Ibu Guru Kreatif dari Gonis Tekam

(POSTKOTAPONTIANAK.COM)

Lorenpina pengerajin anyaman.(foto yhy-PKP)
Lorenpina pengerajin anyaman.(foto yhy-PKP)

SEKADAU-Telaten : Dengan teliti, Lorenpina menganyam simpak menjadi capan, takin ataupun jarai. Keterampilan yang ia milili didukung bahan dasar yang relatif masih gampang dicari layak ditiru oleh generasi muda agar anyaman khas Sekadau tidak punah di kemudian hari. Ubah Simpak jadi Anyaman bernilai Sekadau-Lorenpina, ibu rumah tangga berusia (53) tahun tampak sibuk merapikan sebuah capan (sejenis alat penampi padi).

Jari-jemarinya terlihat terampil kala menganyam tanaman sumpak menjadi peralatan rumah tangga.

Ibu tiga anak asal Nanga Ansar, Kecamatan Belitang itu tersenyum ramah saat mendapat kunjungan wartawan di kediamannya di Dusun Gonis Tekam, Kecamatan Sekadau Hilir. Sambil meneruskan aktivitasnya, Loren mengisahkan keterampilan menganyam sudah dipelajarinya sejak kecil. “Dari kecil sudah bisa menganyam, belajar dari orangtua,” kisah Loren.

Untuk mengubah simpak menjadi perabotan rumah tangga seperti takin, jarai, maupun capan, prosesnya tidaklah gampang. Simpak yang sudah dibersihkan harus dijemur terlebih dahulu dibawah panas matahari minimal satu hari. Jika sudah kering, barulah simpak bisa diolah.

“ Kalau tidak dijemur nanti bahannya gampang rusak. Makanya harus dijemur dulu sampai kering,” tutur Lorenpina. Selain simpak, Loren juga biasa menggunakan bahan dasar bambu dan rotan. Bahan-bahan tersebut saat ini relatif masih mudah dicari di sekitar tempat tinggal Loren.

Namun, kegiatan menganyam hanya dilakukan Loren untuk mengisi waktu senggang saja, bukan sebagai sumber penghasilan. Profesinya sebagai guru di SDN Gonis Tekam cukup menyita waktu. Alhasil, hanya sedikit waktu yang ia punya untuk menjalankan hobinya itu.

“Paling kalau lagi santai. Biasanya juga kalau ada pesanan dari teman,” beber Loren.

Pesanan perabotan hasil kerajinan tangan yang datang ke Loren pun cukup banyak. Umumnya, pemesan adalah ibu-ibu rumah tangga di wilayah Gonis Tekam serta rekan-rekan sesama guru. Soal harga, Loren tidak mematok.

“Biasanya dikasi 50 ribu sampai seratus ribu. Tergantung teman kasi berapa,” ucapnya. Keterampilan dan kreativitas Lorenpina layak dicontoh, utamanya oleh generasi muda. Ini penting agar produk anyaman khas daerah tidak punah di kemudian hari. Lagipula, menganyam relatif tak begitu sulit dan bahan dasarnya masih mudah dicari.

“Mudah-mudahan ada yang berminat meneruskan melestarikan anyaman asli Sekadau seperti saya. Jangan sampai anak cucu kita nanti tidak kenal yang namanya capan ataupun takin,” harap Lorenpina. (Yahya/PKP)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *