Investasi Pendawa Dianggap Telah Menyalahi Aturan

Kepala Kanwil Kemenag Jabar : Waspadai Investasi Bodong

DEPOK – POSTKOTAPONTIANAK.COM ! Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, H.A Buchori membenarkan, bahwa akibat banyaknya bermuculan lembaga keuangan yang menawarkan bunga atau keuntungan  menggiurkan di atas bunga bank, menjadikan masyarakat ikut bergabung. Namun, perlu diwaspadai bahwa lembaga keuangan tersebut bagian dari investasi bodong yang berujung merugikan masyarakat.

Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat. /faldi
Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat. /faldi

“Maka dari itu pihaknya telah melakukan MoU dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam pemberantasan  dalam investasi bodong. Selain itu juga kita segera menurunkan penyuluh agama untuk terjun ke masyarakat dalam rangka mensosialisasikan waspadai investasi bodong. Tentunya, para penyuluh ini  akan menjalani pelatihan atau TOT terlebih dahulu,”ujarnya kepada wartawan Kamis (28/7/16), di kediamannya.

Buchori menjelaskan, bahwa pihak OJK menggandeng Kementerian Agama dalam upaya memperluas cakupan pemberantasan investasi bodong. Pasalanya, banyak lembaga keuangan investasi bodong yang memanfaatkan para tokoh agama menjadi anggota. Salah satu tujuannya, meyakinkan dan menarik  para konsumen untuk menyimpan dananya. Untuk itu, pihaknya akan memaksimalkan peran penyuluh yang akan terjun ke masyarakat tingkatan paling bawah. Selain itu  bunga di bank sebesar 6 % dan paling tinggi di banding negara lain. Namun, lanjutnya, banyak dijumpai adanya investasi yang berani menawarkan dan memberikan jaminan bunga simpanan tiap bulan 10 %.

“Dari sisi agama sudah jelas tidak bisa dibenarkan, apalagi  dalam aturan UU sudah menyalahi. Kondisi seperti ini yang perlu disadarkan masyarakat agar tidak masuk dalam investasi bodong. Bayangkan saja, dengan bunga sebesar itu, cukup menaruh uangnya tinggal ongkang-ongkang kaki terima bulanan tanpa harus bekerja dapat uang banyak,” jelas Wakil Bendara PC NU Depok ini.

 Menurutnya, bahwa  OJK mencatat sedikitnya ada 626 lembaga keuangan investasi bodong secara nasional. Bahkan, lanjutnya, perputaran uang uang dalam investasi bodong tersebut selama satu bulan sebesar Rp 2,7 trilyun. Bentuk dari lembaga keuangan tersebut banyak sekali seperti menamakan diri dengan koperasi, investasi, bahkan travel Umroh murah dan lainnya.  Ia mencontohkan, ada travel yang menjanjikan memberangkatkan Umroh dengan hanya membayar Rp 15 juta. Padahal, imbuhnya, untuk biaya keberangkatan pulang pergi saja ke tanah suci menghabiskan Rp 16 juta. Menurutnya, bentuk seperti ini jelas tidak bisa dibenarkan.

“Jadi, cirri-ciri investasi bodong itu kalau ada yang memimnjamkan seperti rentenir bunganya di atas bank pada umumnya patut dicurigai. Selain itu, untuk mengiming-imingi konsumen dengan memberikan hadiah menarik berupa mobil dan lainnya. Dalam menjalankan aktifitasknya menggunakan para tokoh agama, ini juga terjadi di Depok, Cirebon dan lainnya,” tutur Buchori.

Buchori mengingatkan, bahwa sebelumnya diinformasikan, Majelis Ulama Indonesia (MUI)  Kota Depok telah mengeluarkan fatwa  haram bagi koperasi Pandawa. Banyak masyarakat yang menginvestasikan dananya di koperasi Pandawa dikarenakan mendapatkan bunga 10 persen tiap bulan dan hadiah mobil.

“Untuk itu pihaknya bersama dengan OJK akan turun ke daerah dalam pengawasan keuangan. Sebab, dalam pengelolaan keuangan tersebut dianggap telah menyalahi aturan,” imbuhnya.(Faldi/Sudrajat)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *