Jadi Wartawan Harus Paham KEJ

Teks foto : Ilustrasi gambar kamera
Teks foto : Ilustrasi gambar kamera

POSTKOTAPONTIANAK.COM ! PONTIANAK – Peran perusahaan pers, baik media cetak, elektronik maupun online, saat ini masih belum menyentuh pada Kode Etik Jurnalistik  (KEJ) serta masih jauh terbelenggu dari kemerdekaan pers yang sesungguhnya.

Dalam kontek nyata, pers di era saat sekarang ini masih jauh dari kata kebebasan pers dan jika mengacu pada jalur KEJ, perusaahn pers saat ini masih belum bisa menjadikan KEJ sebagai pilar utama di dalam menjalankan peran jurnalistik.

Jika mengakar dari persolaan tersebut, yang mana saat ini tidak sedikit persoalan pelanggaran kode etik terus menguak. Selain itu kemerdekaan pers juga masih terhimpit pada kerasnya kejahatan terhadap pers, yang mana setiap saat selalu mengintai para insan pers di dalam menjalankan tugas.

Tak pelak, merujuk dari persoalan demi persoalan yang saat ini terus dihadapi oleh insan pers. Dewan Pers dan Lembaga Pers Dr. Soetomo selalu menggelar Lokakarya Kode Etik Jurnalistik, diseluruh provinsii yang dikhususkan kepada para pelaku media, pengolah berita serta para wartawan yang berkecimpung langsung dilapangan.

Dalam lokakarya Kode Etik Jurnalististik yang selalu digelar Dewan Pers, para insan pers dibimbing oleh para tokoh-tokoh pers yang telah jauh berkutat pada sepak terjang dunia jurnalistik. Lokakarya tersebut lebih bertujuan untuk menjadikan para jurnalis yang memiliki kompetensi baik dan tetap mengarah pada kode etik.

“Pers yang ada saat ini masih jauh dari kompetensi baik dan masih banyak pula pelanggaran terhadap kode etik jurnalistik, selain itu kebebasan pers juga masih belum dapat dirasakan dengan bebas dan sebebas-bebasnya, “ ucap tokoh pers nasional, Sabam Leo Batubara di Pontianak.

Menurutnya, untuk mewujudkan kemerdekaan pers yang professional maka harus ada standar yang kuat untuk menjadi pedoman bagi perusahaan pers dalam berlandasan. “Kita berharap pers mampu menjalankan fungsi sebagai media informasi, pendidik dan control social, yang tetap mengacu pada kebebasan pers dan KEJ, “ katanya.

Ditempat yang sama, tokoh pers nasional T.D Asmadi mengatakan saat ini banyak pelaku media yang masih jauh melenceng dari bahasa berita yang benar dalam penggunaan ejaan yang benar Bahasa Indonesia. Dimana menurutnya, tidak jarang tulisan dalam kalimat disetiap berita terkadang sulit untuk diterna oleh si pembaca, bahkan tidak sedikit pula ejaan bahasa yang digunakan salah dalam penulisannya.

“Peran pers harus berperan untuk mencerdaskan masyarakat dari bahasa, dimana pers harus bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Untuk itu wartawan harus mencintai bahasa, dimana untuk saat ini masih banyak kalimat-kalimat yang salah dalam ejaan yang sebenarnya dan kesalahan itu terjadi hampir diseluruh koran yang ada di Indonesia, “ tukasnya mengakhiri./DEV

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *