Inikah Perlakuan Khusus PDIP Kepada Jokowi

BALI – Ini yang menarik dari Kongres IV PDI Perjuangan yang digelar di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Denpasar-Bali, selama dua hari (8-9 April 2015). Pertama kongres partai Banteng Moncong Putih itu hanya untuk mengukuhkan kembali Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum DPP PDIP periode 2015-2020 mendatang.

Jokowi.(Foto:Dok. /Radar Indonesia News)
Jokowi.(Foto:Dok. /Radar Indonesia News)

Artinya apa? Di kongres tersebut tidak ada lagi diskusi maupun pengambilan keputusan mengenai perbagai masalah termasuk debat para calon kandidat ketua umu, karena memang sudah tidak ada yang berani maju untuk bertarung dengan putri Proklamator RI Soekarno, yakni Megawati.

Keputusan untuk mengukuhkan kembali Megawati tersebut masih sama dengan hasil rapat kerja nasional PDIP yang digelar di Semarang tahun 2014 lalu, yang meminta agar si ‘Ibu’ bersedia kembali menjadi ketua umum. Yang ini (Megawati kembali pimpin PDIP) sudah bisa ditebak jauh-jauh hari.

Tapi bagaimana dengan kehadiran Jokowi, Jusuf Kalla bersama sejumlah jajaran menteri Kabinet Kerjanya hingga Pimpinan MPR dan sejumlah petinggi partai politik di kongres itu? Ternyata, Jokowi mendapat perlakuan khusus dari panitia kongres.

Apa perlakuan khusus untuk Jokowi itu? panitia kongres mengundang Jokowi bukan dalam kapasitas sebagai Presiden melainkan adalah kader PDIP sendiri atau yang sering disebut ‘petugas partai.’

Sebagaimana disampaikan sebelumnya oleh anggota Steering Committee Kongres IV PDIP Ahmad Basarah bahwa Jokowi diundang hadir di kongres dalam kapasitas kader partai yang bertugas di lembaga eksekutif saat ini.

Untuk membuktikan kalau Jokowi itu diundang hanya sebagai sebagai kader partai biasa, bisa dilihat dari cara dan sikap panitia yang memperlakukan Jokowi sejak datang ke arena kongres.

Panitia sepertinya punya aturan tersendiri, sehingga tidak mengindahkan aturan protokoler Negara dalam menyambut Jokowi yang sebenarnya adalah seorang Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan.

Jokowi yang di mata Megawati sebagai ‘petugas partai’ itu mendapat perlakuan istimewa yakni cukup berjalan di belakang mengikuti Megawati di depan-nya. Juga tidak mendapat penghormatan layaknya presiden yang dalam setiap undangan diberi kesempatan menyampakan kata sambutan atau pidato. (Aldo)BBc/R-I

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *