itu pergi lagi. Paling-paling mengingatkan supaya indekos dibersihkan,” ujar wanita yang harus putus sekolah tak lama jelang UN SLTA ini.

Terlepas dari faktor lain, indekos yang kurang pengawasan memang sedikit banyak berdampak akan hal ini. Akan berbeda jika indekos-indekos dilengkapi dengan pengawasan yang ketat bagi penghuninya, khususnya kos wanita.

Menurut sumber tersebut, para penghuni indekos umumnya tidak diikat aturan-aturan yang diterapkan oleh pemilik kos. Memang ada sebagian jasa indekos yang memberlakukan jam malam bagi penghuninya. Namun, karena kurang diawasi, jam malam tinggal jam malam. Tak ada yang tahu kalau ada yang melanggar.

Ini diperparah dengan jarangnya kunjungan orang tua ke indekos. Menurut sumber, semasa tinggal di kos, orangtuanya jarang datang. Maklum saja, jarak antara kampung halaman menuju Sekadau cukup jauh. “Orangtua jarang datang, paling-paling nelpon. Memang semua salah kita sendiri, sekarang baru menyesal tidak menyelesaikan sekolah,” katanya menyesal.

Diakui atau tidak, jasa indekos yang kian menjamur cukup berpengaruh dalam tingginya angka putus sekolah dan perkawinan usia dini. Hal ini tentu bukan satu-satunya faktor. Pergaulan bebas dan perkembangan teknologi juga turut berpengaruh.

Namun, jika saja pengawasan di indekos diterapkan dengan ketat, mungkin akan berbeda. Disamping itu, peran aktif orangtua dalam membimbing dan memonitor pergaulan anak-anaknya yang tinggal di indekos juga dibutuhkan, minimal mengingatkan anaknya agar menjaga diri dari pergaulan yang negatif.(Yahya PKP)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *